Isti  Yogiswandani
Isti Yogiswandani Lainnya

Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Trip To Tuban 6: Menyisir Goa Akbar dalam Kelepak Kelelawar

13 Mei 2026   13:14 Diperbarui: 13 Mei 2026   15:55 141 10 3

Trip To Tuban 6: Menyisir Goa Akbar dalam Kelepak Kelelawar (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Trip To Tuban 6: Menyisir Goa Akbar dalam Kelepak Kelelawar (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

"Ayuk Nte, jadi ke Goa Akbar nggak?" Tante Monik mengajak kami ke goa Akbar.

"Jadi nggak, Mas?" Kutanya suami yang tadi sempat berniat langsung pulang.

"Ayuk!" Eh, Alhamdulillah. Ternyata pengin juga ke goa Akbar. Lha wong sudah sampai di sini, sayang kan kalau dilewatkan.

"Pakai masker. Di sana banyak kelelawar. Dulunya dinamai goa Lawa(Lowo: kelelawar)." Kata Pak Kios, saudara nya Tante Monik yang mempunyai kios di parkiran wisata Kota Tuban ini.

"Buat apa?" Tanyaku oon.

"Ya nanti kalau bau kotoran kelelawar bisa diantisipasi!" Jawab Pak Kios.

"O,iya ya. Hehehe..!"

Kukeluarkan masker yang ada di tas. Suamiku juga mengambil salah satu masker yang selalu dibawanya.

Masuk ke goa, masker kami kenakan (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Masuk ke goa, masker kami kenakan (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Lokasi Goa Akbar tidak terlalu jauh dari tempat kami parkir. Mungkin hanya sekitar 200 m.

Masuk gang, belok ke pasar kaget  yang sudah bubar, dan langsung sampai lokasi. Terlihat gapura bertuliskan goa Akbar.

Untuk loket tiket masuknya agak ke Timur sedikit. HTM nya relatif terjangkau, hanya 10 ribu/orang.

Memasuki goa kami memakai masker yang sudah kami persiapkan. Tapi ternyata kondisi dalam goa cukup bersih, mungkin belum lama dibersihkan. Bau kotoran kelelawar juga tidak terasa. Jadi masker kami buka.

Pertapaan Andong Tumapak(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Pertapaan Andong Tumapak(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Tidak jauh dari pintu masuk, di dalam goa ada pertapaan Andong Tumapak. Andong diartikan sebagai Inggil atau tinggi, sedang Tumapak adalah tempat duduk. Dalam terjemahan bebas, andong Tumapak diartikan sebagai tempat bertapa untuk duduk yang menggantung di dalam goa, di tempat yang tinggi.

Batu stalagtit raksasa di dalam goa(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Batu stalagtit raksasa di dalam goa(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Pertapaan Andong Tumapak dipercaya sebagai tempat pertapaan Sunan Bejagung yang mempunyai nama asli Sayyid Abdullah Asyari sebagai penyebar agama Islam di pulau Jawa sebelum wali songo.

Beliau bertapa atas permintaan Bupati Tuban, untuk mohon petunjuk pada Allah SWT dalam menghadapi musuh yang menyerang kabupaten Tuban.

Sesekali memang ada kelelawar yang mengepakkan sayapnya melintasi perjalanan kami, tapi tidak mengganggu. Suasana dalam goa cukup mencekam, tapi kami menanggapinya dengan santai, tidak berlebihan.

Melangkah hati-hati karena lantai goa basah dan licin(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Melangkah hati-hati karena lantai goa basah dan licin(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Banyak lampu penerangan, sehingga kami tetap bisa berjalan nyaman melintasi goa, rutenya juga relatif datar, jadi tidak membuat kami capek. Hanya perlu hati - hati saat lantai goa basah dan sedikit licin.

Terkadang kami berpapasan dengan pengunjung yang baru masuk, sedang kami mengarah ke pintu keluar, dibatasi pagar stainless steel yang aman, tapi mungkin jadi sedikit kontras dengan goa yang alami.

Banyak stalagtit dan stalagmit yang terbentuk dari tetesan air yang masuk ke goa (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Banyak stalagtit dan stalagmit yang terbentuk dari tetesan air yang masuk ke goa (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Menyusuri goa juga harus hati-hati dan memperhatikan arah dengan cermat. Saat keluar, kita harus mengikuti petunjuk arah panah yang bertuliskan exit atau keluar agar tidak tersesat, sehingga hanya berputar -putar di dalam goa tanpa bisa keluar.

Di belakang kami juga ada rombongan pengunjung yang ikut menyusuri goa. Tapi saat sudah mencapai setengah perjalanan, sepertinya mereka berbalik arah dan kembali ke pintu masuk.

Rombongan pengunjung di belakang kami(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Rombongan pengunjung di belakang kami(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Perjalanan menyusuri goa cukup lama dan sempat merasakan kengerian dan bulu kuduk yang meremang. Berasa merasakan pengalaman horor yang hanya bisa dirasakan oleh indera keenam. Rasa yang diam-diam menyusup dan membuat merinding. Tapi saya berusaha untuk tetap logis dan mempertahankan nalar. 

Apalagi saat melintasi lobang goa yang agak sempit dan gelap, dan berada di jalan bercabang yang ambigu. Untunglah ada tulisan exit/keluar yang memandu, sehingga tidak membuat tersesat. Saat bisa melalui rute-rute menyeramkan berasa mendapat hoki seumur hidup.

Serem, lobang sempit dan gelap (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Serem, lobang sempit dan gelap (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Perjalanan yang cukup menguras rasa dan energi, meski tidak seberat rute goa gong di Pacitan, di sini lebih ringan karena rute yang dilalui cukup datar, sehingga tidak memforsir tenaga.

Gawang Marabaya, pernah digunakan Sunan Bonang untuk melarikan diri dari kejaran Sam Poo Khong(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Gawang Marabaya, pernah digunakan Sunan Bonang untuk melarikan diri dari kejaran Sam Poo Khong(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Di dalam goa Akbar juga terdapat lorong goa yang disebut Gawang Marabaya. Gawang diartikan sebagai pintu, dan Marabaya diartikan sebagai bahaya besar, atau marabahaya.

Di sini tertulis, jika masuk ke dalam lorong sekitar 20 m, akan menemui sumur sedalam kira-kira 14 m yang tersambung dengan sungai bawah tanah. 

Jika sungai ini ditelusuri, akan tembus ke Goa Ngerong di Rengel. Muaranya bisa dilihat dari Pantai Boom. Itulah sebabnya pantai Boom juga tidak bisa dipisahkan dari kisah Walisongo.

Sungai bawah tanah ini pernah dipergunakan oleh Sunan Bonang untuk melarikan diri dari kejaran tentara China(Sam Poo Khong). Sunan Bonang masuk dari goa Ngerong dan keluar ke Goa Akbar. Sam Poo Khong tidak bisa mengejar karena dijaga oleh ikan-ikan di Ngerong.

Selain Gawang Marabaya, masih ada lagi aula luas yang biasa dimanfaatkan untuk berkumpul.

Sedang di tempat lain ada Prapen Empu Supa.

Prapen Empu Supa untuk membuat senjata (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Prapen Empu Supa untuk membuat senjata (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Prapen(Perapian) milik Empu Supa ini adalah sebuah batu besar miring dengan perapian yang dipergunakan untuk menempa senjata oleh Empu Supa di Desa Dermawu Kecamatan Semanding Tuban.

Perjalanan menyusuri goa akhirnya berakhir juga.

Rasa syukur dan bernafas lega saat sinar alami sang Surya terlihat memasuki goa. Pertanda pintu keluar sudah dekat. Alhamdulillah.

Yuk simak video nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4