Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.
Sisa sayur dapur dan daun kering dikumpulkan dalam ember komposter mini. Kompos cair yang dihasilkan digunakan sebagai pupuk alami. Dari pengalaman di rumah, metode ini efektif mengurangi sampah harian sekaligus menekan biaya perawatan tanaman.
Menariknya, lorong yang awalnya terkesan pengap kini berubah menjadi ruang hidup yang menenangkan. Setiap pagi, aktivitas memberi pakan ikan dan memanen sayur menjadi rutinitas yang menyenangkan.
Secara ekonomi, hasil panen memang tidak untuk dijual besar-besaran, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur harian. Selada segar, cabai rawit, hingga daun kemangi bisa dipetik langsung tanpa harus ke pasar.
Dari sisi lingkungan, integrated farming di lorong sempit membantu menurunkan suhu mikro di sekitar rumah dan meningkatkan kualitas udara.
Lorong yang sebelumnya jarang dilalui kini justru menjadi spot favorit keluarga. Bahkan anak-anak sengaja berlama-lama di sana, termasuk senang memberi makanan untuk ikan.
Yuk, mari mencoba. Menyulap lorong sempit menjadi integrated farming bukan hal rumit atau mahal.
Dengan memanfaatkan barang bekas, memahami kebutuhan dasar tanaman, serta menerapkan sistem terintegrasi sederhana, ruang kecil bisa memberi manfaat besar.

Praktik ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk hidup lebih hijau, produktif, dan berkelanjutan, bahkan dari lorong tersempit di rumah sendiri.
***
Sumber: https://www.youtube.com/@gnafanu