Saya memulai hidup ini dengan menulis puisi dan cerita pendek, kemudian jadi wartawan, jadi pengelola media massa, jadi creative writer untuk biro iklan, jadi konsultan media massa, dan jadi pengelola data center untuk riset berbasis media massa. Saya akan terus bekerja dan berkarya dengan sesungguh hati, sampai helaan nafas terakhir. Karena menurut saya, dengan bekerja, harga diri saya terjaga, saya bisa berbagi dengan orang lain, dan semua itu membuat hidup ini jadi terasa lebih berarti.
Pada saat yang sama, pelatih juga dituntut untuk memprediksi pola permainan lawan yang akan diterapkan di babak kedua. Setidaknya, kedua aspek tersebut, yaitu "analisa" dan "prediksi," bisa menjadi solusi atas kebuntuan tanpa gol di babak pertama.
Maseri Langsung Berseri
Dalam konteks ini, Jeffry Muhammad Maseri selaku pelatih Tunas Betawi, lebih jitu. Ia fokus menganalisa pola pertahanan belakang Nawasena. Atas dasar analisa itulah, ia mengarahkan secara kongkrit pola penyerangan yang harus dilakukan pasukan depan Tunas Betawi.
Terbukti nyata, hanya 7 menit setelah babak kedua dimulai, Alvin Alvaridzi memecahkan kebuntuan dengan mencetak gol pada menit ke-42. Nampaknya, Joni Herwanto selaku pelatih Nawasena, tidak cepat tanggap atas keberhasilan Jeffry Muhammad Maseri "membaca" pola pertahanan belakang mereka.
Joni Herwanto terpancing untuk memberi perhatian lebih pada lini depan Nawasena, dengan tujuan mencetak gol balasan. Akibatnya, pasukan Tunas Betawi semakin leluasa mengobrak-abrik kubu pertahanan Nawasena. Hanya 8 menit berselang, yaitu di menit ke-50, Muhammad Fadil Hasan, menyarangkan bola ke gawang Muhamad Wildan.
Kedudukan menjadi 2-0 untuk Tunas Betawi. Mental para pemain Nawasena, mulai melorot. Stamina serta daya juang mereka pun, menurun. Joni Herwanto sebagai pelatih, seolah kehilangan skala prioritas. Barisan penyerang kurang tajam, pertahanan belakang melemah.
Setelah menit ke-50 itu, memang ada upaya Joni Herwanto untuk membenahi lini belakang, agar tak kebobolan lagi. Namun, itu bukan obat yang ampuh, karena kondisi fisik dan mental para pemain Nawasena, sudah tercabik-cabik.
Sebaliknya, pasukan Tunas Betawi, makin gahar. Mereka sekuat tenaga membendung, agar tak ada gol balasan. Pada saat yang sama, mereka juga berambisi untuk mempertebal keunggulan. Ambisi itu diwujudkan Fahri Sutansyah di menit ke-66.
Sebagai pemain cadangan, Fahri Sutansyah tentu saja gemilang, karena sukses mempertebal keunggulan. Hingga pertandingan usai 2 kali 35 menit, kedudukan 3-0 untuk kemenangan Tunas Betawi.
Yosef Erwiyantoro dari radiobola.co.id, yang menjadi penyelenggara Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026, mengungkapkan, "Liga ini adalah kompetisi pembinaan menyeluruh. Membina pemain usia muda, sekaligus membina pelatih dan manajemen klub. Tujuannya, untuk membangun ekosistem persepakbolaan di DKI Jakarta."
Ada 16 klub yang menjadi peserta, yang berasal dari Sekolah Sepak Bola (SSB) yang tersebar di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Laga Nawasena lawan Tunas Betawi ini, merupakan laga ke-3, dari total 127 pertandingan di rentang waktu Juni hingga November 2026 mendatang.