Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Kejahatan yang dilakukan Predator Child Grooming merupakan sabotase sistematis terhadap kemanusiaan. Di balik topeng cinta serta kepura-puraan kasih sayang, penjahat itu bekerja dalam sunyi untuk merampok kedaulatan jiwa anak. Tindakan tersebut memutus komunikasi mereka dengan orang tua sekaligus meninggalkan lubang trauma yang menganga. Namun, tragedi sesungguhnya terjadi setelah predator tertangkap; ketika publik saat melanjutkan penderitaan korban melalui stigma maupun penghakiman.
Banyak orang, mungkin juga Anda dan Saya, lupa melawan Predator Child Groimong tidak cukup dengan amarah atau jeruji besi. Namun, melampaui "hukum yang terlihat," yaitu memulihkan martabat korban yang terhempas dan hancur. Karena sering terjadi mantan korban Predator Child Grooming harus menghadapi "pembunuhan karakter" kedua melalui ucapan sinis seperti "kamu noda" atau "engkau mempermalukan keluarga." Sikap menghakimi serta pengucilan sosial ini adalah bentuk pengulangan pengrusakan yang secara perlahan mematikan keinginan subjek untuk terus hidup.
Oleh sebab itu, Anda dan Saya, harus membangun kesadaran kolektif bahwa para mantan korban Predator Child Grooming merupakan jiwa terluka; mereka bukan insan yang ternoda dan harus dibuang, demi "nama besar kehormatan keluarga tidak tercoreng."
Pandanglah dan Lihatlah! Para mantan korban Predator Child Grooming masih sebagai Bunga-bunga Indah di Taman Firdaus; bunga-bunga yang "Air Kasih Sayang" dan "Pupuk Penerimaan" yang sementara ada di/'dalam hati Anda dan Saya.
Segera! Bukanlah hatimu, lebarkan jangkauan tangan perhatian dan kasih sayang, sebagai "Air Kasih Sayang dan Pupuk Penerimaan." Berikan air dan pupuk itu, tanpa lelah dan berkata, "Sudah Cukup Kelelahanku!"
Karena pemulihan bukan proses sekali jadi, melainkan perawatan yang berkelanjutan (konsisten) serta penerimaan tanpa syarat. Jangan memberikan dukungan. Ini adalah panggilan kolektif, bukan sekadar simpati sesaat.
Inilah saatnya membuktikan bahwa kekuatan kasih sayang serta penerimaan yang Anda dan Saya berikan, jauh lebih besar daripada trauma mana pun. Agar terukir dalam mereka bahwa tidak terbuang karena pernah menjadi korban kejahatan yang tidak diinginkan.
"Bergeraklah sekarang! Demi masa depan kemanusiaan yang bermartabat."
