Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
"Awalnya Omjay Hanya Iseng Jual Buku di Shopee, Sekarang jadi ketagihan deh! Kini Ilmu itu Menjangkau Pembaca dari Sabang sampai Merauke." Dari Rak Buku ke Keranjang Shopee. Inilah Kisah Omjay Menemukan Pembaca di Era Digital melalui marketplace.
"Buku yang baik tidak hanya ditulis dengan hati, tetapi juga harus menemukan jalannya menuju tangan para pembaca."
Kalimat itu terus terngiang di benak saya ketika melihat tumpukan buku yang telah selesai dicetak. Sebagai seorang guru sekaligus penulis, saya selalu percaya bahwa menulis adalah bentuk pengabdian.
Namun, saya kemudian menyadari bahwa perjuangan seorang penulis tidak berhenti saat naskah diterbitkan. Perjalanan sesungguhnya dimulai ketika buku harus bertemu dengan pembacanya.
Kisah Omjay kali ini tentang KATA PENGANTAR buku terbaru Omjay atau Wijaya Kusumah. Kata Pengantar Buku Jangan Matikan Mimpimu Karya Wijaya Kusumah atau Omjay Guru Blogger Indonesia. Tulisan itu Omjay posting di kompasiana kemarin.
Sebuah kisah yang bercerita tentang mimpi-mimpi Omjay yang berwujud nyata setelah banyak menulis setiap hari. https://video.kompasiana.com/wijayalabs/6a67f7f634777c09fa43d452/kata-pengantar-buku-jangan-matikan-mimpimu
Dulu, saya berpikir bahwa menjual buku hanya bisa dilakukan melalui toko buku besar atau pameran seprti dijual di toko buku Gramedia atau pameran buku di JCC Senayan.
Saya menunggu pembaca datang dengan sendirinya. Ternyata, cara berpikir itu harus berubah. Saya melihat pengunjung semakin sepi dan pembelinya juga bisa dihitung dengan jari. Buku-buku saya hanya terpajang rapi di toko buku atau pameran.

Dunia telah bergerak menuju era digital, dan kebiasaan masyarakat pun ikut berubah. Kini, banyak orang mencari buku melalui ponsel mereka. Cukup mengetik judul di Shopee atau marketplace lainnya, lalu dalam hitungan menit buku sudah masuk ke keranjang belanja.
Awalnya saya merasa ragu. Apakah seorang guru harus belajar berjualan? Bukankah tugas guru adalah mengajar? Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika saya menyadari bahwa menjual buku bukan sekadar mencari keuntungan. Menjual buku berarti memperluas manfaat ilmu agar dapat menjangkau lebih banyak orang.