Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Hampir semua orang, dengan pemaknaan seturut konteks budaya masing-masing, mengerti (walau tak seutuhnya memahami) apa itu Sastrawan dan Seniman. Dalam pemahaman mereka, umumnya, sastrawan dimengerti sebagai orang yang berprofesi menghasilkan (dan menyampaikan), orasi dan narasi berirama atau puitis; serta seniman dipahami sebagai seseorang yang menghasilkan karya-karya estetika seperti patung, arca, lukisan, mural, gubahan musik (sering disebut musikus), dan lain sebagainya, sekaligus sebagai pilihan profesi. Sungguh suatu pemilahan yang terwaris sejak lama.
Lalu bagaimana jika ada orang-orang yang menghasilkan keindahan penyusunan kata-kata sehingga terlihat seperti "'lukisan indah?" Dalam artian, ia/mereka mampu meleburkan batas antara kanvas visual dan keindahan teks.
Mereka/ia itulah "Rupasastrawan" modern; seniman sekaligus sastrawan, yang tak menggunakan kuas atau cat ketika menciptakan keindahan. Media utamanya adalah deretan kosakata yang dipilih dengan kepekaan estetika sangat tinggi. Di tangan mereka, bahasa tak selesai sebagai alat komunikasi verbal, tapi bertransformasi menjadi media visual yang memancarkan warna, bayangan, dan perspektif pada benak pembaca. Inilah yang disebut Lukisastra.
Lukisastra, tidak muncul sekejap, melainkan lahir dari kemampuan serta ketrampilan Melukis dengan Kata-kata (karena pembiasaan sejak lama). Lukisastra adalah neologisme atau diksi baru (dari/dan oleh Opa Jappy); juga manifesto estetika baru.
Lukisastra memosisikan bahasa bukan pelayan makna, melainkan medium. Sehingga Lukisastra memperkaya literasi Indonesia, serta menawarkan cara baru "menikmati" teks di era digital, sekaligus pengingat bahwa kekuatan magis sastra sejati terletak pada kedalaman jiwa penciptanya.
Lukisastra tidak menulis deskriptif biasa. Tapi, menghasilkan karya-karya estika; setiap kalimat dirangkai layaknya goresan kuas di atas kanvas digital. Misalnya, ketika menulis tentang humanisme, kritik sosial, atau perenungan hidup dan kehidupan, pembaca tidak membaca teks tersebut, namun diajak "melihat" dan merasakan atmosfer visual dari isu yang diangkat.
Integrasi apik antara narasi sastra yang mendalam dan kekuatan visual tersebut mengisi rantai terputus Sastrawan dan Seniman Tradisional; kekosongan itu, diisi Lukisastra, para seniman multimedia modern. Lukisastra sebagai mata rantai yang merangkai keutuhan Kalung Sastrawan serta Seniman.
Lukisastra merupakan paradigma baru hubungan antara teks dan rupa. Manifesto bahwa batas-batas kesenian tradisional tidak runtuh namun diperkuat agar tidak mengalami keruntuhan akibat "produk sastra AI yang tanpa jiwa dan rasa kemanusiaan."
Lukisastra, melalui Melukis dengan Kata-kata, sebagai "pelukis jiwa" yang menggunakan bahasa sebagai pigmen warna. Lukisastra membawa pembaca masuk ke dalam atmosfer, kata-kata berfungsi sebagai goresan kuas digital memicu imajinasi visual mandiri di dalam kognisi pembaca. Sekaligus membuktikan bahwa bahasa memiliki dimensi spasial.
Lukisastra dalam konteks modernisasi sangat relevan dengan era digital saat ini; era perhatian manusia berpindah ke media visual, sehingga sastra konvensional sering dinilai "kering." Lukisastra hadir sebagai bentuk peremajaan sastra digital. Menawarkan cara baru menikmati teks; membaca menjadi aktivitas perjalanan visual yang dinamis.
Lukisastra memperkaya khazanah literasi Indonesia dengan menawarkan sudut pandang segar, melintasi batas media, dan merajut kembali mata rantai kesenian yang sempat terpisah.
Lukisastra, membuktikan bahwa sastrawan sejati juga merupakan seorang pelukis jiwa. Ia berhasil menembus ruang batas literasi konvensional, meremajakan dunia sastra digital. Dan menunjukkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan magis melukiskan realitas hidup dan kehidupan secara nyata tanpa setitik warna.
