Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga, tapi juga tentang menata ulang ritme harian kita. Di tengah gempuran tren war takjil di pinggir jalan, ada satu hobi yang justru menemukan panggung utamanya di dalam rumah: Memasak.
Bagi sebagian orang, dapur mungkin identik dengan kepulan asap dan cucian piring yang menumpuk. Namun, bagi saya yang jobi memasak dan menjalaninya dengan hati, memasak selama Ramadan telah bertransformasi dari sekadar kewajiban menjadi sebuah bentuk kreativitas, bahkan terapi mental.
Di era di mana kita sering terjebak dalam doomscrolling media sosial sambil menunggu bedug, memasak menawarkan pengalihan yang nyata.

Fokus memotong sayur, memfillet daging atau ikan, menakar bumbu, dan memperhatikan perubahan warna masakan memaksa kita untuk hadir sepenuhnya di momen memasak (mindfulness).
Ini adalah cara terbaik untuk mengalihkan rasa lapar sekaligus mengistirahatkan mata dari layar ponsel.
Ramadan selalu lekat dengan memori. Hobi memasak memungkinkan kita menghadirkan kembali resep-resep warisan keluarga yang mungkin jarang tersaji di bulan-bulan biasa.
Membuat hidangan masa kecil yang otentik atau menggoreng tempe tepung yang legend, membuat botok, bukan sekadar menyiapkan makanan, tapi merawat tradisi dan mengenang kembali momen masa kecil yang hangat.

Bulan puasa adalah waktu terbaik untuk mengeksplorasi resep baru. Banyak orang memanfaatkan waktu luang sebelum berbuka untuk mencoba hidangan yang sedang viral atau memodifikasi menu tradisional menjadi lebih modern.