Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025
"Tanggung, Dek! Sudah dekat. Ayo lanjut saja!" Ayah terus berjalan.
"Kamu di depan saja!" Ayah malah menyuruh aku di depan.

Yowes, Aku di depan sambil mempelajari situasi. Benar saja, suara air mengalir terdengar lebih keras.
Akhirnya terlihat aliran air dari atas, cukup deras. Tak heran membuat jalan setapak di bawah tadi tergenang. Kubiarkan saja kakiku tergenang dan celana ku basah semata kaki.
Sepertinya ini yang dimaksud air terjun Widodaren, karena jalan setapak di depan sudah buntu.

Untuk merekam harus nempel ke sisi yang berlawanan dengan sungai. Jalan dan area sangat terbatas hanya selebar kurang dari satu meter.
Harus super hati-hati agar tidak terjatuh ke sungai di bawah. Sementara percikan aliran air seperti curah hujan, membuat kaos dan celana basah kuyup.
"Nekat saja, nggak usah lama-lama merekamnya. Sudah di situ saja Mas. Jangan bergerak. Nanti gantian ambil video nya! Aku meminta suamiku diam di tempat.
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga merekam"Air terjun Widodaren". Kini Aku paham, kenapa wisata ini kurang diminati wisatawan.