Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

"Tassss!!!!"
"Auwwww...! Astaghfirullah!" Aku menjerit kaget dan syok saat tanganku langsung memerah dan melepuh usai membuka tutup botol yang terlempar keras dan mencelat jauh ke mana.
Setelah sadar apa yang terjadi, sementara madu di dalam botol mengeluarkan buih yang terus mengalir, Aku celingukan mencari tutup botol. Kuabaikan pangkal jari yang terasa ngilu dan memerah.

Akhirnya tutup botol yang kucari kutemukan di dalam kamar. Bisa dibayangkan seberapa besar ledakan yang terjadi. Mungkin tadi tutup botolnya terlempar keras menabrak pintu kamar yang terbuka, sehingga terlempar masuk ke kamar. Padahal Aku membuka botolnya di meja makan.
Aku jadi was-was, jangan-jangan madunya berbahaya untuk dikonsumsi. Tapi madunya sudah kubuka dan kucicipi tepat sejak seminggu lalu saat baru kubeli. Sampai sekarang aman saja. Rasanya sekilas dan samar seperti buah nangka, atau buah lain yang aromanya mirip, manis dan harum.

Akhirnya Aku berselancar mencari penyebab meledaknya botol berisi madu saat tutup kubuka.
Ada perbedaan pendapat tentang madu yang meledak karena terfermentasi dan madu yang berbuih, dari kacamata dokter dan kacamata peternak lebah madu.
Dikutip dari hellosehat.com, ada pendapat yang berbeda ditinjau dari kacamata dokter dan peternak lebah.
Jika madu sudah terlihat berbusa atau berair, lebih baik membuangnya. Ini menandakan madu telah terkontaminasi dan tidak lagi layak untuk dikonsumsi(dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes, Akp, dokter. Hellosehat.com)
Madu yang berbusa menandakan bahwa madu tersebut asli buatan dari lebah. Karena enzim diastase ini adalah zat yang hanya dapat ditambahkan oleh lebah ketika proses pematangan madu berlangsung(R Wijaya, peternak lebah madu )
Sedang madu yang meledak/muncrat saat tutup botol nya dibuka, karena adanya enzim diastase. Enzim ini dapat ditemui hanya di dalam madu mentah yang murni.
Bahkan ini pula yang yang bisa dijadikan indikator keaslian madu. Uniknya, enzim merupakan protein yang juga hanya dapat aktif ketika keadaan-keadaan tertentu.
Tak jarang inilah yang membuat madu meledak ketika disimpan di tempat tertutup dan tergoncang terlalu lama(Mas Kerto Disinfectanto, peternak lebah madu)
Botol madu meledak dan berbusa saat dibuka karena proses fermentasi alami, yang terjadi ketika kadar air dalam madu tinggi dan terpapar panas atau sinar matahari.

Proses ini melibatkan mikroorganisme seperti ragi (yeast) yang menghasilkan gas karbondioksida(CO2) menyebabkan tekanan di dalam botol. Madu dengan kadar air tinggi lebih mudah mengalami fermentasi.
Madu asli yang tidak dipanaskan (dipasteurisasi) dapat mengalami fermentasi alami karena kandungan gula dan enzim yang aktif.
Jika kadar air madu lebih tinggi dari ideal (sekitar 18%), ragi akan lebih mudah aktif dan memicu fermentasi lebih cepat.
Menyimpan madu di tempat yang panas atau terkena sinar matahari langsung dapat mempercepat proses fermentasi dan penumpukan gas.
Jika madu hanya berbusa atau meletup saat dibuka, namun tidak berbau asam atau sudah rusak, madu tersebut aman dikonsumsi, meskipun busanya bisa sedikit disatukan kembali, atau dibuang jika mengganggu.
Tapi jika madu sudah berbusa berlebihan, berbau tidak sedap, atau terlihat sudah rusak, sebaiknya dibuang karena bisa jadi sudah terkontaminasi atau rusak parah.
Nah, indikator terakhir untuk menentukan apakah madu itu basi, atau hanya mengalami proses alami madu mentah sebagai madu asli yang tidak mengalami pengolahan seperti pasteurisasi atau penambahan gula, maka madu tersebut aroma, rasa dan penampakannya tetap bening, tidak keruh dan tidak berbau, sehingga tetap layak dikonsumsi.
Sumber: YouTube @Isti Yogiswandani channel
https://hellosehat.com/community/nutrisi/apakah-madu-yang-berbuih-masih-bisa-di-konsumsi/