Guru, penulis, dan penangkap cerita. Menjelajahi tren gaya hidup, relasi, dan isu sosial sehari-hari lalu merangkumnya lewat tulisan yang bermakna. Hobi mendengarkan lagu dan membaca Alkitab. Let's connect through words!
Halo Kompasiana lama sudah tidak menyapa lagi.
Hari itu, Kamis 25/6 saya dipanggil oleh bos saya bertepatan dengan hampir habisnya masa training saya di tempat bimbel yang baru.
Saya ga mengerti sebelumnya, Miss senior saya memberikan 5 buku tebal berupa SMA dan SMP, dan hanya berkata singkat, ''Pak ** mau ngomong nanti jangan pulang dulu ya''
Waduh jantung saya berdetak lebih kencang. Kalau masa training saya bermasalah saya sih siap siap aja mau keluar, tapi saya gatau kalau di luar itu makanya saya overthinking.
Setelah beberapa lama kemudian saya dipanggil ke ruangan mengobrol berdua dengan bos saya. Ternyata dia menawarkan posisi guru tetap menggantikan guru yang akan resign.
Saya dah terlanjur deg degan, mana AC nya dingin banget lagi. Di hadapan saya, bos saya menegaskan bahwa kelas yang akan saya isi ini lebih banyak anak-anak yang dari kelas 11 mau naik kelas 12, maupun anak kelas 9 mau naik kelas 10.
Wah tentu aja ini challenge sih buat saya. Jujur ini anggapan pertama saya. Karena semasa training saya masih mengajar banyak anak kelas 10 saja. Tentu kelas 12 pasti materinya sudah kompleks.
Bos saya mengatakan, ''Jujur gaada yang lebih pinter dari kamu'' (Saya gatau ini pujian atau jebakan dari senyum nya (ini awal pemikiran saya sih))
Kalau ditanya saya masih ingat gak materi Fisika sama Matematika (di luar kimia dulu) jujur saya masih ingat. Bahkan Matematika itu kesukaan saya, mungkin kalau diranking, MTK itu ranking pertama baru Fisika, baru Kimia.
Rasa-rasanya kayak saya mengkhianati kedua matpel kesukaan teratas saya ya wkwk dengan memilih Jurusan Kimia sebagai jurusan kuliah saya.
Tapi engga kok, saya tetap menyukai MTK dan Fisika. Terutama sekali MTK, karena awalnya saat SMP dasar MTK saya sudah kuat, saya rasa ke Fisika maupun Kimia seharusnya gaada masalah ya.