Budi Suhartawan Official
Budi Suhartawan Official Guru

Sebagai seorang yang terus berproses dalam dunia inovasi pendidikan, saya menyadari sepenuhnya bahwa perjalanan belajar tidak pernah berhenti. Kekurangan yang saya miliki bukanlah penghalang, melainkan bahan bakar untuk terus berinovasi dan memperbaiki diri. Saat melihat rekan-rekan pendidik yang begitu produktif, terutama di bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, saya justru semakin termotivasi untuk tidak berhenti belajar. Saya percaya bahwa ilmu dapat datang dari mana saja—bukan hanya dari guru atau buku, tetapi juga dari kawan yang lebih muda, bahkan dari para siswa/mahasiswa yang saya bimbing. Bagi saya, setiap interaksi adalah ruang belajar, setiap pengalaman adalah pelajaran berharga. Dengan semangat ini, saya terus mengasah diri, baik dalam aspek soft skill maupun pengembangan inovasi, agar dapat memberikan kontribusi terbaik bagi dunia pendidikan dan peradaban ilmu.

Selanjutnya

Tutup

Video

Perempuan, Peran, dan Keberanian Memilih Diri Sendiri

20 Februari 2026   10:39 Diperbarui: 20 Februari 2026   10:39 92 2 2

Pertama kali menulis tentang permpuan, yang topik ini sangat relevan dalam kondisi hari ini. Perempuan adalah makhluk yang selalu ingin dimengerti. Kira-kira begitu pesan yang pernah saya dengar dalam sebuah lagu Pop Populer di Indonesia. Namun, dimengertinya, butuh seni dan kereativitas. Dikarenakan, ia adalah makluk paling peka dengan perasaanya. Hadirnya Islam, sebagai agama rahmat, tidak pernah memerintahkan manusia untuk menghancurkan dirinya demi menjalankan tanggung jawab.

Justru Islam datang menjaga keseimbangan antara amanah kepada orang lain dan amanah kepada diri sendiri. Sama halnya dengan Perempuan yang ingin dimengerti tadi. Dia juga harus tahu kondisi diri untuk maju dan berkembang dan menjaga dirinya. Dengan iman dan Islam yang harus terus menjadi benteng pertahanan. Dalam Al-Qur'an Allah berfirman dalam QS. Al-M'idah/5:105;

 

"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; tidaklah orang yang sesat itu akan membahayakan kamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

Perintah ini sederhana, tetapi dalam. Menjaga diri bukan berarti egois, melainkan sadar bahwa jiwa kita adalah titipan Allah. Ada satu kalimat yang cukup sederhana namun nikmat untuk direnungkan: "perempuan sering tidak pernah benar-benar memilih perannya dalam keluarga, ia hanya beradaptasi". Kalimat ini, terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan cerita panjang tentang tekanan sosial, tuntutan ekonomi, ekspektasi pasangan, hingga kelelahan batin yang kerap tak terlihat.

Banyak perempuan masuk ke dalam pernikahan dengan bayangan peran yang ideal, menjadi pasangan, ibu, penjaga rumah, sekaligus penopang emosional keluarga. Namun realitas hidup sering bergerak berbeda. Dalam banyak kasus, perempuan tiba-tiba harus menjadi pencari nafkah utama, pengambil keputusan, sekaligus tetap menjalankan fungsi domestik. Peran berubah bukan karena pilihan sadar, melainkan karena keadaan. Dari sinilah proses adaptasi dimulai. Kadang berlangsung terlalu lama sampai ia lupa siapa dirinya sendiri.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dunia modern memuja produktivitas, ambisi, dan pencapaian material. Banyak orang, termasuk di dalamnya perempuan professional. Terjebak dalam ritme kerja tanpa henti, mengejar stabilitas finansial, membayar cicilan rumah, kendaraan, serta memenuhi standar hidup yang dianggap "normal". Semua terlihat berjalan, tetapi perlahan ada yang terkikis hubungan dengan diri sendiri.

Krisis biasanya tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan. Diawali kelelahan yang dianggap biasa, rasa hampa yang dianggap wajar, hingga suatu hari seseorang berdiri di depan cermin dan tidak lagi menyukai orang yang dilihatnya. Pada titik ini, masalahnya bukan sekadar uang atau pekerjaan. Bahkan ketika kondisi finansial sulit, banyak orang justru menyadari bahwa ketiadaan uang tidak otomatis menghancurkan hidup. Yang lebih berbahaya adalah kehilangan arah dan kehilangan makna.

Di sinilah muncul ilusi besar masyarakat modern. Kita diajarkan bahwa keamanan hidup terletak pada materi, padahal ketahanan jiwa justru terletak pada kesadaran diri. Banyak orang bekerja keras demi keluarga, tetapi tanpa sadar meninggalkan dirinya sendiri. Mereka hadir secara fisik, namun kosong secara batin.

Kesadaran untuk kembali kepada diri sendiri sering datang melalui titik terendah. Kelelahan mental, konflik rumah tangga, atau depresi pascamelahirkan yang tidak disadari. Dalam kondisi seperti ini, seseorang baru memahami bahwa kesehatan jiwa bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar. Sayangnya, banyak orang tidak pernah diajarkan "alat" untuk merawat diri sejak awal.

Padahal, alat itu sebenarnya sederhana. Menulis jurnal untuk memahami emosi, meditasi untuk menenangkan pikiran, atau sekadar menyediakan waktu jujur berdialog dengan diri sendiri. Praktik-praktik kecil ini terlihat sepele, tetapi bisa menjadi penopang besar agar seseorang tidak terputus dari pusat dirinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2