Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

Kompasianer Terpopuler 2024 - 2025 Kompasiana Award Pelestari 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Daur Ulang "Mbah Keng" Inovasi Pupuk Organik Cair Ramah Lingkungan

2 Juli 2026   10:41 Diperbarui: 2 Juli 2026   10:41 108 9 2

Daur Ulang "Mbah Keng" inovasi pupuk organik cair ramah lingkungan.

Setiap musim kelengkeng tiba, kita disuguhi buah yang manis, segar, dan menjadi favorit banyak orang. 

Namun, setelah buahnya habis dinikmati, kulitnya hampir selalu berakhir di tempat sampah. 

Padahal, di balik tumpukan limbah kulit kelengkeng tersebut tersimpan potensi besar yang dapat dimanfaatkan menjadi produk ramah lingkungan, yaitu pupuk organik cair (POC).

Berangkat dari pemikiran sederhana itulah lahir inovasi "Mbah Keng", singkatan dari Limbah Kulit Kelengkeng.

Inovasi ini mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna menjadi pupuk organik cair yang mampu menyuburkan tanaman sekaligus mengurangi timbunan sampah organik.

Di Indonesia, sampah organik masih mendominasi komposisi sampah rumah tangga. 

Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut akan membusuk di tempat pembuangan akhir dan menghasilkan gas rumah kaca. 

Sebaliknya, apabila diolah melalui proses fermentasi, limbah organik dapat kembali ke alam sebagai sumber nutrisi bagi tanaman. 

Inilah konsep ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali limbah agar memiliki nilai tambah dan tidak menjadi pencemar lingkungan.

Kulit kelengkeng mengandung bahan organik seperti serat, karbohidrat, dan berbagai senyawa alami yang dapat menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme selama proses fermentasi. 

Dengan bantuan bioaktivator, senyawa kompleks tersebut akan diuraikan menjadi bentuk yang lebih sederhana sehingga menghasilkan pupuk cair yang bermanfaat bagi tanaman. 

Prinsip ini serupa dengan berbagai penelitian yang memanfaatkan limbah kulit buah sebagai bahan baku pupuk organik cair.

Yang menarik, pembuatan pupuk organik cair "Mbah Keng" tidak membutuhkan teknologi yang rumit. 

Peralatannya sederhana, bahannya mudah didapat, dan dapat dibuat sendiri di rumah maupun di sekolah sebagai media pembelajaran lingkungan hidup.

Proses Pembuatan Pupuk Organik Cair "Mbah Keng"

Bahan:

  • 1 kg kulit kelengkeng segar.
  • 5 liter air bersih.
  • 250 ml molase atau 250 gram gula merah.
  • 100 ml EM4.
  • Ember atau jeriken bertutup rapat.
  • Saringan dan botol penyimpanan.

Cara Pembuatan:

  • Bersihkan kulit kelengkeng dari sisa daging buah.
  • Potong kecil-kecil agar proses penguraian berlangsung lebih cepat.
  • Larutkan gula merah ke dalam air hingga tercampur rata.
  • Tambahkan EM4 ke dalam larutan gula, lalu aduk perlahan.
  • Masukkan kulit kelengkeng ke dalam wadah fermentasi.
  • Tuangkan larutan EM4 hingga seluruh kulit terendam.
  • Tutup rapat wadah dan simpan di tempat teduh.

Setiap dua hari sekali, buka tutup wadah selama beberapa detik untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi.

Fermentasi berlangsung selama 14--21 hari.

Pupuk yang matang biasanya berwarna cokelat tua, beraroma asam manis seperti tape, dan tidak berbau busuk.

Saring cairannya, kemudian simpan dalam botol tertutup.

Cara Penggunaan

Encerkan pupuk sebelum digunakan dengan dosis sekitar 10--20 ml pupuk organik cair ke dalam 1 liter air. 

Semprotkan pada daun atau siramkan ke media tanam setiap satu hingga dua minggu sekali. 

Penggunaan secara rutin dapat membantu memperbaiki kesuburan tanah, mendukung aktivitas mikroorganisme tanah, dan menjaga pertumbuhan tanaman tetap sehat.

Selain menghasilkan pupuk, inovasi "Mbah Keng" juga mengajarkan bahwa pengelolaan sampah dimulai dari rumah.

Semakin banyak limbah organik yang dimanfaatkan, semakin sedikit sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir. 

Dampaknya bukan hanya lingkungan menjadi lebih bersih, tetapi juga mengurangi emisi gas rumah kaca.

Nilai tambah lainnya adalah peluang ekonomi.

Pupuk organik cair memiliki permintaan yang terus meningkat seiring berkembangnya pertanian organik, urban farming, dan hobi tanaman hias. 

Dengan kemasan yang menarik serta informasi penggunaan yang jelas, "Mbah Keng" berpotensi menjadi produk unggulan berbasis ekonomi hijau.

Pada akhirnya, inovasi ini membuktikan bahwa solusi lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. 

Justru dari limbah sederhana yang ada di sekitar kita dapat lahir produk yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kulit kelengkeng yang dulunya hanya menjadi sampah kini berubah menjadi pupuk organik cair yang mendukung pertanian berkelanjutan.

Melalui "Mbah Keng", kita belajar bahwa setiap limbah memiliki kesempatan untuk hidup kembali dalam bentuk yang lebih bermanfaat. 

Sebuah langkah kecil dari dapur rumah, tetapi memberikan dampak besar bagi lingkungan, ketahanan pangan, dan masa depan bumi yang lebih hijau.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3