Seorang mahasiswa yang memiliki hobi mendaki gunung dan juga touring menikmati alam Indonesia

Tangerang Selatan - Pola konsumsi media di era digital tidak hanya menggambarkan pergeseran teknologi, tetapi juga cara masyarakat Indonesia dalam membangun identitas dan mencari kepuasan individu. Dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer, YouTube menunjukkan cara penyampaian konten yang berbeda dibandingkan media konvensional seperti televisi. YouTube tidak lagi tampil sebagai media yang searah dan kaku, melainkan sebagai ekosistem yang modern, serta lebih merepresentasikan pengalaman nyata masyarakat dari berbagai lapisan. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Laclau (2005) bahwa kedekatan simbolik antara konten dan realitas penonton adalah kunci utama keterikatan publik.
Berdasarkan data dari We Are Social dan Meltwater tahun 2025, YouTube kini menjangkau lebih dari 151 juta pengguna di Indonesia, melebihi dari separuh populasi penduduk yang ada di Indonesia. Tren ini didukung oleh fleksibilitas platform yang memungkinkan pengguna dengan mudah mengakses konten kapan saja dan di mana saja melalui perangkat seluler.
Saat ini YouTube menempati posisi teratas dengan rata-rata penggunaan di rentang waktu 16 menit 49 detik, sedangkan layanan video di platform lainnya berada di rentang waktu 1 menit 29 detik hingga 15 menit 4 detik. Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat Indonesia lebih senang menonton tayangan yang ada di YouTube ketimbang platform lainnya.
Berdasarkan data yang ada bahwa lebih dari 8 juta masyarakat Indonesia mengakses YouTube setiap harinya. Dimana angka tersebut bisa dibilang sangat besar karena ada lebih dari 5% masyarakat Indonesia yang pasti menggunakan YouTube setiap harinya selama setahun penuh.
Tayangan yang ada di YouTube lebih mengandalkan tingkat kretifitas melalui para kreatornya, dalam hal ini kreator Indonesia memiliki berbagai jenis konten yang beredar, ada konten yang mengangkat kisah filantropi, musik video, otomotif, dokumenter, podcast, pecinta alam, hingga kehidupan kreator itu sendiri. Konten yang ada di YouTube bukan sekadar konten visual, tetapi strategi pembangunan experiential credibility, yakni legitimasi yang diperoleh melalui representasi pengalaman otentik (Street, 2003). Dengan membagikan kontennya, YouTube membangun emosional kepuasaan penonton yang kuat dengan isi konten yang disukai atau mewakili karakter penonton itu sendiri.
Hal ini menjadikan YouTube dalam kategori media yang mendukung gaya populisme budaya. Melalui berbagai kanal vlog dan live streaming, YouTube secara konsisten memfasilitasi kebutuhan audiens untuk melihat sosok yang berbicara bukan sebagai otoritas yang kaku, melainkan sebagai "orang lapangan" yang memahami keinginan dan kepuasan masyarakat.
Salah satu ciri khas YouTube adalah kemampuannya bisa memhami keinginan penonton melalui riawayat penacarian dan juga daftar tontonan yang telah dilihat sebelumnya. Penonton sering mencari video yang berkaitan dengan mewakili perasaan dirinya untuk memuaskan rasa penasaran penonton tersebut. Kreator saat ini sering menghindari naskah yang kaku dan lebih memilih improvisasi spontan. Dalam teori komunikasi, spontanitas ini justru memperkuat kesan autentik, sebagaimana dijelaskan oleh Meyer (2020) bahwa kejujuran dalam komunikasi publik meningkatkan kepercayaan audiens. Unsur humor, kritik sosial yang dibalut komedi, hingga apresiasi terhadap kearifan lokal menjadi magnet yang memenuhi kebutuhan pelepasan ketegangan (tension release) bagi penontonnya.
Melalui data yang ada tipe tontonan online yang menjadi favorit masyarakat Indonesia yaitu berupa musik video yang menempati posisi pertama. Sedangkan untuk posisi kedua tontonan dengan kategori komedi, meme, atau video viral menjadi tipe tontonan video masyarakat Indonesia.
Di balik tampilan yang simpel, terdapat struktur penyampaian pesan yang efektif. Saat menjelaskan isu-isu kompleks melalui video edukasi atau terkait situasi terkini di Indonesia, YouTube menggunakan bahasa yang sederhana. Praktik ini berkorespondensi dengan gagasan Habermas (1984) tentang communicative action, yaitu pengemasan pesan yang berorientasi pada pemahaman bersama. Di sini, YouTube mampu menyederhanakan gagasan rumit menjadi narasi komunikatif yang memenuhi kebutuhan kognitif pengguna.
Pendekatan ini juga dapat dibaca melalui lensa Pierre Bourdieu (1991) tentang strategi simbolik. Kreator YouTube membuat simbol identitas, bahasa, dan pengalaman sosial untuk mendapatkan dukungan dari pengikutnya. Identitas sosial dari sang kreator juga menjadi modal simbolik yang memperkuat jaringan komunikasi di platform ini, memungkinkan audiens dari berbagai daerah merasa terwakili.