Isti  Yogiswandani
Isti Yogiswandani Lainnya

Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren

3 Februari 2026   13:59 Diperbarui: 3 Februari 2026   17:02 185 10 2

Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Pagi selepas subuh, cuaca lumayan cerah. Sepertinya saat yang tepat untuk jalan-jalan mengeksplor keindahan alam di sekitar lokasi camping yang berdekatan dengan tempat Pemandian Air Panas Tirta Husada Ponorogo.

Kontur jalan yang menurun tajam dan tanjakan di arah sebaliknya menjadi tantangan tersendiri untuk jalan kaki sekalipun jalan santai.

Di bawah terlihat hamparan sawah teras siring yang menghijau , bahkan beberapa sudah menguning menyuguhkan pemandangan yang indah dan memanjakan mata di pagi yang segar.

Melewati area pemandian, ternyata portal sudah buka. Tadi pagi, saat kami berniat salat subuh di Musala yang lokasinya di dalam area pemandian, gerbangnya masih terkunci.

Beruntung di luar ada kran yang bisa dimanfaatkan untuk berwudhu, sehingga kami hanya mengambil air wudhu dan kembali ke lokasi perkemahan untuk menunaikan salat di tenda.

Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Berjalan -jalan pagi di alam bebas terasa segar dan nyaman menghirup udara pagi yang dingin. Kami berdua terus berjalan di sepanjang jalan sambil menikmati suguhan keindahan alam yang cukup memukau. Sambil berharap, semoga di cekungan yang kami lewati bukan area rawan banjir dan longsor, sebab kemarin sore hujan turun begitu deras.

Lahan di pinggir jalan ditanami cabe dan jagung di samping tanaman padi yang menghijau dan masih pendek. Sepertinya belum lama ditanam. Bangunan yang terlihat bisa dihitung dengan jari. Di sini memang bukan area perkampungan.

Sampai di gapura, kami bertemu dengan 2 orang Bapak yang sedang mengobrol. Suami ku segera menyalami penduduk yang ramah dan terlihat welcome. Keramahan khas penduduk desa. Bisa jadi mereka juga sudah mendapat briefing bagaimana menjadi tuan rumah desa Wisata.

Akhirnya Suamiku mengajak melanjutkan perjalanan, karena menurut cerita Pak Noyo(bukan nama sebenarnya), sekitar 0,5 km dari gapura ada air terjun. Namanya Air Terjun Widodaren. 

Sayang nya, menurut Pak Noyo, wisata air terjun ini kurang diminati wisatawan. Tentunya ini justru membuat penasaran, kenapa tidak diminati.

Akhirnya kami berniat melihat sendiri air terjun Widodaren yang ternyata sudah ada di google maps.

Sudah lumayan lama kami berjalan, tapi tanda-tanda keberadaan air terjun belum kelihatan.

Jalan setapak. Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Jalan setapak. Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

"Kata Pak Noyo tadi kalau sudah sampai jembatan baru belok kiri, Dek!" 

"Lha jembatan nya saja belum kelihatan!"

"Jangan-jangan sudah terlewat!" 

"Belum, ah. Aku belum melihat jembatan kok!"

"Ya sudah! Mau lanjut atau balik?"

"Lanjut dulu saja, sambil cari tanaman patikan kebo buat jamu."

Kami melanjutkan perjalanan, jalannya sudah beraspal meski rumah yang kami temui masih jarang. Sepanjang perjalanan tercium aroma wangi durian. 

Ada beberapa pohon durian di sepanjang tepi jalan, yang buahnya sudah terlepas dari tangkai nya dan tergantung di tali pengikat. Rupanya dari sini aroma wangi durian tercium, dari durian yang sudah masak pohon.

Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

"Itu jembatan nya Mas! Di bawah sana!"

"Tapi kok tidak ada tanda-tanda air terjun?"

"Kata Pak Noyo tadi, dekat jembatan ada rumah, terus  untuk menuju air terjun belok kiri setengah km!"

"Walah, kirain tadi setengah kilometer sudah sampai air terjun!"

"Belum! Sampai jembatan dulu, baru belok setengah kilometer!"

Huuu... nyebelin! Aku diprank nih. Tapi sudah sampai sini, sayang kalau harus putar balik tanpa hasil.

"Ya sudah, ayo lanjut!"

Benar saja, di dekat jembatan ada rumah, tepatnya mungkin semacam pos untuk istirahat. Ada tulisan Air terjun Widodaren dan anak panah menuju jalan setapak. Aku termangu.

Masih menimbang-nimbang, antara lanjut karena penasaran, dan rasa trauma terjebak di hutan belantara seperti saat mencari keberadaan air terjun Tirto Gumarang. Apalagi gerimis mulai turun, meski hanya rintik -rintik.

"Mas!" Ayah memanggil pemotor berboncengan yang segera menghentikan motornya.

"Ini benar arah ke Air terjun Widodaren?"

"Betul, Pak!" Jawab nya.

"Sudah dekat?"

"Sekitar setengah kilometer!"

"Kalau kondisi jalannya, seperti ini terus sampai lokasi, atau masuk hutan?"

"Seperti itu terus sampai air terjun, Pak!"

"Oke, terimakasih Mas!"

"Sama-sama, Ibu!"

"Ya sudah! Ayo kita came on, Mas!"

Benar saja, ternyata jalan nya sudah lumayan tertata, meski cuma jalan setapak, tapi sudah diberi batu-batu kecil yang sambil berjalan bisa untuk pijat refleksi.

Kami menyusuri jalan setapak di pinggir sungai. Di bawah mengalir sungai dengan batu-batu besar. Berharap di sekitar sini bukan area rawan banjir.

Sampai di sini jalan masih nyaman dan tidak ada air tergenang. Tapi tetap harus hati-hati meniti jalan setapak, sebab di bawah ada jurang yang dasarnya berupa sungai.

Sampai di tempat licin yang sedikit tergenang, sementara di sebelah kanan adalah jurang sungai tanpa sekat atau pembatas. Rasa kengerian akan ketinggian sempat menghampiri saat menengok jauh ke bawah.

Menyusuri jalan setapak di tepi sungai (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Menyusuri jalan setapak di tepi sungai (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Segera kualihkan pandangan ke sebelah kiri. Tanah ketinggian yang banyak ditumbuhi rumput dan tanaman yang bisa ku jadikan pegangan.

"Mepet sebelah kiri saja, Dek!" Suami memberi instruksi.

Lumayan berat, sih! Kepalang basah. Basah betulan, ujung celana trainingku sudah basah.

"Balik saja, Mas!" Aku menjerit panik.

Jalan setapak di depan tergenang air, dan terlihat aliran air yang terus bergerak. Aku khawatir ada banjir dari atas. Jangan-jangan di sini area rawan banjir.  Maklum kami buta tentang kondisi lokasi. Apalagi butiran air mulai turun dari atas.

"Tanggung, Dek! Sudah dekat. Ayo lanjut saja!" Ayah terus berjalan.

"Kamu di depan saja!" Ayah malah menyuruh aku di depan.

Aliran air dari atas  yang diklaim sebagai Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Aliran air dari atas  yang diklaim sebagai Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Yowes, Aku di depan sambil mempelajari situasi. Benar saja, suara air mengalir terdengar lebih keras.

Akhirnya terlihat aliran air dari atas, cukup deras. Tak heran membuat jalan setapak di bawah tadi tergenang. Kubiarkan saja kakiku tergenang dan celana ku basah semata kaki. 

Sepertinya ini yang dimaksud air terjun Widodaren, karena jalan setapak di depan sudah buntu.

Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Perjalanan Tak Sengaja Menuju Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Untuk merekam harus nempel ke sisi yang berlawanan dengan sungai. Jalan dan area sangat terbatas hanya selebar kurang dari satu meter.

Harus super hati-hati agar tidak terjatuh ke sungai di bawah. Sementara percikan aliran air seperti curah hujan, membuat kaos dan celana basah kuyup. 

"Nekat saja, nggak usah lama-lama merekamnya. Sudah di situ saja Mas. Jangan bergerak. Nanti gantian ambil video nya! Aku meminta suamiku diam di tempat.

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga merekam"Air terjun Widodaren". Kini Aku paham, kenapa wisata ini kurang diminati wisatawan. 

Sudah lega. Perjalanan pulang dari Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Sudah lega. Perjalanan pulang dari Air Terjun Widodaren(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Yuk kita kembali ke lokasi camping. Lumayan sudah basah kuyup, kalau tiba-tiba pengin buang air nggak kelihatan. Bisa sengaja ngompol. Eh, bercanda. Nanti sampai lokasi pemandian langsung mandi, hihihi...

Yuk tonton keseruan"Air Terjun Widodaren " dalam video yang sudah Aku rekam

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7