Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Berawal dari Ajakan Mas Mul, yang terkadang kita panggil Mbah Mul juga, karena begitulah beliau menjenamakan diri untuk mengeksplor air terjun parijotho di Dusun Pamongan Kediri. Air terjun ini masih jarang dikunjungi sehingga membuat kita penasaran.
Dari berbagai referensi yang saya baca, ada beragam pengalaman yang berbeda-beda. Dari yang kapok, suka, sulitnya medan, sampai keindahan pemandangan di sekitar air terjun yang memesona. Semua coba saya pelajari.
Ada yang mendeskripsikan perjalanan ke lokasi seperti pendakian dengan medan yang cukup sulit, saran untuk berhati-hati dan mengutamakan keselamatan, sampai persiapan yang matang.
Ada juga yang memperkirakan jauhnya sekitar 1,5 km dengan kondisi rute yang beragam, dari jalan mudah sampai ekstrem. Sedang waktu tempuh sangat dipengaruhi oleh kita sendiri, dari kecepatan, jumlah personil, sampai kemampuan mengatasi sulitnya Medan.
Karena suami sudah setuju, akhirnya saya ikut juga. Tapi kalau Medan terlalu sulit dan ekstrem, saya nanti mungkin memilih menunggu di basecamp di rumah penduduk.
Berangkat dari rumah sekitar setengah dua, kami banyak berhenti, dari isi BBM, berhenti membeli kelengkapan mobil seperti oli dan entah minyak rem atau apa sampai macet di tengah kota. Walhasil sampai di pintu tol sudah menjelang pukul 15.00 wib, padahal kata suami sudah janjian dengan Mas Mul habis ashar berangkat.
Akhirnya sampai di Kediri, tepat nya di rumah Mbah Mul sudah pukul lima lebih, menjelang Maghrib.
Kami memutuskan untuk berangkat bakda Maghrib saja. Tak lama Om Kelik dan Tante Monik sudah datang. Sayangnya Om Agus dan Tante Enok tidak bisa ikut gabung karena ada acara yang tidak bisa ditinggalkan.
Semoga lain waktu "Grup Mbah-mbah lali omah" bisa bersama dalam formasi lengkap untuk kembali mengeksplor alam bersama -sama. Akhirnya kami segera berangkat menuju lokasi.
Belum lama melaksanakan perjalanan, Mas Mul dan Tante Etik yang berada di paling depan menghentikan mobil. Suami ikut berhenti dan parkir.
"Ada apa Te?" Saya bertanya pada Tante Etik
"Kita makan dulu di sini. Menunya lengkap. Tinggal pilih!"
"Oke!" Kami berenam masuk ke Rumah makan pecel Tumpang Khas Kediri Bu Beny.

Pecel tumpang adalah pecel dengan berbagai sayuran, dan disiram sambal tumpang. Sambal tumpang ini bahannya bukan dari kacang tanah, tapi dari tempe yang biasanya sudah agak semangit atau over matang direbus dan dihaluskan, kemudian dimasak dengan bumbu seperti cabe rawit, santan, bawang merah, bawang putih, kencur, garam gula.
Tambahkan juga daun jeruk, laos dan daun salam untuk memperkaya aroma. Bumbu ini dimasak sampai agak mengental seperti bumbu pecel.
Meski ini restoran pecel tumpang, kita justru memilih menu lain, karena di sini ada bermacam-macam sayuran dan lauk dengan aneka masakan berbeda yang bisa dipilih.

Suami pilih pepes dan sayur bening. Saya pilih sayur bening, sambal dan mangut salem, sementara Mas Mul, Om Kelik Tante Monik, dan Tante Etik juga memilih menu yang berbeda. Sepertinya favorit mereka trancam. Urap dengan sayuran mentah.
Setelah pilih menu, kita bawa dulu ke kasir untuk dibayar. Tapi kasirnya malah bertanya, " Ini rombongan yang mana, ya?"
Tante Etik yang berdiri di sampingku malah bilang," sama minumnya sekalian. Mau minum apa Te?"
"Jeruk anget saja!" Jawabku. Ternyata makan malam ini dibayarin Tante Etik.
"Sudah, santai saja. Pokoknya kalau di sini, Aku yang ajak, Aku yang tanggung jawab. Nanti kalau di Madiun tinggal gantian!"
"Oke, Te. Siap!"
Betul, lho. Kapan-kapan harus gantian main ke Madiun.

Citarasa makanan di sini dominan manis. Mungkin bahkan lebih manis dari menu restoran di Jogja atau Solo yang terkenal dengan citarasa manis pada masakan nya.
Dari sayur bening, mangut, bahkan sambal pun lebih dominan rasa manisnya daripada pedasnya.

Menurut Tante Etik, saat Ramadan kemarin, restoran ini menjadi andalan banyak orang untuk menikmati buka puasa. Mungkin karena masakan nya bervariasi dan menyediakan banyak pilihan masakan rumahan, membuat kita merasa nyaman seperti menikmati makan di rumah sendiri.
Untuk saya pribadi, masih bisa menikmati masakan di sini, meski agak terlalu manis. Tapi kalau kadar kemanisan nya agak dikurangi,mungkin lebih bisa diterima lidah secara umum, kecuali penyuka maniak manis.
Mungkin suatu saat bisa mencicipi menu masakan lain yang tersedia di sini. Sekarang noted dulu. Terimakasih sekali sudah ditraktir makan malam untuk Mas Mul dan Tante Etik.
Barakallah. Sehat dan bahagia selalu, bertambah dan berlimpah rezekinya. Lemah teles, Gusti Allah yang bales.
Kita lanjutkan perjalanan dulu ke lokasi air terjun parijotho ya....