Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Suka gowes?
Rame-rame atau sendiri?
Bingung memilih jalur sepeda?
Bersepeda adalah olahraga sekaligus sarana healing bagi banyak orang. Sayangnya jalur sepeda belum mendapat tempat, kecuali di jalan -jalan desa yang relatif sepi.
Bersepeda di jalan raya, apalagi berombongan tentunya sangat riskan karena bisa mengganggu kendaraan bermotor yang biasa melintasi jalan raya.
Sedang jika memanfaatkan jalus pedestarian, pastilah diprotes pejalan kaki. Repot dan ribet ya. Salah satu tempat nyaman untuk pejalan kaki tentunya jalan-jalan pedesaan seperti jalan desa di depan rumah saya.
Suasananya sepi, kendaraan bermotor hanya sesekali melintas, sangat nyaman untuk jalan kaki atau bersepeda.
Tapi bagaimana kalau jalan desa rusak? Tentunya membuat orang yang biasa bersepeda menjadi tak nyaman.

"Hati-hati, Bu,kalau lewat jalan ke timur. Jalannya rusak. Saya kemarin hampir terjungkal!"
Mbah Wiji, penjual jenang sumsum yang biasa lewat jalan desa depan rumah ku mengadu.
"Waduh, hati-hati Mbah kalau lewat situ. Jalan nya rusak parah!" Aku berempati.
"Sekarang saya nggak mau lewat situ lagi, Bu. Sudah kapok. Bahaya. Kalau saya jatuh kan urusannya tidak cuma badan, tapi juga panci wadah jenang bisa ambyar!"
"Inggih Mbah. Lewat jalan lain saja,Mbah!"
Saat itu, jalan desa depan rumahku memang banyak yang berlubang sehingga banyak cerukan yang membuat jalan tak rata.

Cukup meresahkan sebenarnya. Tapi tidak tahu kemana harus mengadu.
Nah, beberapa hari yang lalu, saat aku sedang asyik seterika baju, tiba-tiba tercium bau plastik terbakar. Eh, bukan. Seperti nya bau aspal dibakar. Awalnya saya mengira itu plastik terbakar. Membuat saya blingsatan, khawatir setrika membakar sesuatu.
Tapi tak lama terdengar suara kerikil dilempar. Akhirnya saya keluar ke depan rumah.
Wow, ternyata ada perbaikan jalan. Mungkin ini program pemerintah. Tahu-tahu jalan diperbaiki tanpa pemberitahuan. Biasanya, kalau dari desa, warga sekitar diberitahu dan dilibatkan untuk sekedar menyediakan minuman dan camilan.

Tapi kalau program pemerintah, seperti perbaikan jalan sebelumnya, tahu-tahu banyak pekerja di jalan dan mesin penggilas jalan yang di sini biasa disebut gilis mondar mandir meratakan dan menekan kerikil agar jalan yang dibangun kuat dan kokoh.

"Ini program desa,Pak?" Tanya saya pada salah satu pekerja jalan yang berdiri di depan pagar rumah saya.
"Tidak tahu, Bu. Kami cuma menjalankan perintah," jawabnya.
Saya tidak bertanya lebih jauh. Mungkin bukan wewenang saya untuk nyinyir. Eh...
Pak Sopir Slender atau gilis mondar mandir. Menggelitik saya untuk merekamnya.

"Ijin, dulu Dek kalau mau merekam!" Suamiku berteriak saat tahu aku membawa ponsel keluar.
"Iya!" Balasku sambil bergegas.
"Pak, boleh saya rekam?" Tanyaku pada Pak Sopir.
"Silakan, Bu!"
Terima kasih, Pak!" Aku langsung asyik merekam dan memvideo mesin perata jalan ini. Suaranya khas dan membahagiakan. Pertanda jalan rusak akan kembali bagus dan layak dilewati.

Proses perbaikan jalan berlangsung cepat. Tak sampai satu hari, jalan di depan rumah sudah halus dan rata. Siap untuk bersepeda dengan nyaman.
Yuk saksikan kerja keras memperbaiki jalan yang dilakukan oleh bapak-bapak dalam video yang sudah saya rekam.
Sumber : YouTube @Isti Yogiswandani channel