Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.
Sumber: https://www.youtube.com/@gnafanu
Bertanam jagung bisa dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan pengolahan lahan, bisa juga ditugal langsung tanpa olah tanah (TOT).
Budidaya jagung dapat dilakukan dengan sistem Tanpa Olah Tanah (TOT) secara sederhana menggunakan teknik tugal.
Metode ini telah lama dilakukan para petani sebab dinilai lebih praktis, hemat biaya, dan mampu menjaga kesuburan tanah.
Sistem TOT pada dasarnya adalah teknik menanam tanpa melakukan pembajakan atau pengolahan tanah terlebih dahulu.
Sementara itu, sistem tugal merupakan cara menanam benih dengan membuat lubang kecil di tanah menggunakan alat sederhana yang disebut tugal.
Langkah pertama dalam menanam jagung dengan sistem TOT adalah persiapan lahan.
Pada metode ini, lahan tidak perlu dibajak atau dicangkul. Petani hanya perlu membersihkan gulma besar atau sisa tanaman sebelumnya agar tidak mengganggu pertumbuhan jagung.
Sisa tanaman dapat dibiarkan menutup permukaan tanah sebagai mulsa alami yang berfungsi menjaga kelembapan tanah serta mencegah erosi.
Setelah lahan siap, tahap berikutnya adalah penentuan jarak tanam. Umumnya jarak tanam jagung yang digunakan adalah sekitar 70 x 25 sentimeter atau 75 x 30 sentimeter.
Jarak ini bertujuan agar tanaman memiliki ruang tumbuh yang cukup serta memperoleh sinar matahari secara optimal.
Selanjutnya dilakukan pembuatan lubang tanam dengan sistem tugal. Petani menggunakan tongkat kayu runcing atau alat khusus untuk membuat lubang kecil di tanah sedalam sekitar 3–5 sentimeter.
Lubang tersebut dibuat sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan. Setelah lubang terbentuk, benih jagung dimasukkan sebanyak satu hingga dua biji ke dalam setiap lubang.
Tahap berikutnya adalah penutupan lubang tanam. Benih yang sudah dimasukkan ke dalam lubang kemudian ditutup menggunakan tanah tipis agar benih terlindungi dari sinar matahari langsung dan serangan hama.
Pada saat penanaman, petani juga dapat menambahkan pupuk dasar seperti pupuk kandang atau pupuk majemuk dalam jumlah kecil untuk membantu pertumbuhan awal tanaman.
Setelah penanaman selesai, dilakukan perawatan tanaman. Perawatan meliputi pengendalian gulma, pemupukan lanjutan, serta pengamatan terhadap hama dan penyakit.
Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman dapat dibersihkan secara manual agar tidak bersaing dengan tanaman jagung dalam menyerap unsur hara.
Metode TOT dengan sistem tugal memiliki sejumlah manfaat bagi petani.
Pertama, metode ini mampu menghemat biaya dan tenaga kerja karena petani tidak perlu melakukan pengolahan tanah yang biasanya membutuhkan alat berat atau tenaga tambahan.
Kedua, sistem ini membantu menjaga struktur tanah sehingga mikroorganisme di dalam tanah tetap hidup dan berperan dalam meningkatkan kesuburan lahan.
Ketiga, penanaman tanpa olah tanah dapat mengurangi risiko erosi, terutama pada lahan miring atau daerah dengan curah hujan tinggi.
Sisa tanaman yang dibiarkan di permukaan tanah juga berfungsi sebagai pelindung alami yang menjaga kelembapan tanah.
Selain itu, metode TOT juga membantu meningkatkan efisiensi waktu tanam.
Petani dapat langsung menanam setelah panen tanaman sebelumnya tanpa harus menunggu proses pengolahan tanah yang memakan waktu.
Hal ini memungkinkan petani melakukan rotasi tanaman dengan lebih cepat.

Dengan teknik yang relatif sederhana dan biaya yang lebih rendah, sistem tanam jagung tanpa olah tanah menggunakan tugal menjadi salah satu alternatif budidaya yang efisien dan ramah lingkungan bagi petani.
Jika diterapkan dengan perawatan yang tepat, metode ini tetap mampu menghasilkan produksi jagung yang optimal.***