Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang Menjaga Sehat Sejak Muda agar Bahagia di Masa Tua. Sebuah kisah nyata yang dituliskan Oleh: Dr. Wijaya Kusumah (Omjay) untuk kompasiana.
"Sehat itu mahal." Kalimat itu sering kita dengar, tetapi baru benar-benar terasa ketika tubuh mulai memberi tanda-tanda bahwa usia tidak lagi muda. Saya merasakan sendiri bagaimana nikmatnya kesehatan baru benar-benar disyukuri setelah pernah diuji dengan sakit. Pengalaman itulah yang membuat saya semakin yakin bahwa menjaga kesehatan bukanlah pilihan, melainkan sebuah kewajiban yang harus dimulai sejak hari ini.
Sebagai seorang guru, saya sudah mengabdi lebih dari tiga dekade. Setiap hari saya berdiri di depan kelas, mengajar, membimbing siswa, menulis artikel, menjadi narasumber pelatihan, hingga melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Semua aktivitas itu membutuhkan tubuh yang sehat. Saya pernah mengalami diabetes, hipertensi, bahkan sempat mengalami gangguan kesehatan yang membuat saya harus dirawat di rumah sakit. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih penting daripada menjaga kesehatan diri sendiri.
https://youtu.be/AfFuYVJ1Nl4?si=u2RnhqSNLZchNN8L
Ketika melihat sebuah poster berjudul "Tips Masa Tua Agar Tidak Sakit-sakitan dan Awet Muda", saya tersenyum. Sebagian besar isi poster itu ternyata sejalan dengan perubahan gaya hidup yang sedang saya jalani. Saya pun ingin membagikan pengalaman ini agar semakin banyak orang bisa menikmati masa tua yang sehat, aktif, dan bahagia.
Perubahan pertama yang saya lakukan adalah memperbanyak minum air putih. Dahulu saya sering menikmati minuman manis ketika sedang lelah mengajar atau menulis. Namun dokter mengingatkan bahwa tubuh lebih membutuhkan air putih daripada minuman dengan tambahan gula. Kini saya selalu membawa botol minum ke mana pun pergi. Kebiasaan sederhana ini ternyata membuat tubuh terasa lebih segar dan membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali.
Kebiasaan berikutnya adalah menikmati sinar matahari pagi. Saat berangkat menggunakan transportasi umum menuju sekolah, saya sering berjalan kaki beberapa ratus meter sambil menikmati hangatnya matahari pagi. Udara yang masih segar membuat pikiran lebih jernih. Sinar matahari pagi juga membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang penting bagi kesehatan tulang dan daya tahan tubuh. Tentu saja, paparan sinar matahari sebaiknya tidak berlebihan dan dilakukan pada waktu yang tepat.
Saya juga mulai membiasakan diri berjalan kaki lebih banyak. Dulu saya sering memilih kendaraan meskipun jaraknya dekat. Kini saya lebih senang berjalan kaki menuju stasiun LRT, naik tangga jika memungkinkan, dan bergerak lebih aktif. Jalan kaki merupakan olahraga murah yang hampir bisa dilakukan siapa saja. Tidak perlu alat mahal, tidak perlu menjadi atlet, cukup meluangkan waktu sekitar tiga puluh menit setiap hari. Sedikit demi sedikit, kebiasaan ini memberikan manfaat besar bagi kesehatan jantung dan kebugaran tubuh.
Pola makan pun saya ubah. Makanan instan yang dulu sering menjadi pilihan praktis kini saya batasi. Saya lebih memilih makanan rumahan yang dimasak dengan bahan-bahan segar. Istri saya juga banyak membantu menyiapkan menu sehat sehingga kami dapat saling mengingatkan. Saya menyadari bahwa kesehatan keluarga dimulai dari dapur rumah.
Buah menjadi sahabat baru dalam menu harian saya. Pepaya adalah salah satu buah favorit karena mudah didapat, rasanya enak, dan kaya serat. Selain pepaya, saya juga menikmati pisang, apel, atau buah musiman lainnya. Buah membantu melancarkan pencernaan sekaligus memenuhi kebutuhan vitamin yang diperlukan tubuh.
Sayuran hijau juga semakin sering hadir di meja makan. Daun kemangi, bayam, kangkung, sawi, hingga brokoli menjadi pilihan yang lezat sekaligus menyehatkan. Dahulu saya sering menganggap sayuran hanya sebagai pelengkap. Sekarang saya justru memastikan setiap kali makan selalu ada sayur. Tubuh terasa lebih ringan dan proses pencernaan menjadi jauh lebih baik.
Saya juga berusaha mengurangi konsumsi gula dan garam. Ini memang tidak mudah karena lidah sudah terbiasa dengan rasa manis dan gurih. Namun sedikit demi sedikit saya belajar mengurangi takaran gula dalam minuman dan membatasi makanan yang terlalu asin. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih baik daripada perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari.
Makanan yang digoreng juga mulai saya batasi. Sesekali tentu masih boleh menikmati gorengan, tetapi tidak lagi menjadi makanan sehari-hari. Saya lebih memilih makanan yang direbus, dikukus, atau dipanggang. Tubuh terasa lebih ringan dan kadar kolesterol pun lebih mudah dikendalikan.
Dalam poster tersebut juga terdapat anjuran untuk mengatur waktu makan dan membatasi makan pada malam hari. Pola seperti ini memang banyak diterapkan oleh sebagian orang sebagai bentuk pengaturan waktu makan. Namun perlu diingat bahwa kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Yang paling penting adalah menjaga pola makan yang seimbang, tidak berlebihan, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki penyakit tertentu seperti diabetes atau gangguan lambung.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah tidur yang cukup. Dulu saya sering begadang demi menyelesaikan tulisan. Sekarang saya berusaha lebih disiplin mengatur waktu. Menulis tetap menjadi hobi yang saya cintai, tetapi kesehatan tetap menjadi prioritas. Tidur yang cukup membuat tubuh lebih segar, pikiran lebih fokus, dan semangat mengajar kembali penuh keesokan harinya.
Semua perubahan tersebut tidak langsung memberikan hasil dalam semalam. Dibutuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan kemauan yang kuat. Namun saya merasakan sendiri manfaatnya. Tubuh menjadi lebih bugar, aktivitas mengajar tetap lancar, semangat menulis tidak pernah padam, dan saya masih bisa berbagi ilmu kepada guru-guru di seluruh Indonesia.
Saya sering mengatakan kepada para peserta pelatihan bahwa umur memang tidak bisa kita hentikan, tetapi kualitas hidup di usia tua dapat kita usahakan. Masa tua bukanlah akhir dari produktivitas. Justru banyak karya besar lahir dari orang-orang yang tetap menjaga kesehatan hingga usia senja. Guru yang sehat akan terus mampu mengajar, menulis, menginspirasi, dan menjadi teladan bagi generasi penerus.
Karena itu, mari kita mulai dari langkah-langkah sederhana. Perbanyak minum air putih, rajin bergerak, nikmati sinar matahari pagi secukupnya, makan lebih banyak buah dan sayur, kurangi gula, garam, makanan instan, serta gorengan, dan beristirahatlah dengan cukup. Bila memiliki kondisi kesehatan tertentu, sesuaikan pola makan dan gaya hidup dengan saran dokter atau ahli gizi.
Saya percaya, kesehatan adalah investasi terbaik yang bisa kita berikan kepada diri sendiri dan keluarga. Harta bisa dicari kembali, jabatan bisa berganti, tetapi tubuh yang sehat akan membuat kita tetap mampu berkarya, berbagi, dan menikmati indahnya kehidupan.
Mari kita jaga kesehatan mulai hari ini. Semoga ketika rambut mulai memutih dan usia semakin bertambah, kita tetap dapat tersenyum, berjalan dengan tegap, berkumpul bersama keluarga, bermain dengan cucu, mengajar dengan penuh semangat, serta terus menebarkan manfaat bagi sesama. Sebab, masa tua yang bahagia bukanlah milik mereka yang paling kaya, melainkan milik mereka yang sejak muda setia menjaga kesehatan sebagai amanah dari Tuhan.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru blogger Indonesia
