Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Ratapan Barito (1)

13 Mei 2026   15:17 Diperbarui: 13 Mei 2026   15:17 223 1 0

Barito | Opa Jappy
Barito | Opa Jappy



Ratapan Barito

Bumi Dayak, dulu aku mendengar dan membaca tentang engkau
Sekarang aku di tanah Kalsel, mengarungi Barito.
Tak terlihat ikan dan hamparan keindahan dasar Barito
Semuanya tertutup balok-balok kayu dan minyak buangan tongkang dan Tg Boat.

Ku Ada karena Predator Child Grooming beroperasi di Tanah Barito
Mereka merusak putra-putri Kalsel
Mereka menghancurkan masa depan Kalsel

Mari Bersatu Melawan Predator Child Grooming
Usir mereka dari Tanah Kalsel
Tenggelamkan mereka ke dasar Barito

Bumi Dayak, dahulu kudengar hikayat keperkasaanmu di lembar buku,
kini kuseberangi Barito, tak lagi tampak bening dasarmu yang biru.
Ikan-ikan menghilang, keindahan karam di balik pekatnya limbah,
tergilas balok kayu dan minyak tongkang yang membuat sungai merana dalam amarah.

Aku berdiri di sini, karena Predator Child Grooming mengintai di tepian Barito,
merusak tunas bangsa, menghancurkan masa depan tanah Banua.

Mari kita barakat lawat Predator Child Groimong
usir bubuhannya matan tanah Kalsel,
tenggelamkan urang jahat itu ke dasar Barito, biar hancur digulung sesal


(By Opa Jappy)

Public Service Announcement | Pro Life Indonesia
Public Service Announcement | Pro Life Indonesia

Provinsi Kalimantan Selatan, sejak 14 Agustus 1950, dengan populasi 4,2 juta jiwa; termasuk wilayah Nusantara yang rendah angka  kemiskinan; hanya 4,11%; dengan  pendapatan per kapita Rp.60,1 juta/tahun. Bahkan, banyak orang menyebut bahwa Kalsel memiliki karakteristik khusus di pedalaman; yaitu perempuan asli Dayak berpostur mungil hingga tinggi semampai, cantik, dan lugu. Itu tak terbantahkan.

Kasus Kekerasan Seksual (termasuk modus Child Grooming) di Kalimantan Selatan. Kalsel memang tak menonjol pada publikasi Nasional sebagai wilayah yang sering terjadi tindak kekerasan seksual terhadap perempuan (anak, remaja, dan dewasa).

Namun, tak bermakna "Zero Kasus." Faktanya, Data Simfoni PPA, tiga tahun terakhir terjadi lebih dari 300 kasus kasus kekerasan terhadap perempuan (termasuk anak dan remaja perempuan, serta modus Child Grooming). Misalnya, Banjarmasin, tahun 2025, terjadi 216 kasus kekerasan seksual; 115 korban adalah anak-anak (63 perempuan dan 52 laki-laki). Awal Mei 2026, Polresta Banjarmasin mengungkap 14 kasus kekerasan seksual. Dengan jumlah kasus yang cukup tinggi terssbut, maka sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan bisa disebut Klaster Endemi Predator Child Grooming dan Predator Seksual. Tidak salah, jika ada lembaga resmi Negara yang menyebut Kalsel dalam kondisi "Darurat Kekerasan Seksual."

Modus Operandi Predator Seksual di Kalimantan Selatan; (i). Predator Seksual menggunakan identitas palsu di Medsos untuk membangun kedekatan psikologis dan manipulasi mental terhadap calon korban, (ii) Predator Seksual sembunyikan diri sebagai "yang memiliki otoritas atau dipercaya," seperti pelatih olahraga, guru privat, dan juga atau anggota keluarga (ayah tiri).

###

Paradoks Kejahatan di Kalimantan Selatan? Logika korelasi antara kemiskinan rendah dan angka kriminalitas biasanya mengasumsikan bahwa stabilitas ekonomi mengurangi tekanan sosial yang memicu kejahatan. Kasus Predator Child Grooming dan Kekerasan Seksual di Kalimantan Selatan, angka kemiskinan yang rendah (4,11%) justru menyimpan paradoks ekonomi yang berbahaya

Rendahnya kemiskinan di Kalimantan Selatan, ternyata tidak berkorelasi positif dengan penurunan kasus kekerasan seksual. Meski angka kemiskinan secara provinsi rendah, terjadi ketimpangan literasi yang tajam antara masyarakat urban/industri dengan warga pendatang dari pedalaman. Kekuatan ekonomi personal (pelaku atau predator) justru digunakan sebagai modal melakukan eksploitasi, manipulasi materi, dan penyalahgunaan relasi kuasa melalui teknologi (gadget).

Di pusat pertambangan dan perkotaan, pendapatan per kapita yang tinggi (Rp60,1 juta/tahun) menciptakan kelompok kelas menengah ke atas yang memiliki "daya beli" untuk melakukan eksploitasi. Pendapatan tinggi (punya banyak uang) dan kemudahan  akses internet melalui gadget, justru sebagai pintu masuk online grooming.

Predator dengan modus yang sama juga melakukan operasi pemangsaan terhadap gadis-gadis dari pedalaman yang merantau atau bekerja ke/di kota atau area tambang, memanfaatkan karakteristik fisik, keluguan, dan keterbatasan pendidikan mereka. Dalam artian, predator menggunakan Keluguan Pedesaan tersebut sebagai "barang murah" dan mudah dimangsa atau menjerat korban melalui materi. Pada beberapa kasus, pelaku melakukan pemerasan dengan mengancam akan menyebarkan konten pornografi milik korban untuk mempertahankan kontrol terhadap korban.

Hambatan Penanganan Kasus

Anda yang waras, pasti setuju dengan Saya bahwa kejahatan Predator Child Grooming harus dihentikan. Karena Child Grooming merupakan kejahatan yang dilakukan Predator (pelaku) dengan cara manipulasi psikologis, perhatian, pendekatan cinta serta kasih sayang agar bisa melakukan tindak kekerasan seksual terhadap anak-anak (terutama anak perempuan).

Child Grooming bukan sekadar tindak kekerasan seksual; tapi kejahatan terbengis dan terbrutal terhadap kemanusiaan. Karena Predator  secara sistematis  merampok dalam senyap, menghancurkan nalar perlindungan, dan memutus kanal kejujuran antara anak dengan orang tua, saudara, serta lingkungannya.

Predator Child Grooming merusak keutuhan hidup dan kehidupan seseorang (korban), kehancuran totalitas diri, membuat luka-luka batin yang menganga, serta menciptakan stigma beban  kejiwaan,  yang tak terobati, hingga kematian menjemput.

Korban Predator Child Grooming, jika bertahan hidup, maka kehidupannya penuh "duri-duri tajam" menusuk dalam diri, menimbulkan nanah yang tak mampu keluar; kemudian, pada masanya, mati dengan ketidak keutuhan dan kehancuran (walau tampilan jasadnya utuh).

Sayangnya, sejumlah kasus kejahatan seksual yang dilakukan Predator Child Grooming di beberapa daerah, termasuk Kalimantan Selatan, berakhir dengan "Tidak Berakhir;" tenggelam dalam Rimba Raya Borneo dan menjadi Sedimen di Dasar Barito. Hal tersebut akibat banyak faktor, antara lain

  • Faktor Geo-Ekonomi. Status ekonomi pelaku yang kuat di pusat pertambangan sering kali digunakan untuk membungkam keluarga korban melalui uang kompensasi atau "uang tutup mulut."
  • Budaya "Rumah Besar.".Ikatan kekerabatan yang erat di pedalaman sering membuat kasus disembunyikan demi menjaga "nama baik keluarga" atau menghindari aib.
  • Ketidakberanian dan Tak Mampu Melaporkan karena ancaman psikis dan fisik, ketakutan pemutusan bantuan ekonomi, serta minimnya akses ke Aparat Hukum.

Bersambung

Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming


Kampanye Anti Predator Child Grooming | Opa Jappy
Kampanye Anti Predator Child Grooming | Opa Jappy