Budi Suhartawan Official
Budi Suhartawan Official Dosen

Guru Ngaji Kampung Sekaligus Praktisi pendidikan Berbasis AlQur'an

Selanjutnya

Tutup

Video

Presiden Prabowo Jangan Terlalu Nayaman dengan Tepuk Tangan

23 September 2026   03:30 Diperbarui: 23 September 2026   03:30 107 0 0

Tulisian ini saya tulis untuk mendokumentasikan pesan penting dari Pidato K.H. Hasan Abdullah Sahal di Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor bersama Bapak Presiden RI. Ada kritik yang disampaikan dengan suara keras, tetapi ada pula kritik yang justru lebih mengena karena disampaikan dengan senyum. Pidato Kiai Sahal di hadapan Presiden Prabowo Subianto pada momentum 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor memperlihatkan bentuk kritik yang kedua: ringan dalam bahasa, cair dalam suasana, tetapi menyimpan pesan moral yang serius. Di balik humor dan penghormatan kepada kepala negara, terselip pertanyaan penting tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan.

Kiai Sahal tidak sekadar berbicara tentang sejarah Gontor. Ia berbicara tentang pendidikan, kepemimpinan, kesederhanaan, keteladanan, dan hubungan antara pemimpin dengan rakyat. Justru karena disampaikan di hadapan Presiden, pesan-pesan itu layak dibaca sebagai nasihat moral kepada kekuasaan. Sambutan tersebut tidak berhenti pada ucapan selamat datang, tetapi berubah menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa jabatan sebesar apa pun tetap membutuhkan kritik dan koreksi.

Sejak awal, Kiai Sahal menempatkan kedatangan Presiden dalam perjalanan panjang Gontor. Pesantren yang dahulu berdiri dalam keterbatasan kini telah melewati satu abad sejarah. Para pendirinya—KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fannani, dan KH Imam Zarkasyi—tidak hanya mewakafkan tanah dan bangunan, tetapi juga gagasan, nilai, sistem, lembaga, dan cinta kepada pendidikan. Dari sinilah Gontor memperlihatkan bahwa sebuah bangsa tidak dibangun hanya dengan kekuasaan, tetapi dengan manusia yang dididik untuk memiliki karakter dan tanggung jawab.

Pilihan Gontor untuk tetap menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian juga mengandung pesan penting bagi negara. Alumni dapat berada di pemerintahan, legislatif, lembaga hukum, dunia pendidikan, bisnis, dan berbagai ruang pengabdian lainnya, tetapi lembaga pendidikan tidak harus menjadi kendaraan kekuasaan. Pesantren dapat berhubungan baik dengan pemerintah tanpa kehilangan jarak kritisnya. Hubungan negara dan pesantren semestinya dibangun melalui penghormatan, kerja sama, dan dialog bukan melalui ketundukan.

Kritik paling tajam muncul ketika Kiai Sahal berbicara tentang kehidupan seorang pemimpin. Sekitar menit ke-16, ia menyampaikan bahwa apabila makanan, pakaian, kendaraan, rumah, dan kehidupan seorang pimpinan lebih tinggi daripada yang dinikmati santri, maka orang-orang yang dipimpinnya boleh memprotes, mengkritik, bahkan mendemo. Disampaikan dengan nada bercanda, kalimat itu sebenarnya mengandung pertanyaan serius yang layak diarahkan kepada siapa pun yang memegang kekuasaan, termasuk Presiden: seberapa dekat kehidupan pemimpin dengan kenyataan hidup rakyatnya?

Tentu seorang presiden memiliki kebutuhan protokoler dan fasilitas kenegaraan yang berbeda dengan rakyat biasa. Namun, pesan Kiai Sahal berada pada tingkat yang lebih mendasar, yakni soal etika. Kekuasaan tidak cukup hanya sah secara hukum; ia juga harus memiliki ukuran kepantasan moral. Fasilitas negara tidak boleh membuat pemimpin kehilangan kepekaan terhadap mereka yang hidup dengan keterbatasan. Semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula tuntutan agar ia mampu mempertanggungjawabkan penggunaan kewenangan tersebut di hadapan publik.

Karena itu, pidato Kiai Sahal dapat dibaca sebagai sebuah cermin bagi Presiden Prabowo. Bukan cermin untuk menilai kehidupan pribadi Presiden, melainkan cermin untuk melihat jarak antara pusat kekuasaan dan kehidupan masyarakat. Rakyat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang bekerja keras, tetapi juga pemimpin yang mampu mendengar keluhan, menerima koreksi, dan memahami bahwa keberhasilan pemerintahan pada akhirnya harus terasa dalam kehidupan masyarakat. Kekuasaan tidak boleh berhenti pada laporan keberhasilan di atas kertas; ia harus diuji oleh pengalaman rakyat sehari-hari.

Pesan tersebut semakin kuat ketika Kiai Sahal menyindir budaya "mencari muka". Ia menyebut orang yang tidak punya ijazah mencari ijazah, yang tidak punya nama mencari nama, yang tidak punya uang mencari uang, yang tidak punya jabatan mencari jabatan, bahkan yang tidak punya muka mencari muka. Hadirin tertawa, tetapi di balik tawa itu terdapat kritik terhadap budaya yang sangat mungkin tumbuh di sekitar kekuasaan: orang lebih sibuk menyenangkan pemimpin daripada menyampaikan kenyataan kepada pemimpin.

Inilah bahaya yang perlu diwaspadai setiap pemerintahan. Seorang presiden dapat dikelilingi banyak pejabat, penasihat, dan orang-orang yang mengaku loyal, tetapi belum tentu seluruhnya menghadirkan suara rakyat yang sebenarnya. Jika lingkungan kekuasaan hanya menyampaikan kabar baik, memburu pujian, dan berlomba menunjukkan loyalitas, pemimpin dapat kehilangan akses terhadap kenyataan yang pahit. Karena itu, Presiden membutuhkan orang-orang yang tidak hanya berani mengatakan "iya", tetapi juga berani mengatakan "tidak" ketika kebijakan atau keputusan perlu dikoreksi.

Di sinilah kritik Kiai Sahal menjadi relevan bagi demokrasi. Kritik bukan penghinaan terhadap pemimpin. Kritik adalah mekanisme koreksi agar kekuasaan tidak berjalan tanpa cermin. Presiden tidak perlu takut terhadap kritik yang disampaikan dengan argumen dan itikad memperbaiki keadaan. Yang lebih berbahaya justru ketika kritik menghilang karena masyarakat merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikannya. Kekuasaan yang hanya mendengar tepuk tangan berisiko kehilangan kemampuan membaca kegelisahan di bawah.

Kiai Sahal juga mengingatkan bahwa pendidikan harus melahirkan manusia yang tidak sekadar mengejar pengakuan. Ungkapan be the best, do the best, have the best yang ia sampaikan dapat dibaca sebagai filosofi yang sederhana: menjadi baik harus diikuti dengan melakukan kebaikan dan menghasilkan manfaat. Prinsip ini sekaligus menjadi kritik terhadap ukuran keberhasilan yang terlalu menekankan jabatan, popularitas, dan pencitraan. Negara pun semestinya mengukur keberhasilannya bukan hanya dari seberapa banyak program diumumkan, tetapi dari seberapa jauh program itu menghasilkan manfaat yang nyata.

Presiden Prabowo, sebagai pemegang kekuasaan eksekutif, tentu menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks daripada seorang pimpinan pesantren. Tetapi kompleksitas itu tidak menghapus tuntutan moral. Justru semakin besar kekuasaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap transparansi, kritik, pengawasan, dan keberanian melakukan koreksi. Kekuasaan yang kuat bukan kekuasaan yang tidak pernah dipertanyakan. Kekuasaan yang kuat adalah kekuasaan yang mampu mempertanggungjawabkan keputusan ketika dipertanyakan.

Pesan berikutnya datang dari cara Kiai Sahal membaca sejarah. Ia mengingatkan agar bangsa tidak sekadar "jangan melupakan sejarah", tetapi juga berguru kepada sejarah dan kemudian membangun sejarah. Bagi pemerintah, ini adalah pengingat bahwa sebuah masa pemerintahan kelak akan berubah menjadi catatan sejarah. Yang akan tersisa bukan hanya pidato dan seremoni, tetapi juga keputusan, kebijakan, keteladanan, dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Sejarah pada akhirnya akan menilai apa yang benar-benar dibangun.

Seratus tahun Gontor menunjukkan bahwa ketahanan sebuah institusi tidak lahir dari kemewahan atau popularitas sesaat. Ia lahir dari nilai yang dijaga dalam waktu panjang. Indonesia pun membutuhkan pembangunan yang tidak hanya mengejar hasil cepat, tetapi membangun fondasi yang dapat bertahan lintas pemerintahan. Pendidikan, kualitas manusia, integritas lembaga, keadilan sosial, dan kepercayaan publik adalah pekerjaan panjang yang tidak selesai hanya dalam satu periode kekuasaan.

Kiai Sahal juga memperlihatkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan. Ia berbicara tentang santri dari latar belakang NU dan Muhammadiyah yang dapat belajar bersama tanpa harus kehilangan identitas masing-masing. Pesan ini relevan bagi negara: pemerintah tidak boleh hanya merangkul kelompok yang sejalan, sementara kelompok yang berbeda dipandang sebagai gangguan. Negara demokratis membutuhkan ruang dialog yang memungkinkan perbedaan tetap hidup tanpa berubah menjadi permusuhan.

Dari sinilah pesantren memberikan pelajaran lain kepada kekuasaan. Pendidikan agama tidak seharusnya hanya menghasilkan manusia yang saleh secara individual, tetapi juga manusia yang mampu hidup bersama, menghormati perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan publik. Jika pendidikan mampu melahirkan manusia semacam itu, negara akan memperoleh modal sosial yang jauh lebih berharga daripada sekadar angka-angka pertumbuhan. Sebab pembangunan pada akhirnya membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter.

Kiai Sahal kemudian mengembalikan seluruh pembicaraan kepada spiritualitas: mengingat nikmat Allah, bersyukur, dan memperbaiki ibadah. Di sinilah kritik terhadap kekuasaan memperoleh fondasi moralnya. Kritik tidak diarahkan untuk membenci pemimpin, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap jabatan adalah amanah. Dalam perspektif ini, kritik bukan tindakan permusuhan, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial agar amanah tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Maka, pesan Kiai Sahal kepada Presiden sebenarnya cukup jelas: jangan terlalu nyaman dengan tepuk tangan. Dengarkan mereka yang berbeda. Beri ruang kepada kritik. Waspadai orang-orang yang hanya mencari muka. Jangan biarkan fasilitas kekuasaan menciptakan jarak dengan rakyat. Dan pastikan kebijakan pemerintah dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bukan hanya terlihat baik dalam laporan dan seremoni. Nasihat tersebut disampaikan dengan santun, tetapi substansinya menyentuh jantung persoalan kekuasaan.

Di hadapan Presiden, Kiai Sahal menunjukkan bahwa pesantren dapat berbicara kepada kekuasaan tanpa harus menjadi bagian dari kekuasaan. Ia dapat menyambut dengan hormat tanpa kehilangan sikap kritis. Ia dapat bercanda tanpa kehilangan substansi. Ia dapat mengenang sejarah tanpa terjebak dalam romantisme. Dan yang lebih penting, ia memperlihatkan bahwa kritik yang beradab tidak harus kehilangan ketajamannya.

Seratus tahun Gontor akhirnya bukan hanya perayaan perjalanan sebuah pesantren. Ia juga menjadi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada kekuasaan: ketika satu abad Gontor dikenang sebagai sejarah, sejarah seperti apa yang sedang dibangun oleh pemerintahan hari ini? Jawabannya kelak tidak ditentukan oleh seberapa meriah tepuk tangan di sebuah panggung, melainkan oleh bagaimana rakyat mengalami kehidupan setelah keputusan-keputusan politik itu dijalankan.

Sebab kekuasaan akhirnya akan meninggalkan panggung. Presiden akan berganti. Para pejabat akan berganti. Gedung-gedung akan terus berdiri dan seremoni akan berlalu. Tetapi dampak sebuah pemerintahan akan tinggal dalam ingatan masyarakat. Karena itu, mungkin inilah pesan paling penting yang dapat dibaca dari pidato Kiai Sahal. Pemimpin boleh berada di puncak kekuasaan, tetapi jangan sampai kehilangan keberanian untuk menundukkan telinga kepada suara dari bawah. Kritik itu disampaikan dengan senyum, tetapi pesannya serius. Sebagai cermin agar tidak kehilangan arah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2