Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.
Namun, keseruan tidak berhenti di tepi kolam. Setelah seluruh hasil tangkapan dibawa untuk diolah. Kegiatan berlanjut di dapur.
Ikan-ikan nila segar kemudian dibersihkan satu per satu. Sisiknya dikikis hingga bersih, bagian perut dibelah untuk mengeluarkan isi perut, lalu dicuci menggunakan air bersih hingga tidak lagi berbau amis.
Tahapan berikutnya tidak kalah menarik. Ikan yang telah bersih diberi bumbu sederhana berupa garam, bawang putih, merica, ketumbar, dan beberapa rempah pilihan agar cita rasanya semakin gurih.
Setelah didiamkan 15-30 menit agar bumbu meresap, ikan dijemur di bawah sinar matahari hingga setengah kering.
Proses penjemuran ini menjadi salah satu rahasia kelezatan ikan nila khas pedesaan.

Daging ikan menjadi lebih padat, sementara bumbu semakin meresap ke dalam serat daging. Saat digoreng, bagian luar berubah renyah, tetapi bagian dalam tetap lembut dan terasa manis alami.
Aroma harum mulai memenuhi dapur ketika ikan dimasukkan ke dalam minyak panas. Warna kuning keemasan perlahan muncul, menandakan ikan telah matang sempurna.
Hidangan sederhana itu kemudian disajikan bersama nasi hangat, sambal, dan lalapan segar.
Bagi keluarga, kenikmatan ikan nila hasil pancingan sendiri tentu menghadirkan kepuasan yang berbeda dibandingkan membeli di pasar.
Ada cerita, usaha, dan kebersamaan yang menyatu dalam setiap suapan. Sang bocah pun tampak bangga menikmati ikan yang beberapa jam sebelumnya berhasil ia tangkap dengan tangannya sendiri.