dubviance
dubviance Pelajar Sekolah

i'm just doing my life

Selanjutnya

Tutup

Video

Stand By Me : Menatap Mayat, Menemukan Jati Diri

10 Juli 2026   13:25 Diperbarui: 10 Juli 2026   13:24 114 3 3

Ada sebuah kutipan ikonik di akhir film Stand by Me yang berbunyi: "I never had any friends later on like the ones I had when I was twelve. Jesus, does anyone?" Kalimat ini bukan sekadar penutup, melainkan sebuah hantaman emosional yang merangkum seluruh esensi dari mahakarya sutradara Rob Reiner yang dirilis pada tahun 1986 ini.

Diadaptasi dari novella karya Stephen King yang berjudul The Body, Stand by Me berhasil keluar dari bayang-bayang nama besar King yang identik dengan horor darah dan supranatural. Film ini justru tampil sebagai sebuah drama coming-of-age yang sangat humanis, hangat, sekaligus getir tentang sebuah fase transisi emosional dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan.

Poster asli film Stand By Me (1986). Sumber: Pinterest
Poster asli film Stand By Me (1986). Sumber: Pinterest

Sinopsis Singkat: Perjalanan Mencari Jasad, Menemukan Jati Diri 

Berlatar musim panas tahun 1959 di sebuah kota kecil fiktif bernama Castle Rock, Oregon, cerita ini berpusat pada empat sahabat berusia 12 tahun yang memiliki latar belakang dan trauma masing-masing:

  • Gordie Lachance (Wil Wheaton): Seorang anak kutu buku yang cerdas dan berbakat menulis, namun diabaikan oleh orang tuanya yang tenggelam dalam duka setelah kematian kakak laki-lakinya yang populer.

  • Chris Chambers (River Phoenix): Pemimpin kelompok yang bijaksana namun dicap buruk oleh lingkungan sekitarnya karena berasal dari keluarga kriminal dan alkoholik.

  • Teddy Duchamp (Corey Feldman): Anak yang eksentrik dan nekat, yang menyayangi ayahnya meskipun sang ayah mengalami gangguan jiwa akibat perang dan pernah membakar telinganya.

  • Vern Tessio (Jerry O'Connell): Anak yang penakut, gemuk, dan sering menjadi bahan candaan, namun memiliki hati yang polos.

Petualangan dimulai ketika Vern tidak sengaja mendengar kabar tentang keberadaan jasad seorang anak seusia mereka bernama Ray Brower yang hilang di hutan setelah tertabrak kereta. Didorong oleh keinginan naif untuk menjadi "pahlawan lokal" yang menemukan mayat tersebut, keempatnya berbohong kepada orang tua mereka dan memulai perjalanan berjalan kaki menyusuri rel kereta api sepanjang belasan mil.

Lebih dari Sekadar Petualangan: Pembedahan Trauma di Sepanjang Rel Kereta

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2