Setelah itu arang dihancurkan menjadi serbuk halus, dicampur perekat alami seperti tepung tapioka, lalu dicetak dan dikeringkan hingga siap digunakan.
Hasil akhirnya berupa briket yang bentuknya bisa silinder, kotak, atau segi enam dengan lubang di tengah.
Ketika dibakar, briket mampu menghasilkan panas yang stabil dan bertahan lebih lama dibandingkan pembakaran limbah secara langsung.
Salah satu keunggulan briket biomassa adalah memanfaatkan sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Limbah yang biasanya hanya memenuhi halaman rumah atau dibuang ke tempat pembuangan kini berubah menjadi produk yang memiliki manfaat sekaligus nilai ekonomi.
Bagi masyarakat pedesaan, peluang ini sangat menarik. Daerah pertanian menghasilkan limbah dalam jumlah besar setiap musim panen.
Daripada dibakar dan menimbulkan polusi udara, limbah tersebut dapat diolah menjadi briket yang bisa dipakai sendiri atau dijual sebagai sumber penghasilan tambahan.
Briket biomassa juga menjadi pilihan menarik bagi pelaku usaha kecil.
Pedagang sate, jagung bakar, rumah makan, hingga usaha pengeringan hasil pertanian membutuhkan bahan bakar setiap hari.
Dengan menggunakan briket, biaya operasional bisa lebih hemat, sementara limbah di sekitar juga ikut berkurang.
Dari sisi lingkungan, manfaatnya tidak kalah besar.
Semakin banyak limbah yang dimanfaatkan, semakin sedikit sampah yang berakhir di tempat pembuangan atau dibakar secara terbuka.
Hal ini membantu mengurangi pencemaran udara sekaligus mendukung pengelolaan limbah yang lebih baik.
Indonesia sendiri memiliki potensi luar biasa untuk mengembangkan briket biomassa.
Sebagai negara agraris, hampir setiap daerah menghasilkan limbah pertanian dalam jumlah melimpah.