Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kejadian Ajaib Setelah Sedekah Kurban. Sebuah Pengalaman Hidup yang Tak Pernah Saya Lupakan. Inilah kisah Omjay atau Wijaya Kusumah di kompasiana dalam rangka ikut memeriahkan topik pilihan kompasiana tercinta. Tak terasa sudah dari tahun 2008 Omjay menulis di blog keroyokan papan atas ini.
Hari Raya Idul Adha selalu menghadirkan kenangan mendalam dalam hidup saya. Bagi sebagian orang, kurban hanyalah rutinitas tahunan. Ada yang melakukannya karena tradisi keluarga, ada pula karena kewajiban agama semata. Namun bagi saya, kurban adalah perjalanan spiritual yang mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT.
Saya masih mengingat jelas sebuah kejadian yang sulit dilupakan. Peristiwa itu terjadi beberapa tahun lalu ketika kondisi keuangan keluarga sedang tidak baik-baik saja.
Sebagai seorang guru, penghasilan yang saya terima harus dibagi untuk kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, transportasi, dan berbagai keperluan lainnya. Bahkan saat itu saya sempat berpikir untuk tidak berkurban terlebih dahulu.
Peluncuran Buku "Kisah Omjay 50 Tahun menjadi Manusia"
Namun hati kecil terus berbisik. "Kalau bukan sekarang, kapan lagi belajar ikhlas?" begitu suara yang terus hadir dalam pikiran saya. Saat itu saya memiliki sedikit tabungan yang sebenarnya disiapkan untuk kebutuhan lain.
Jumlahnya pas-pasan. Bahkan setelah dihitung berkali-kali, uang tersebut terasa berat untuk dikeluarkan membeli kambing kurban. Apalagi ada kebutuhan sekolah anak yang juga mendesak.
Malam sebelum membeli hewan kurban, saya sulit tidur. Pikiran terus dipenuhi pertimbangan antara logika dan keyakinan. Logika mengatakan uang itu harus disimpan. Namun keyakinan dalam hati mengatakan bahwa sedekah tidak pernah membuat seseorang miskin.
Akhirnya, setelah shalat tahajud, saya mengambil keputusan besar. Saya berkata kepada istri, "Kita belajar percaya kepada Allah. Insya Allah ada jalan." Istri saya tersenyum pelan dan mengangguk. Dukungan sederhana itu membuat hati saya semakin mantap.
Keesokan harinya, saya membeli seekor kambing kurban sederhana. Tidak besar, tidak mahal, tetapi dibeli dengan niat tulus. Saat menyerahkan uang pembayaran, ada rasa haru bercampur cemas di dalam dada. Tabungan hampir habis. Namun saya mencoba menenangkan diri.