Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Setelah rute menanjak yang membuat ngos-ngosan, kita istirahat dulu sebentar. Sekitar seperempat jam. Makan yang manis dan sedikit minum cukup mengembalikan stamina. Berharap rute selanjutnya lebihudah, ternyata semakin menantang.

Jalan nyaris tak kelihatan tertutup semak belukar, sementara di satu sisi adalah jurang, dan sisi satunya tanah yang rawan longsor. Tapi dengan bismillah, semua terlewati dengan pelan tapi pasti.
Aku sendiri terkadang gemetar, takut kaki salah menapak dan terperosok ke jurang yang tidak kelihatan karena tertutup semak dan pepohonan.
"Ambil sebelah kiri, saja Nte!" Tante Monik memandu dari belakang. Tapi saat tangan satunya tak punya pegangan, Aku menjadi gamang untuk melangkah. Antara ngeri,ragu dan takut.

Sementara tanah agak basah dan licin. Juga tidak rata, membuat Aku semakin kesulitan. Di rute yang menurun tajam, aku memilih duduk dan menggeser pantat. Takut terpeleset. Untung semua memaklumi, dan bersedia menunggu, meski mungkin jengkel dan geregetan juga karena membuat waktu tempuh semakin lama.
"Yang penting pijakan nya kuat, Bu!" Mas Nanang memberi instruksi.
Apalagi saat medan menuntut untuk loncat, aku tak berani. Lututku pernah terkilir berkali-kali, Aku tidak berani ambil resiko kalau harus melompat. Lebih memilih ngesot. Eh...
Semak yang semakin lebat sudah terlihat dibabat karena kemarin teman Mas Nanang sudah ada yang lewat.
Kakiku sempat terlilit semak dan nyaris tersungkur, membuat ku semakin berhati-hati saat melangkah, tidak berani melangkah cepat.
Tapi saat ada pohon tumbang melintang, aku justru bisa melewati dengan mudah
Tapi untuk rute tak rata, dengan kemiringan ekstrem, aku cukup kesulitan.

Alhamdulillah, setelah melewati rute-rute sulit, suara derasnya aliran air mulai terdengar. Tapi belum terlihat.
Di rute terakhir, kita harus turun menggunakan tali, sampai di batu besar. Di balik batu besar itulah mengalir sungai, dan air terjunnya ada di seberang sungai. Jadi kita harus menyeberang sungai dengan aliran yang cukup deras, dan naik di seberang nya, kemudian berjalan maju sedikit. Barulah kita menemukan air terjun Parijotho yang indah.
Sementara aliran air di sungai begitu jernih dan terlihat segar.
Sebelum menikmati keindahan air terjun parijotho yang ada di bumi Panjalu ini dalam trip to Parijotho 4, sekarang kita simak dulu videonya di trip to Parijotho 3 sebelum dan setelah sampai di sungai.