Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Kehilangan dan Meninggalkan, ini adalah saat yang tidak bisa dihindarkan.
Setelah 2 hari satu malam, acara berakhir dan kita akan merasa kehilangan dan Meninggalkan peserta yang sudah seperti saudara untuk kembali ke daerah dan rumah masing-masing.
Pagi tidak terlalu cerah, tapi kami semua sudah semangat beraktivitas sejak pagi untuk terakhir kalinya menikmati keindahan Wonolelo hill camp.
Agak sayang sebenarnya, cuaca pagi yang mendung membuat keinginan kita menyambut matahari jadi gagal. Meski begitu, keindahan Wonolelo masih tetap bisa terekam.

Setelah selesai mengemasi barang dan mobil sudah siap meluncur, kami mulai mengambil dokumentasi terakhir dengan Selfi sepuasnya.
Tak lupa mengajak foto peserta lain sambil berpamitan. Sudah pukul 09.00 dan cuaca agak mendung. Kami bergegas agar tidak terjebak hujan di perjalanan.

Mungkin untuk siang hari rute lebih bersahabat karena jalan yang dilalui bisa terlihat jelas. Tapi saat hujan dan berkabut tentunya perjalanan lebih berat. Jadi untuk mengantisipasi cuaca, kami harus bergegas agar tidak terjebak hujan.
Usai berfoto untuk terakhir kalinya, kami berpamitan. Pada keluarga Om Anang dari Bumi ayu, terus Om yang dari Ungaran, Boyolali, Ponorogo, bahkan ada yang berasal dari Jambi.

Camping kali ini sungguh berkesan, di samping indahnya lokasi camping, juga keakraban peserta dari yang baru sekali bertemu, sampai yang sudah sering bersama dalam acara camping, tapi baru kenal dan sempat ngobrol pada acara kali ini.

Kita juga bisa bertukar camilan, dan saling mengenal dengan peserta lain, menambah koneksi dan saudara.
Merilis kehilangan memang berat, tapi Insyaallah kita bisa bertemu di lain waktu.Semoga ya...
Entah kenapa, perjalanan pulang kali ini sangat berbeda dengan saat perjalanan menuju lokasi kemah. Saat menuju lokasi, perjalanan terasa begitu mendebarkan dan menegangkan, bahkan sejujurnya juga mengerikan.
Tapi saat pulang, perjalanan terasa begitu mudah dan lancar. Saat menuju lokasi, auranya begitu asing dan perjalanan membuat kami seringkali menahan nafas.

Tapi perjalanan pulang, terasa begitu normal dan biasa melewati jalan mulus beraspal. Mungkin karena hari sudah terang, dan jalan jelas terlihat. Meski banyak tikungan, berkelok naik turun, tapi terasa nyaman seperti melaju di jalan raya beraspal seperti biasanya. Tikungan tajam, jalan berkelok, tanjakan dan turunan bisa dilalui dengan mudah.
Entahlah. Mungkin itu rahasia sang waktu. Suasana malam sangat berbeda dengan siang hari. Kengerian yang terjadi saat malam menuju lokasi tidak terasa sama sekali saat pulang.
Entah kenapa bisa begitu. Alhamdulillah, kami hanya bisa bersyukur, diberi kemudahan dan kelancaran saat pulang.
Selamat tinggal Wonolelo, semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi.