Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
https://youtu.be/snYBc5rPVlU?si=L1189vtU9iozWi9X
Rumah SOPAN di Bekasi: Ketika Kepedulian Lingkungan Dimulai dari Halaman Rumah
Oleh: Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.)

Di tengah semakin banyaknya persoalan sampah yang menghantui kota-kota besar di Indonesia, selalu ada orang-orang yang memilih untuk tidak sekadar mengeluh, tetapi mengambil tindakan nyata. Mereka tidak menunggu pemerintah bergerak lebih dahulu. Mereka memulai perubahan dari rumah sendiri. Salah satu sosok inspiratif tersebut adalah Pak Sony Teguh Trilaksono yang menggagas Rumah SOPAN di Bekasi, sebuah pusat edukasi lingkungan yang mengajarkan bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana di rumah.
Ketika saya menyaksikan tayangan video tentang Rumah SOPAN di YouTube (https://youtu.be/snYBc5rPVlU?si=L1189vtU9iozWi9X), hati saya benar-benar tersentuh. Video tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah rumah sederhana dapat disulap menjadi pusat pembelajaran lingkungan yang hidup. Rumah SOPAN bukan hanya menjadi tempat tinggal keluarga, melainkan juga menjadi ruang belajar bagi masyarakat, sekolah, komunitas, hingga siapa saja yang ingin memahami cara hidup yang lebih ramah terhadap lingkungan. Saya pun semakin yakin bahwa perubahan besar memang selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan penuh ketulusan dan konsisten.

Sebagai guru, saya percaya pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pendidikan juga hadir melalui teladan. Rumah SOPAN adalah contoh nyata bagaimana sebuah rumah dapat menjadi sekolah kehidupan yang mengajarkan kepedulian terhadap alam, pengelolaan sampah, penghijauan, konservasi, hingga pemberdayaan masyarakat. Apa yang dilakukan Pak Sony Teguh Trilaksono membuktikan bahwa siapa pun dapat menjadi agen perubahan apabila memiliki kepedulian dan kemauan untuk berbagi.
Rumah SOPAN bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Rumah ini telah berubah menjadi laboratorium kehidupan yang mengajak masyarakat memahami pentingnya mengelola sampah sejak dari sumbernya. Sampah dipilah menjadi sampah organik dan anorganik, kemudian diolah sehingga memiliki nilai manfaat. Sampah organik dapat diubah menjadi kompos, sedangkan berbagai sampah lainnya dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang bernilai ekonomi. Pendekatan seperti inilah yang sesungguhnya dibutuhkan Indonesia dalam menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks.
Dari tayangan video tersebut terlihat bahwa Rumah SOPAN tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga praktik nyata. Setiap sudut rumah dimanfaatkan sebagai media edukasi. Tanaman tumbuh subur, lingkungan tampak bersih, dan setiap orang yang datang diajak memahami bahwa menjaga bumi dimulai dari rumah sendiri. Filosofi sederhana ini justru menjadi kekuatan utama Rumah SOPAN. Tidak ada perubahan yang instan, tetapi setiap langkah kecil yang dilakukan setiap hari akan menghasilkan perubahan besar di masa depan.
Sebagai Omjay yang telah lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya melihat Rumah SOPAN memiliki nilai pendidikan yang sangat tinggi. Banyak sekolah sebenarnya dapat menjadikan tempat seperti ini sebagai laboratorium belajar di luar kelas. Anak-anak tidak hanya membaca teori mengenai lingkungan dari buku pelajaran, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana sampah dipilah, bagaimana daun-daun kering berubah menjadi kompos, bagaimana botol bekas memiliki nilai ekonomi, serta bagaimana tanaman dapat tumbuh subur dari hasil pengolahan limbah organik. Pembelajaran seperti inilah yang akan membentuk karakter peduli lingkungan secara nyata.
Saya juga membayangkan apabila setiap RT, RW, sekolah, kantor, bahkan tempat ibadah memiliki satu Rumah SOPAN versi mereka sendiri. Tentu jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir akan jauh berkurang. Udara menjadi lebih bersih, lingkungan menjadi lebih hijau, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pengolahan sampah. Inilah yang disebut perubahan dimulai dari lingkungan terkecil.
Yang membuat saya semakin kagum adalah semangat Pak Sony Teguh Trilaksono yang telah bertahun-tahun mengabdikan dirinya untuk pendidikan lingkungan. Beliau tidak sekadar memberikan ceramah, tetapi memperlihatkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan seperti inilah yang sesungguhnya sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia. Kita memerlukan lebih banyak orang yang bekerja dengan penuh dedikasi sehingga mampu menginspirasi orang lain untuk ikut bergerak menjaga bumi.
Kisah Rumah SOPAN juga mengingatkan saya bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya tugas aktivis lingkungan. Guru, siswa, orang tua, pegawai, pedagang, bahkan anak-anak sekalipun memiliki peran yang sama pentingnya. Ketika setiap orang mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah di rumah, membuat kompos, menanam pohon, dan memanfaatkan kembali barang bekas, sesungguhnya kita sedang menyelamatkan masa depan bumi.
Di era kecerdasan buatan dan teknologi digital seperti sekarang, kita memang semakin mudah memperoleh informasi. Namun teknologi tidak akan banyak berarti apabila tidak dibarengi kepedulian terhadap lingkungan. Rumah SOPAN mengajarkan bahwa inovasi terbaik adalah inovasi yang memberikan manfaat bagi manusia sekaligus menjaga kelestarian alam. Bahkan melalui media digital seperti YouTube, semangat baik ini kini dapat menjangkau masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Saya berharap semakin banyak guru mengajak murid-muridnya menonton video Rumah SOPAN, kemudian mengunjungi tempat tersebut secara langsung apabila memiliki kesempatan. Pengalaman belajar seperti itu tentu akan jauh lebih membekas dibandingkan hanya membaca teori di dalam buku. Anak-anak akan memahami bahwa lingkungan bersih bukan sekadar slogan, melainkan hasil dari kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari.
Semoga gagasan Pak Sony Teguh Trilaksono terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak masyarakat Indonesia. Semoga semakin banyak lahir Rumah SOPAN di berbagai daerah sehingga budaya membuang sampah sembarangan perlahan berubah menjadi budaya mengelola sampah secara bertanggung jawab. Bila perubahan dimulai dari satu rumah, kemudian menyebar ke satu RT, satu RW, satu kelurahan, satu kota, hingga seluruh Indonesia, saya yakin negeri ini akan menjadi tempat tinggal yang lebih hijau, lebih bersih, dan lebih sehat bagi generasi mendatang.
Mari kita mulai dari rumah kita sendiri. Karena menyelamatkan bumi tidak selalu dimulai dengan langkah besar. Terkadang, perubahan terbesar justru berawal dari sebuah rumah yang sederhana, penuh kepedulian, dan menjadi teladan bagi banyak orang. Itulah makna sesungguhnya dari Rumah SOPAN di Bekasi, sebuah rumah yang mengajarkan bahwa cinta kepada lingkungan adalah warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan untuk anak cucu kita.
Video inspirasi Rumah SOPAN Bekasi:
https://youtu.be/snYBc5rPVlU?si=L1189vtU9iozWi9X