Arifbol
Arifbol Penulis

Belajar buat artikel sendiri mulai sekarang karena kata bapak Rocky Gerung plagiarisme atau menjiplak adalah kejahatan intelektual.

Selanjutnya

Tutup

Video

Lamunan Tanpa Ujung

11 Mei 2026   07:13 Diperbarui: 11 Mei 2026   07:13 90 3 1


JUDUL: LAMUNAN TANPA UJUNG

CIPT: Arifbol (Dibantu AI)

Video lagu ini saya ciptakan sebagai kelanjutan kisah hidup yang pernah saya tuliskan sebelumnya. Bagi saya, musik bukan sekadar nada dan lirik, melainkan cara berbicara saat mulut tak sanggup lagi mengungkapkan apa yang ada di dalam dada. Lagu "Lamunan Tanpa Ujung" ini adalah gambaran paling jujur dari perasaan seorang pria yang kehilangan separuh hidupnya, saat keluarga yang dicintainya pergi meninggalkannya sendirian.

Lirik ini dimulai dari suasana yang sangat sederhana namun menyakitkan: "Aku duduk diam di sudut ruang yang sunyi, menatap dinding kosong, tak ada yang kulihat di sini." Di sinilah kenyataan pahit itu dimulai. Setelah perceraian dan anak pergi bersama ibunya, rumah yang dulunya hangat dan penuh tawa, berubah menjadi ruang hampa yang dingin. Di mana-mana hanya ada keheningan. Kopi di meja dingin tak disentuh, waktu terasa berjalan begitu lambat, seolah ikut berhenti bersedih bersamaku. Di sini, aku merasa terpisah dari dunia luar. Orang bicara, orang lewat, tapi tak satu pun terdengar olehku. Ada tembok tak kasat mata yang membatasi aku dan mereka---karena mereka masih punya dunia, sedangkan duniaku sudah ikut pergi bersama mereka.

Ada satu hal yang paling menyakitkan dan jarang dimengerti orang lain: rasa kosong itu jauh lebih perih daripada rasa sedih atau marah. Seperti yang tertulis di lirik: "Bukan rasa marah yang kini ada di dada, bukan pula tangis yang ingin aku keluarkan. Hanya ada kekosongan, luas tak bertepi." Orang mungkin berpikir, kalau sedih menangis saja. Tapi tidak selalu begitu. Ada luka yang begitu dalam hingga membuat hati mati rasa. Tidak ada air mata, tidak ada amarah, hanya ada kehampaan yang meluas. Rasanya seperti separuh jiwa ini dicabut paksa saat istri dan anak melangkah pergi, dan yang tersisa hanyalah tubuh yang berjalan, tapi hatinya sudah tertinggal di masa lalu.

Banyak orang bertanya padaku, "Kenapa kau diam saja? Kenapa kau melamun terus?" Mereka tak akan pernah paham jawabannya. Bagaimana mungkin mereka mengerti isi dada yang kosong ini? Bagi mereka, melamun itu buang waktu, hal yang tak berguna. Tapi bagiku, melamun adalah satu-satunya cara bertahan hidup. Saat aku melamun, aku bisa kembali ke masa lalu. Aku bisa mendengar lagi tawa anakku, bisa melihat wajah istriku, bisa merasakan kehangatan rumah ini seperti dulu. Di alam lamunan, aku masih memiliki segalanya. Di dunia nyata? Aku hanya pria berhati kosong, mencari sisa kasih yang tak lagi kutemukan di mana pun.

Rumah ini kini menjadi saksi bisu perubahan itu. "Dulu rumah ini riuh, penuh tawa dan cerita. Sekarang hanya gema suaraku yang menjawab kembali." Kenangan ada di setiap sudut, di setiap benda, di setiap ruangan. Semuanya masih sama, penempatannya tak berubah, tapi rasanya beda jauh. Langit pun terlihat selalu kelabu, sama persis dengan isi hatiku yang tak pernah lagi cerah.

Lagu ini saya persembahkan untuk semua ayah atau siapa pun yang bernasib sama: harus berpisah dari orang-orang terkasih, harus hidup sendiri, dan menanggung rasa sepi yang tak berujung. Hidup memang terus berjalan, waktu tak berhenti, tapi ada bagian dari diri ini yang berhenti bergerak, tertahan di masa lalu.

Kini, aku masih di sini. Masih duduk diam, masih menatap kosong, dan masih melamun lagi... melamun lagi... Menunggu waktu yang entah sampai kapan, berharap ia bisa menyembuhkan apa yang tersisa dari diriku yang hancur ini.