
Singosari, sebuah kota kecamatan yang berada di sebelah utara tepat perbatasan kota dengan kabupaten Malang delapan ratus empat tahun yang lalu merupakan sebuah kerajaan yang didirikan oleh Ken Angrok.
Sebelum Singosari menjadi kerajaan, merupakan wilayah setingkat kota kabupaten yang dipimpin oleh seorang akuwu.
Berdasarkan Pararaton, akuwu yang terkenal adalah Tunggul Ametung.
Karena kepongahannya sebagai bawahan Kediri, Tunggul Ametung dibunuh oleh Ken Angrok dengan keris buatan Mpu Gandring. Pembunuhan terencana dengan licik karena sebelumnya Ken Angrok meminjamkan kerisnya pada sahabatnya yang suka pamer, yakni: Kebo Ijo.
Kematian Tunggul Ametung yang disambut gembira rakyat Tumapel membuat Ken Angrok besar kepala dengan mengangkat dirinya sebagai pengganti Tunggul Ametung sebagai akuwu. Bahkan, Ken Angrok juga mempersunting janda dari Tunggul Ametung yaitu Ken Dedes sebagai istrinya. Padahal saat itu Ken Dedes sedang mengandung tiga bulan dari benih Tunggul Ametung.
Kisah drama kehidupan berdasarkan Pararaton ini sekarang bisa dilihat pada diaroma dan kutipan-kutipan yang tertulis pada papan pajang di Museum Singhasari, Kabupaten Malang.

Museum Singhasari yang diresmikan pada 2015 ini berada di kaki Gunung Arjuno tepatnya di Desa Klampok bagian barat Singosari. Tidak jauh dari Candi Singosari, dua arca Dwarapala, dan Candi Stupa Sumberawan dan Budug Asu jalur pendakian ke Gunung Arjuno.
Museum Singhasari juga menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan masa sebelum Singosari berdiri sebagai kerajaan yang merdeka hingga runtuhnya Singosari. Benda-benda bersejarah ini sebelumnya tersimpan terserak di beberapa tempat seperti kantor kecamatan dan kabupaten.

Selain itu ditempatkan pula replika arca-arca yang 90% menyerupai aslinya. Misalnya arca Dewi Durga, Betara Guru, Lembu Nandi, Ken Dedes, dan Dwarapala. Selain Dwarapala, arca-arca asli masih tersimpan pada museum di negeri Belanda dan Museum Nasional Jakarta.
Hal yang tak kalah menariknya, selain arca juga dipamerkan benda-benda purbakala, berupa potongan atau pecahan arca terakota, alat memasak terutama teko, lumpang batu, lumpang kayu atau lesung, keren batu atau semacam anglo, dan pipisan atau alat menumbuk jamu dari tanaman. Benda-benda ini ditemukan di situs-situs sekitar Malang, di antaranya Situs Sekaran yang baru ditemukan pada 2018 silam.

Hal yang paling unik benda bersejarah yang ada di Museum Singhasari adalah kereta kuda buatan Jerman. Kereta kuda ini merupakan kendaraan tunggangan para bupati Malang masa awal berdirinya Kabupaten Malang pada masa kolonial.
0 0 0
Museum Singhasari buka setiap hari jam 08.00-16.00 tanpa membayar tiket masuk alias gratis. Pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional tutup.