Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.
Selanjutnya dilakukan pembuatan lubang tanam dengan sistem tugal. Petani menggunakan tongkat kayu runcing atau alat khusus untuk membuat lubang kecil di tanah sedalam sekitar 3–5 sentimeter.
Lubang tersebut dibuat sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan. Setelah lubang terbentuk, benih jagung dimasukkan sebanyak satu hingga dua biji ke dalam setiap lubang.
Tahap berikutnya adalah penutupan lubang tanam. Benih yang sudah dimasukkan ke dalam lubang kemudian ditutup menggunakan tanah tipis agar benih terlindungi dari sinar matahari langsung dan serangan hama.
Pada saat penanaman, petani juga dapat menambahkan pupuk dasar seperti pupuk kandang atau pupuk majemuk dalam jumlah kecil untuk membantu pertumbuhan awal tanaman.
Setelah penanaman selesai, dilakukan perawatan tanaman. Perawatan meliputi pengendalian gulma, pemupukan lanjutan, serta pengamatan terhadap hama dan penyakit.
Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman dapat dibersihkan secara manual agar tidak bersaing dengan tanaman jagung dalam menyerap unsur hara.
Metode TOT dengan sistem tugal memiliki sejumlah manfaat bagi petani.
Pertama, metode ini mampu menghemat biaya dan tenaga kerja karena petani tidak perlu melakukan pengolahan tanah yang biasanya membutuhkan alat berat atau tenaga tambahan.
Kedua, sistem ini membantu menjaga struktur tanah sehingga mikroorganisme di dalam tanah tetap hidup dan berperan dalam meningkatkan kesuburan lahan.
Ketiga, penanaman tanpa olah tanah dapat mengurangi risiko erosi, terutama pada lahan miring atau daerah dengan curah hujan tinggi.
Sisa tanaman yang dibiarkan di permukaan tanah juga berfungsi sebagai pelindung alami yang menjaga kelembapan tanah.