Agustina Purwantini
Agustina Purwantini Freelancer

Pada dasarnya full time blogger, kadang jadi editor naskah, suka buku, serta hobi blusukan ke tempat heritage dan unik.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Seorang Opa Ketandan yang Membaca Majalah Cetak

10 Februari 2026   10:27 Diperbarui: 10 Februari 2026   10:27 101 11 4

Seorang Opa dan majalah cetaknya (dokpri Agustina)
Seorang Opa dan majalah cetaknya (dokpri Agustina)


Pagi ini saya (pura-pura) joging dengan seorang kawan. Rute pilihan kami Titik Nol ke utara. Niatnya menyusuri jalan utama Kawasan Malioboro. Eh, sesampainya di depan Teras Malioboro Ketandan kami malah tergoda untuk singgah. 

Ternyata suasana di situ masih teramat sepi. Belum ada lapak penjual yang buka. Yang sibuk baru para petugas kebersihan. Maklumlah masih terlampau pagi. Setelah menikmati air mancur sebentar, kami segera menuju pintu belakang Teras Malioboro Ketandan. 

Begitu keluar pintu, langsung sampailah kami di Kampung Ketandan. Yakni salah satu kawasan pecinan yang ada di Yogyakarta. Di manakah itu posisinya? Tak lain dan tak bukan, posisinya di utara Pasar Beringharjo. 

Lagi-lagi karena masih terlampau pagi, jalanan di situ pun masih relatif lengang. Kendaraan yang melintas ke arah/dari Pasar Beringharjo  belum begitu banyak. Deretan toko emas dan lapak emas kaki lima bahkan belum ada yang buka.

Kami pun bersyukur. Justru di situlah sisi asyiknya. Kami jadi leluasa berjalan kaki tanpa perlu waspada penuh terhadap lalu lintas. Tentu hal itu sangat kondusif untuk jeprat-jepret dan bikin video

Perlu diketahui, Kampung Ketandan Kota Yogyakarta memang sejak lama dikenal sebagai tempat jual-beli emas. Terutama emas perhiasan, ya. Bahkan emas yang hilang suratnya, mudah dijual di lapak-lapak emas kaki lima yang berderet di sepanjang jalan. Tepat persis berhadapan dengan toko-toko emas yang ada.

Sebagaimana yang tampak dalam video, lapak-lapak emas kaki lima itu dicat merah dan kuning. Perpaduan warna khas di Kampung Ketandan tersebut. Yeah, lumayan instagramable. Menyala dan sungguh menarik 'kan?

Akan tetapi, rupanya ada yang jauh lebih menarik. Ketika kami jelang sampai di perempatan (yang kalau belok kirik balik ke Malioboro), pandangan mata saya terbentur pada sosok seorang opa yang sedang duduk membaca di depan salah satu ruko. Eh? Setengah di dalam setengah di depan, sih. 

Menimbang ukurannya, beliau sedang membaca majalah. Entah majalah apa. Entah edisi lawasan, entah edisi terkini. Yang jelas edisi cetak. Bukankah ini merupakan sebuah fenomena menarik di era serba internet sekarang ini? Pun, merupakan pengingat bahwa tidak semua orang saat ini serta-merta melupakan majalah cetak. 

Salam.