Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025
Terkadang kami berpapasan dengan pengunjung yang baru masuk, sedang kami mengarah ke pintu keluar, dibatasi pagar stainless steel yang aman, tapi mungkin jadi sedikit kontras dengan goa yang alami.

Menyusuri goa juga harus hati-hati dan memperhatikan arah dengan cermat. Saat keluar, kita harus mengikuti petunjuk arah panah yang bertuliskan exit atau keluar agar tidak tersesat, sehingga hanya berputar -putar di dalam goa tanpa bisa keluar.
Di belakang kami juga ada rombongan pengunjung yang ikut menyusuri goa. Tapi saat sudah mencapai setengah perjalanan, sepertinya mereka berbalik arah dan kembali ke pintu masuk.

Perjalanan menyusuri goa cukup lama dan sempat merasakan kengerian dan bulu kuduk yang meremang. Berasa merasakan pengalaman horor yang hanya bisa dirasakan oleh indera keenam. Rasa yang diam-diam menyusup dan membuat merinding. Tapi saya berusaha untuk tetap logis dan mempertahankan nalar.
Apalagi saat melintasi lobang goa yang agak sempit dan gelap, dan berada di jalan bercabang yang ambigu. Untunglah ada tulisan exit/keluar yang memandu, sehingga tidak membuat tersesat. Saat bisa melalui rute-rute menyeramkan berasa mendapat hoki seumur hidup.

Perjalanan yang cukup menguras rasa dan energi, meski tidak seberat rute goa gong di Pacitan, di sini lebih ringan karena rute yang dilalui cukup datar, sehingga tidak memforsir tenaga.

Di dalam goa Akbar juga terdapat lorong goa yang disebut Gawang Marabaya. Gawang diartikan sebagai pintu, dan Marabaya diartikan sebagai bahaya besar, atau marabahaya.