Gregorius Nafanu
Gregorius Nafanu Petani

Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.

Selanjutnya

Tutup

Video Artikel Utama

Cara Keren Sulap Lorong Sempit di Rumah Jadi Integrated Farming

6 Januari 2026   04:25 Diperbarui: 6 Januari 2026   08:55 539 17 5


Lorong sempit di rumah kerap dipandang sebelah mata. Area ini sering dibiarkan kosong, lembab, atau sekadar menjadi jalur lalu lintas tanpa fungsi berarti. 

Padahal, dengan sentuhan kreativitas dan perencanaan sederhana, lorong sempit bisa disulap menjadi integrated farming yang tidak hanya estetik, tetapi juga produktif dan ramah lingkungan. 

Konsep ini semakin relevan bagi rumah-rumah perkotaan yang lahannya terbatas, namun tetap ingin menghadirkan ruang hijau dan sumber pangan mandiri.

Integrated farming di lorong sempit pada dasarnya memadukan beberapa elemen pertanian skala rumah tangga dalam satu ruang terintegrasi, berupa kolam ikan, sayuran, obat keluarga, dan bunga hias.

Dari praktik langsung di rumah, langkah pertama yang dilakukan adalah mengamati karakter lorong, arah datangnya cahaya matahari, sirkulasi udara, serta tingkat kelembaban.

Lorong yang mendapat sinar pagi selama 2–4 jam sudah cukup ideal untuk tanaman daun seperti kangkung, selada, bayam, dan pakcoy. 

Jika cahaya terbatas, tanaman herbal seperti mint, kemangi, daun bawang, dan seledri tetap bisa tumbuh optimal. Selain itu, bisa ditambahkan aneka tanaman obat keluarga seperti aloevera, pandan, mayana, sereh, kencur, dan jenis lain yang sering dimanfaatkan.

Integrasi sayuran, toga, bunga, dan kolam ikan

Di rumah, kolam dibuat dengan cara ditempel pada dinding rumah, mengikuti panjang tembok rumah. Karena panjang, maka kolam di rumah di sekat jadi 4 bagian kecil.

Ada dua jenis ikan yang dipelihara, yaitu lele dan nila. Dua bak pertama diisi bibit telebih dahulu hingga 1 bulan, lalu dua bak berikutnya diisi dengan bibit. Dengan demikian, panen ikan pun bisa bertahap dan tidak kekurangan sumber protein untuk mendukung gizi keluarga yang diperoleh dari lorong sempit.

Di atas bak ikan, diletakkan aneka tanaman sayuran dan toga di di dalam pot sesuai dengan selera dan kemungkinan keberhasilannya. Karena cukup luas, bisa dikombinasi dengan tanaman bunga sehingga bisa semakin menarik untuk berlama-lama di situ. Bahkan, serangga dan burung pun berdatangan.

Integrated farming di lorong sempit, bisa panen ikan, sayur, dan manfaatkan toga yang ada (dok foto: Gregorius Nafanu)
Integrated farming di lorong sempit, bisa panen ikan, sayur, dan manfaatkan toga yang ada (dok foto: Gregorius Nafanu)

Manfaat lain dari integrated farming di lorong sempit

Integrated farming di lorong sempit tidak hanya soal tanaman dan ikan, tetapi juga pengelolaan limbah organik. 

Sisa sayur dapur dan daun kering dikumpulkan dalam ember komposter mini. Kompos cair yang dihasilkan digunakan sebagai pupuk alami. Dari pengalaman di rumah, metode ini efektif mengurangi sampah harian sekaligus menekan biaya perawatan tanaman.

Menariknya, lorong yang awalnya terkesan pengap kini berubah menjadi ruang hidup yang menenangkan. Setiap pagi, aktivitas memberi pakan ikan dan memanen sayur menjadi rutinitas yang menyenangkan. 

Secara ekonomi, hasil panen memang tidak untuk dijual besar-besaran, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur harian. Selada segar, cabai rawit, hingga daun kemangi bisa dipetik langsung tanpa harus ke pasar.

Dari sisi lingkungan, integrated farming di lorong sempit membantu menurunkan suhu mikro di sekitar rumah dan meningkatkan kualitas udara. 

 Lorong yang sebelumnya jarang dilalui kini justru menjadi spot favorit keluarga. Bahkan anak-anak sengaja berlama-lama di sana, termasuk senang memberi makanan untuk ikan.

Yuk, mari mencoba. Menyulap lorong sempit menjadi integrated farming bukan hal rumit atau mahal. 

Dengan memanfaatkan barang bekas, memahami kebutuhan dasar tanaman, serta menerapkan sistem terintegrasi sederhana, ruang kecil bisa memberi manfaat besar. 

Panen tomat yang ditanam di dalam ember bocor, diletakkan di samping bak ikan (dok foto: Gregorius Nafanu)
Panen tomat yang ditanam di dalam ember bocor, diletakkan di samping bak ikan (dok foto: Gregorius Nafanu)

Praktik ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk hidup lebih hijau, produktif, dan berkelanjutan, bahkan dari lorong tersempit di rumah sendiri.

***

Sumber: https://www.youtube.com/@gnafanu

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2