Isti  Yogiswandani
Isti Yogiswandani Lainnya

Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Menikmati Makan Sore di Tepi Telaga Ngebel: Rekomended!

22 Juni 2026   12:03 Diperbarui: 22 Juni 2026   12:03 229 12 4

Maaf, saya lagi makan, harap dimaklumi kalau mempersembahkan pose terjelek, sementara yang lain termanis, hihihi (Dokumentasi pribadi)
Maaf, saya lagi makan, harap dimaklumi kalau mempersembahkan pose terjelek, sementara yang lain termanis, hihihi (Dokumentasi pribadi)

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Usai Larung dan acara selesai, sehabis salat duhur kami Istirahat dulu. Semua terlena di lokasi camping. Dari tertidur di kursi, di veltbed, sampai tidur di mobil.

Usai asar dan mandi kita mulai membereskan peralatan camping. Saatnya bersiap kembali ke rumah masing-masing.

"Sudah mandi, Dek?"

"Sampun!"

"Yuk beresi peralatan nya, terus cari makan. Nanti habis Maghrib baru pulang!"

"Okay!"

Istirahat dulu di tempat camping (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Istirahat dulu di tempat camping (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Mbah Mul mengajak ke restoran gurami bakar di dekat lokasi camping, tapi ternyata sudah tutup karena hari ini acara istimewa dan sudah sore. Tapi Alhamdulillah, di dekatnya ada restoran yang masih buka, dan menunya lumayan.

Jadilah kami berenam berangkat ke restoran yang kebetulan lokasi nya dekat tempat camping, jadi tak perlu jalan jauh.

"Duduk di luar saja, di tepi telaga sepertinya lebih nyaman!" Kataku.

"Oke!" 

Kami menyeberang jalan dan memilih tempat duduk di tepi telaga. Sedang restoran nya di seberang tempat kami duduk. Sebenarnya di dalam juga banyak tempat duduk, tapi kami ingin suasana di luar yang lebih lapang dan santai.

Kami mencermati daftar menu yang ada. Cukup menarik dan beragam.

Membolak balik daftar menu, mencari menu yang pas(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Membolak balik daftar menu, mencari menu yang pas(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Aku dan suami memilih gurami bakar paket berdua, sudah sama nasi.

" Pesan gurami yang untuk 1 orang saja, nasinya saja yang 2. Nanti kalau cocok baru pesan lagi!" Tante Etik memberi saran. 

"Nggak papa. Paket yang untuk 2 orang!" Kata suami bersikeras.

"Ya, gitu saja nggak papa, Nte!" Aku terima usul Tante Etik. Biasanya suami nggak suka gurami, entah kenapa sekarang mau berkompromi pesan menu yang sama dengan ku. Kalau gurami nya yang gede, takutnya nanti aku yang disuruh ngehabisin. Hihihi ..

Om Kelik pesan nila bakar, Tante Monik pesan ketan keju, Mbah Mul nila asam manis, sementara Tante Etik pesan chicken steak karena nggak suka ikan. Sudah lengkap dengan pesanan masing-masing. Tinggal tunggu pesanan disiapkan sambil ngobrol.

Daftar menu yang bisa dipilih (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Daftar menu yang bisa dipilih (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Sambil menunggu pesanan datang aku membolak balik daftar menu. Harganya bervariasi dan cukup terjangkau, tidak membuat kantong bolong. Meski kalau dibanding di daerah Dolopo harganya lebih tinggi, tapi jauh lebih rendah dibanding harga di kafe-kafe di Kota Madiun. Wajarlah!

Tak lama pesanan datang. Ternyata gurami nya memang kecil dan lebih pas untuk 1 orang.

"Kurang, nggak? Kalau kurang pesan lagi saja!" Kata Tante Etik.

"Sudah, cukup!" Kataku sambil melirik suami yang diam saja. Oke, apa yang ada dimakan, itu kode yang suami berikan. Hihihi..

Banyak atau sedikit, tetap cukup. Kita yang menyesuaikan. Lagian kan kita paling dekat rumah. Kalau di rumah mau apa saja dan sebanyak apa pasti ada. Hehehe..

"Kembulan" gurami bakar, tidak berebut, tapi membantu memisahkan daging dari duri (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Alhamdulillah, nikmat mana lagi yang Kaudustakan. Di saat Kondisi ekonomi keluarga banyak yang terpuruk, kami masih bisa menikmati makanan di restoran bersama para bestie. 

Makanan yang kami pesan licin tandas. Suami yang biasa makan sedikit juga sempat nambah nasi, mungkin suasana berbeda bersama banyak teman membuat nafsu makan lebih besar. Alhamdulillah.

"Dek, Aku duluan ya. Mau ikut jamaah salat Maghrib!" 

"Ya, duluan, biar nggak telat salat jamaahnya. Nanti kuberesin!" Kataku berbisik.

Suami bergegas ke masjid yang nggak jauh dari restoran, karena azan Maghrib sudah berkumandang. Sementara kami melanjutkan menghabiskan minum yang masih tersisa.

Tiba-tiba Tante Etik berdiri dan berjalan menuju restoran.

"Tunggu Nte!" Aku saja yang bayar!"Kataku mengejar Tante Etik.

"Sudah, Aku saja!" Kata Tante Etik sambil menuju kasir.

"Pesanan atas nama siapa, ya?"  Tanya karyawan restoran.

"Mbah Mul!"

"Pesanan atas nama Mbah Mul sudah dibayar!"

"Lho, siapa yang bayar?" Aku dan Tante Etik berbarengan bertanya heran.

"Yang bayar Mbah Mul tadi!"

"Hahaha, Mbah Mul ngeprank ini!" Aku dan Tante Etik kembali ke tempat duduk di tepi telaga 

"Sudah dibayarin to, Pah?" Tante Etik bertanya pada Mbah Mul yang diam sambil menatap Tante Etik penuh makna.

"Aku nggak bayarin, wong dari tadi duduk di sini, nggak ke mana-mana!" Kata Mbah Mul seolah bingung.

"Pasti Om Kelik!" Kali ini kita beralih menatap Om Kelik dengan kompak.

"Nggak. Aku juga dari tadi duduk di sini nggak ke mana-mana. Om Priya mungkin, orang nya nggak ada, kan?"

"Orangnya ke masjid duluan, ikut salat jamaah dari tadi. Kesusu, masak sempat bayar?" Kataku tak yakin. Tadi juga bilang sama Aku suruh bayarin.

" Ya sudah. Siapapun yang bayarin, pokoknya terima kasih,"Kataku dengan tulus.

Sekarang kita salat dulu, terus bersiap pulang!" Aku menutup makan sore kali ini dan mengajak segera bergegas.

Oke, yuk segera pulang. Btw, ada yang bisa menebak, kira-kira siapa yang bayarin? Cerita bayar membayar memang selalu menarik. Hehehe...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5