Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Ketika Omjay Dicela, Saya Memilih Berkaca dan Terus Berkarya

30 Juli 2026   13:00 Diperbarui: 31 Juli 2026   08:43 217 8 5

buku karya Omjay/dokpri
buku karya Omjay/dokpri

Ketika Omjay Dicela, Saya Memilih Berkaca dan Terus Berkarya

Inspirasi Pagi
Kamis, 30 Juli 2026

"Jika orang berkata buruk tentangmu tidak usah galau. Karena sebenarnya mereka tidak berbicara tentang engkau. Mereka sedang memperlihatkan watak mereka sendiri."

Perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa tidak semua orang akan menyukai apa yang kita lakukan. Ada yang memberikan apresiasi dengan tulus, tetapi tidak sedikit pula yang melontarkan kritik yang menyakitkan, bahkan menilai tanpa mengenal siapa diri kita sebenarnya. Disitulah Omjay sadar bahwa kita harus menjaga kesabaran dalam kebenaran.

Dulu, setiap kali mendengar ucapan yang merendahkan, hati saya mudah terluka. Pikiran dipenuhi pertanyaan mengapa masih ada orang yang memilih menjatuhkan sesamanya. Namun, semakin bertambah usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa tidak semua perkataan buruk pantas disimpan dalam hati. Sebagian cukup dijadikan pelajaran agar kita semakin kuat menjalani kehidupan.


Sebagai guru yang telah puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan sekaligus penulis yang hampir setiap hari membagikan tulisan kepada masyarakat, saya merasakan betul bahwa berkarya selalu mengundang beragam tanggapan. Ada pembaca yang memperoleh manfaat lalu mengirimkan doa, ucapan terima kasih, bahkan menjadikan tulisan saya sebagai penyemangat hidup. 

Sebaliknya, ada pula yang memberikan komentar sinis, mengejek, atau meragukan kemampuan saya. Pada awalnya saya mencoba menjawab satu per satu, tetapi akhirnya saya memahami bahwa energi akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk melahirkan karya berikutnya daripada melayani perdebatan yang tidak menghasilkan kebaikan.

Saya teringat sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Ghazali, "Saat satu jarimu menuduh buruk orang lain, maka empat jarimu sedang menuduh buruk pada dirimu." Kalimat sederhana itu memiliki makna yang sangat dalam. 

Ketika seseorang sibuk mencari kesalahan orang lain, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan isi hatinya sendiri. Cara seseorang berbicara sering kali menjadi cermin karakter yang dimilikinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3