Gregorius Nafanu
Gregorius Nafanu Petani

Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Libur Sekolah Seru, Mancing Nila di Rumah Kakak

4 Juli 2026   09:06 Diperbarui: 4 Juli 2026   15:30 221 18 6

Sumber: https://www.youtube.com/@gnafanu

Libur sekolah selalu menjadi momen yang dinanti anak-anak. Selain menjadi waktu beristirahat dari rutinitas belajar, masa liburan juga menjadi kesempatan untuk mengenal alam, belajar hal-hal baru, dan mempererat kebersamaan dengan keluarga. 

Pengalaman itulah yang dirasakan anak laki-laki saya, saat menghabiskan waktu libur sekolah bulan Juni 2026 di rumah sang kakak di Nekus, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT.

Suasana pedesaan yang masih asri menghadirkan banyak pilihan aktivitas menarik. Namun, dari sekian banyak kegiatan yang bisa dilakukan, memancing menjadi pengalaman yang paling berkesan. 

Bukan hanya karena baru pertama kali memegang joran, tetapi juga karena hasil tangkapannya di luar dugaan. Dalam sekali memancing, bocah itu berhasil memperoleh puluhan ekor ikan nila yang hidup di kolam milik kakaknya.

Sejak pagi hari, semangatnya sudah terlihat. Dengan wajah penuh rasa penasaran dan antusis, ia mengikuti setiap arahan sang kakak.

Mulai dari cara memegang joran, melempar kail, hingga menunggu pelampung bergerak sebagai tanda ikan mulai menyambar umpan

Setiap kali pelampung tenggelam, ia langsung berteriak kegirangan sambil menarik joran dengan tenaga yang dimilikinya. Senyum lebar selalu menghiasi wajahnya ketika seekor ikan nila berhasil terangkat ke permukaan. 

Momen sederhana itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan, terlebih karena hampir setiap lemparan kail menghasilkan tangkapan.

Butuh Dampingan Orang Dewasa

Walaupun demikian, kegiatan memancing bocah yang satu ini masih membutuhkan pendampingan penuh dari orang dewasa. Terlihat seperti dia memiliki asisten.

Pada pengalaman pertamanya itu, ia belum mampu memasang umpan berupa cacing ke mata kail. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh Bapaknya atau sang kakak yang selalu berada di sampingnya.

Si bocah sangat bangga dengan hasil pancingannya (dok: Gregorius Nafanu)
Si bocah sangat bangga dengan hasil pancingannya (dok: Gregorius Nafanu)

Bukan hanya memasang umpan, proses melepaskan ikan dari mata kail juga memerlukan bantuan. 

Mata kail yang tajam berisiko melukai tangan anak jika dilakukan tanpa pengalaman. Karena itu, setiap kali ikan berhasil ditangkap, orang dewasa segera membantu melepaskannya dengan hati-hati sebelum ikan dimasukkan ke dalam wadah.

Pendampingan seperti ini bukan hanya demi keamanan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengajarkan anak tentang kesabaran, tanggung jawab, dan cara memperlakukan hewan dengan baik. 

Anak belajar bahwa memancing bukan sekadar mendapatkan ikan, melainkan juga memahami proses, menghargai alam, dan menjaga keselamatan selama beraktivitas.

Kolam sang kakak di Nekus yang berada di belakang rumah memiliki banyak ikan nila. Tidak mengherankan jika dalam waktu yang tidak terlalu lama, ember tempat menyimpan hasil tangkapan mulai dipenuhi ikan nila berukuran sedang hingga besar.

Beberapa ikan dengan ukuran kecil dilepaskan kembali ke kolam. Mulanya, si bocah merasa kecewa karena hasil pancingannya dilepas kembali tetapi akhirnya ia tahu bahwa yang diambil adalah yang ukuran sedang hingga besar.

Melihat hasil tangkapan yang terus bertambah, rasa percaya diri sang bocah pun semakin meningkat. 

Ia bahkan beberapa kali meminta agar waktu memancing diperpanjang karena merasa sangat menikmati kegiatan tersebut. 

Pengalaman pertama itu seolah menjadi awal munculnya hobi baru yang menyenangkan.

Mengolah Hasil Mancing Bersama

Namun, keseruan tidak berhenti di tepi kolam. Setelah seluruh hasil tangkapan dibawa untuk diolah. Kegiatan berlanjut di dapur. 

Ikan-ikan nila segar kemudian dibersihkan satu per satu. Sisiknya dikikis hingga bersih, bagian perut dibelah untuk mengeluarkan isi perut, lalu dicuci menggunakan air bersih hingga tidak lagi berbau amis.

Tahapan berikutnya tidak kalah menarik. Ikan yang telah bersih diberi bumbu sederhana berupa garam, bawang putih, merica, ketumbar, dan beberapa rempah pilihan agar cita rasanya semakin gurih. 

Setelah didiamkan 15-30 menit agar bumbu meresap, ikan dijemur di bawah sinar matahari hingga setengah kering.

Proses penjemuran ini menjadi salah satu rahasia kelezatan ikan nila khas pedesaan. 

Penjemuran ikan nila jadi setengah matang, hasil pancingan si bocah (dok foto: Gregorius Nafanu)
Penjemuran ikan nila jadi setengah matang, hasil pancingan si bocah (dok foto: Gregorius Nafanu)

Daging ikan menjadi lebih padat, sementara bumbu semakin meresap ke dalam serat daging. Saat digoreng, bagian luar berubah renyah, tetapi bagian dalam tetap lembut dan terasa manis alami.

Aroma harum mulai memenuhi dapur ketika ikan dimasukkan ke dalam minyak panas. Warna kuning keemasan perlahan muncul, menandakan ikan telah matang sempurna. 

Hidangan sederhana itu kemudian disajikan bersama nasi hangat, sambal, dan lalapan segar.

Nikmatnya Hasil Pancingan Sendiri

Bagi keluarga, kenikmatan ikan nila hasil pancingan sendiri tentu menghadirkan kepuasan yang berbeda dibandingkan membeli di pasar. 

Ada cerita, usaha, dan kebersamaan yang menyatu dalam setiap suapan. Sang bocah pun tampak bangga menikmati ikan yang beberapa jam sebelumnya berhasil ia tangkap dengan tangannya sendiri.

Pengalaman sederhana di Nekus membuktikan bahwa libur sekolah tidak harus diisi dengan perjalanan mahal atau hiburan modern. 

Alam pedesaan mampu menghadirkan pelajaran hidup yang jauh lebih berharga. Anak belajar tentang kesabaran saat menunggu ikan menyambar umpan.

Mereka belajar bekerja sama dengan orang tua, mengenal sumber pangan, hingga memahami bahwa makanan yang tersaji di meja merupakan hasil dari sebuah proses panjang.

"Mancing mania, refreshing!" bukan sekadar ungkapan yang identik dengan hobi memancing. 

Bagi keluarga ini, kalimat tersebut benar-benar menjadi gambaran bagaimana libur sekolah diisi dengan aktivitas yang menyenangkan, mendidik, sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak. 

Dari sebuah kolam ikan di Nekus, lahirlah kenangan sederhana yang akan terus dikenang, lengkap dengan puluhan ikan nila segar yang berakhir menjadi santapan lezat untuk dinikmati bersama keluarga.***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4