Budi Suhartawan Official
Budi Suhartawan Official Dosen

Guru Ngaji Kampung Sekaligus Praktisi pendidikan Berbasis AlQur'an

Selanjutnya

Tutup

Video

Presiden Prabowo Jangan Terlalu Nayaman dengan Tepuk Tangan

23 September 2026   03:30 Diperbarui: 23 September 2026   03:30 107 0 0

Presiden Prabowo, sebagai pemegang kekuasaan eksekutif, tentu menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks daripada seorang pimpinan pesantren. Tetapi kompleksitas itu tidak menghapus tuntutan moral. Justru semakin besar kekuasaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap transparansi, kritik, pengawasan, dan keberanian melakukan koreksi. Kekuasaan yang kuat bukan kekuasaan yang tidak pernah dipertanyakan. Kekuasaan yang kuat adalah kekuasaan yang mampu mempertanggungjawabkan keputusan ketika dipertanyakan.

Pesan berikutnya datang dari cara Kiai Sahal membaca sejarah. Ia mengingatkan agar bangsa tidak sekadar "jangan melupakan sejarah", tetapi juga berguru kepada sejarah dan kemudian membangun sejarah. Bagi pemerintah, ini adalah pengingat bahwa sebuah masa pemerintahan kelak akan berubah menjadi catatan sejarah. Yang akan tersisa bukan hanya pidato dan seremoni, tetapi juga keputusan, kebijakan, keteladanan, dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Sejarah pada akhirnya akan menilai apa yang benar-benar dibangun.

Seratus tahun Gontor menunjukkan bahwa ketahanan sebuah institusi tidak lahir dari kemewahan atau popularitas sesaat. Ia lahir dari nilai yang dijaga dalam waktu panjang. Indonesia pun membutuhkan pembangunan yang tidak hanya mengejar hasil cepat, tetapi membangun fondasi yang dapat bertahan lintas pemerintahan. Pendidikan, kualitas manusia, integritas lembaga, keadilan sosial, dan kepercayaan publik adalah pekerjaan panjang yang tidak selesai hanya dalam satu periode kekuasaan.

Kiai Sahal juga memperlihatkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan. Ia berbicara tentang santri dari latar belakang NU dan Muhammadiyah yang dapat belajar bersama tanpa harus kehilangan identitas masing-masing. Pesan ini relevan bagi negara: pemerintah tidak boleh hanya merangkul kelompok yang sejalan, sementara kelompok yang berbeda dipandang sebagai gangguan. Negara demokratis membutuhkan ruang dialog yang memungkinkan perbedaan tetap hidup tanpa berubah menjadi permusuhan.

Dari sinilah pesantren memberikan pelajaran lain kepada kekuasaan. Pendidikan agama tidak seharusnya hanya menghasilkan manusia yang saleh secara individual, tetapi juga manusia yang mampu hidup bersama, menghormati perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan publik. Jika pendidikan mampu melahirkan manusia semacam itu, negara akan memperoleh modal sosial yang jauh lebih berharga daripada sekadar angka-angka pertumbuhan. Sebab pembangunan pada akhirnya membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter.

Kiai Sahal kemudian mengembalikan seluruh pembicaraan kepada spiritualitas: mengingat nikmat Allah, bersyukur, dan memperbaiki ibadah. Di sinilah kritik terhadap kekuasaan memperoleh fondasi moralnya. Kritik tidak diarahkan untuk membenci pemimpin, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap jabatan adalah amanah. Dalam perspektif ini, kritik bukan tindakan permusuhan, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial agar amanah tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Maka, pesan Kiai Sahal kepada Presiden sebenarnya cukup jelas: jangan terlalu nyaman dengan tepuk tangan. Dengarkan mereka yang berbeda. Beri ruang kepada kritik. Waspadai orang-orang yang hanya mencari muka. Jangan biarkan fasilitas kekuasaan menciptakan jarak dengan rakyat. Dan pastikan kebijakan pemerintah dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bukan hanya terlihat baik dalam laporan dan seremoni. Nasihat tersebut disampaikan dengan santun, tetapi substansinya menyentuh jantung persoalan kekuasaan.

Di hadapan Presiden, Kiai Sahal menunjukkan bahwa pesantren dapat berbicara kepada kekuasaan tanpa harus menjadi bagian dari kekuasaan. Ia dapat menyambut dengan hormat tanpa kehilangan sikap kritis. Ia dapat bercanda tanpa kehilangan substansi. Ia dapat mengenang sejarah tanpa terjebak dalam romantisme. Dan yang lebih penting, ia memperlihatkan bahwa kritik yang beradab tidak harus kehilangan ketajamannya.

Seratus tahun Gontor akhirnya bukan hanya perayaan perjalanan sebuah pesantren. Ia juga menjadi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada kekuasaan: ketika satu abad Gontor dikenang sebagai sejarah, sejarah seperti apa yang sedang dibangun oleh pemerintahan hari ini? Jawabannya kelak tidak ditentukan oleh seberapa meriah tepuk tangan di sebuah panggung, melainkan oleh bagaimana rakyat mengalami kehidupan setelah keputusan-keputusan politik itu dijalankan.

Sebab kekuasaan akhirnya akan meninggalkan panggung. Presiden akan berganti. Para pejabat akan berganti. Gedung-gedung akan terus berdiri dan seremoni akan berlalu. Tetapi dampak sebuah pemerintahan akan tinggal dalam ingatan masyarakat. Karena itu, mungkin inilah pesan paling penting yang dapat dibaca dari pidato Kiai Sahal. Pemimpin boleh berada di puncak kekuasaan, tetapi jangan sampai kehilangan keberanian untuk menundukkan telinga kepada suara dari bawah. Kritik itu disampaikan dengan senyum, tetapi pesannya serius. Sebagai cermin agar tidak kehilangan arah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2