Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.
Sumber: https://www.youtube.com/@gnafanu
Beberapa petani seringkali mengeluh, tidak ada modal untuk membeli pupuk kimia. Sementara pupuk bersubsidi tak bisa diakses oleh semua orang, tetapi harus mengajukannya melalui kelompok.
Padahal, tanaman sudah harus dipupuk agar tumbuh subur dan pada saatnya nanti, produksi dan produktivitasnya tinggi sesuai dengan harapan.
Tak perlu risau, ada cukup banyak cara untuk menjaga lahan pertanian kita tetap menyediakan unsur hara bagi tanaman. Tak selamanya, harus memupuk tanaman dengan pupuk kimia.
Sekarang ini, sudah banyak yang memanfaatkan pupuk kompos buatan sendiri dengan menggunakan bahan utama dari sekitar. Kulit kopi, sekam dan jerami padi, daun-daun kering, plus cincangan hijauan seperti daun-daun legume dan gedebog pisang.
Tayangan video pendek berdurasi 1,20 menit ini memperlihatkan siswi SMKN 1 Baradatu sedang melakukan praktik membuat pupuk kompos dengan bahan utama dari sekitar.
Setelah bahan-bahannya terkumpul, maka jari-jari lentik para gadis ini pun mulai beraksi membuat pupuk kompos: memotong, mencincang, menyiram, dan mengaduk racikan agar merata.
Terlihat seperti mencampurkan adonan kue saja, mencampurkan adonan terigu, gula, telur, bibit roti, vanila, mentega, dan bahan lainnya yang perlu dimasukkan untuk menghasilkan kue yang enak.
Dalam praktik ini, siswa dan siswi SMKN 1 Baradatu menggunakan resep sebagai berikut:
Mula-mula, gedebog pisang dan daun gamal dipotong, lalu dicincang halus-halus. Selanjutnya, kulit kopi dan kohe dicampurkan ke dalam cincangan gedebog pisang dan gamal, sambil dipercik dengan air agar kelembabannya merata.
Air yang dipercikkan adalah yang sudah dicampur dengan EM4 dan molase gula tebu. Jika tak punya EM4, bisa juga menggunakan gula pasir 0,5 kg yang dicampurkan ke dalam air.
Pastikan adukannya merata, seperti mengaduk campuran semen dan pasir untuk membangun rumah, atau campuran adonan kue yang biasa dibuat oleh para ibu.
Setelah diaduk secara merata, maka adonan ini ditutup rapat. Dalam praktik ini, anak-anak menggunakan terpal untuk menampung sekaligus menutup hasil racikan produk mereka.
Ketebalan tumpukan juga berpengaruh terhadap kelembaban dan proses penguraian oleh mikroorganisme. Bagian yang kering, tidak akan disukai mikroorganisme. Tebal tumpukannya antara 20 - 50 cm.
Setiap minggu, produknya dicek dan dipastikan tetap lembab. Sebaiknya diaduk sehingga proses pengomposannya berjalan lancar.

Jika proses pengomposannya berjalan baik, maka sudah dapat digunakan dalam waktu 1 hingga 2 bulan, tergantung dari kondisi, metode, dan penggunaan aktivator seperti EM4 dan molase gula tebu.
Kompos yang sudah matang menandakan proses dekomposisi telah sempurna. Ini berarti nutrisi di dalamnya sudah siap diserap tanaman, dan tidak akan menarik hama atau menyebabkan tanaman menjadi layu karena sisa bahan mentah yang membusuk.
Ciri kompos matang dan sudah siap digunakan adalah sebagai berikut:
Warna
Warna kompos yang sudah matang terlihat cokelat tua hingga hitam pekat, seperti warna tanah humus pada umumnya.
Bau
Bau kompos beraroma seperti tanah segar atau hutan setelah hujan, bukan bau busuk sampah atau amonia.
Tekstur
Tekstur gembur, remah, dan mudah hancur di tangan. Tidak lengket atau basah, juga tidak terlalu kering.
Suhu
Sudah dingin dan suhunya sama dengan suhu lingkungan/tanah, tidak lagi terasa hangat atau panas saat disentuh.
Isi
Tidak terlihat sisa-sisa bahan organik mentah seperti daun, ranting, dan kulit buah yang masih bisa dikenali bentuknya.
Tes air
Jika dimasukkan ke air, akan tenggelam seluruhnya, dan airnya tetap jernih atau hanya sedikit keruh, tidak mengeluarkan buih atau bau busuk.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, namun intinya adalah bagaimana menghasilkan produk pupuk kompos yang siap pakai, tanpa harus terlalu bergantung pada pupuk kimia.***