Guru di Kota Bekasi yang tertarik menulis di Kompasiana. Penulis reflektif, dan pengamat kehidupan sosial sehari-hari. Menulis bagi saya adalah cara merekam jejak, menjaga kenangan, sekaligus mengolah ulang pengalaman menjadi gagasan yang lebih jernih. Saya tumbuh dari kisah pasar tradisional, sawah, dan gunung yang menjadi latar masa kecil di Cisalak-Subang. Kini, keseharian sebagai guru membuat saya dekat dengan cerita murid, dunia pendidikan, serta perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita. Di Kompasiana, saya banyak menulis tentang: pendidikan yang manusiawi, dinamika sosial budaya, kenangan kecil yang membentuk cara pandang, serta fenomena keseharian seperti kafe, pasar, hujan, dan keluarga. Saya punya prinsip tulisan yang baik bukan hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenung, tersenyum, atau tergerak untuk berubah.
Semoga kita semua bisa belajar untuk lebih menghargai dan peduli pada kehidupan hewan, termasuk kucing-kucing terlantar yang sering kali diabaikan. Sebab cinta sejati kepada anabul bukanlah apa yang kita tampilkan di media sosial, melainkan apa yang kita lakukan ketika tidak ada yang melihat.
Dengan tulisan ini, kami berharap semakin banyak orang yang tersentuh dan tergerak untuk mengambil tindakan nyata karena setiap ekor kucing yang terlantar adalah tanggung jawab kita bersama.
Mari kita ubah fenomena paradoks ini menjadi harapan baru bagi mereka yang tak bersuara, namun tetap setia menunggu uluran kasih di tempat-tempat tak terduga seperti sekolah kami.