Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Satu Foto Keluarga dan Seumur Hidup Kerinduan

5 Juli 2026   13:32 Diperbarui: 5 Juli 2026   13:42 210 9 3

Rumah Kecil yang Selalu Ramai
Masa kecil kami penuh cerita.
Kami pernah berebut tempat tidur.
Berebut lauk favorit.
Berebut saluran televisi.
Bahkan kadang berebut siapa yang harus mencuci piring.

Saat itu kami sering mengeluh karena rumah terasa sempit. Kini justru saya merindukan rumah kecil itu.

Saya rindu suara ayah yang memanggil nama anak-anaknya. Saya rindu ibu yang sibuk di dapur. Saya rindu candaan kakak-kakak dan adik-adik yang memenuhi rumah.

Dulu semua terasa biasa.

Sekarang semuanya menjadi luar biasa karena hanya tinggal kenangan.

Kakak Sulung yang Pulang Lebih Dulu

Di antara kami berenam, kakak sulung, Dodi Achmad Fadillah, adalah sosok yang selalu berusaha menjaga adik-adiknya.

Beliau tidak banyak bicara, tetapi selalu hadir ketika keluarga membutuhkan.

Tak pernah terlintas dalam pikiran kami bahwa beliau akan pergi begitu cepat. Serangan jantung merenggutnya dari tengah-tengah keluarga.

Hari itu menjadi salah satu hari paling berat dalam hidup kami.
Kami hanya bisa mengiringinya dengan doa dan air mata.

Saya masih sulit mempercayai kenyataan bahwa orang yang selama ini bisa kami telepon, kami datangi, dan kami peluk kini telah terbujur kaku.

Kematian memang selalu datang tanpa mengetuk pintu. Kematian tidak menunggu seseorang selesai menyusun rencana. Kematian tidak menunggu anak-anak selesai membalas jasa orang tua. Kematian selalu datang tepat pada waktu yang telah Allah tetapkan.

Satu Liang Lahat, Sejuta Kerinduan

Yang membuat hati kami semakin haru adalah kenyataan bahwa kakak sulung kami dimakamkan di TPU Pondok Malaka, Jakarta Timur, dalam satu liang lahat bersama ayah dan bunda.

Saat berdiri di depan pusara itu, saya merasa seperti sedang melihat kembali perjalanan hidup keluarga kami.

Ayah yang dahulu membimbing kami. Ibu yang dahulu memeluk kami. Kini beristirahat berdampingan dengan anak sulung yang begitu mereka cintai.

Tak ada lagi percakapan. Tak ada lagi tawa.

Yang tersisa hanyalah doa-doa yang terus mengalir dari anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Di situlah saya menyadari bahwa sebesar apa pun cinta kita kepada keluarga, suatu hari nanti semuanya akan kembali kepada Allah.

Warisan yang Tak Pernah Habis

Hari ini kami berenam telah memiliki keluarga masing-masing.

Alhamdulillah, semua anak Achmad Abdullah dan Siti Khodijah telah menikah dan dikaruniai anak.

Kami mungkin tinggal berjauhan.

Kesibukan sering membuat kami tidak bisa berkumpul sesering dulu.

Namun setiap kali bertemu, selalu ada cerita tentang ayah, ibu, dan kakak sulung.

Kami sadar bahwa warisan terbesar yang mereka tinggalkan bukanlah rumah, tanah, atau tabungan.

Warisan terbesar mereka adalah persaudaraan.

Ayah dan ibu mengajarkan bahwa saudara kandung adalah sahabat pertama dalam hidup.

Jangan sampai hubungan itu rusak hanya karena persoalan dunia.

Karena ketika orang tua telah tiada, saudara kandunglah yang akan menjadi tempat berbagi kenangan.

Dari Foto Menjadi Pengingat Kehidupan

Kini foto keluarga itu memiliki makna yang berbeda. Dulu saya melihatnya sebagai dokumentasi. Sekarang saya melihatnya sebagai pengingat.

Pengingat bahwa hidup sangat singkat. Pengingat agar saya lebih sering menghubungi saudara. Pengingat agar saya lebih mencintai keluarga. Pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang akan dipanggil Allah lebih dahulu.

Kalau hari ini kita masih bisa memeluk orang tua, lakukanlah. Kalau hari ini kita masih memiliki saudara, jangan pelit menyapa. Kalau hari ini masih ada kesempatan meminta maaf, jangan menunggu esok. Sebab penyesalan selalu datang ketika kesempatan telah pergi.

Sebuah Doa untuk Mereka yang Kami Cintai

Sebagai anak keempat, saya merasa sangat bersyukur pernah dilahirkan di tengah keluarga sederhana yang penuh kasih sayang.

Saya bangga menjadi anak dari Achmad Abdullah dan Siti Khodijah. Saya bangga memiliki kakak dan adik yang saling menguatkan. Dan saya bangga pernah memiliki kakak sulung seperti almarhum Dodi Achmad Fadillah.

Semoga Allah Swt. mengampuni segala dosa ayahanda Achmad Abdullah, ibunda Siti Khodijah, dan kakak tercinta Dodi Achmad Fadillah.

Semoga Allah melapangkan kubur mereka, menerangi alam barzakh mereka, menerima seluruh amal ibadah mereka, dan mempertemukan kami kembali di surga-Nya yang penuh kenikmatan.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Hari ini saya belajar bahwa foto keluarga bukan sekadar gambar. Ia adalah saksi perjalanan hidup, saksi cinta yang tak pernah habis, dan saksi bahwa waktu terus berjalan.

Maka, selama Allah masih memberi kesempatan, peluklah keluarga kita. Ucapkan bahwa kita mencintai mereka. Luangkan waktu untuk berkumpul. Abadikan setiap momen bersama.

Karena kelak, ketika salah satu dari mereka telah lebih dahulu pulang kepada Sang Pencipta, kita akan menyadari bahwa kenangan adalah harta paling berharga yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2