Langkah pertama adalah mencuci kulit jeruk agar bersih dari kotoran maupun sisa pestisida.
Setelah itu, kulit jeruk dipotong kecil-kecil agar proses penguraian berlangsung lebih cepat.
Semakin kecil ukuran bahan, semakin luas permukaan yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme.
Selanjutnya, larutkan gula merah ke dalam air, lalu tambahkan EM4 sesuai kebutuhan.
Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik atau jeriken yang memiliki tutup rapat.
Setelah itu, masukkan potongan kulit jeruk ke dalam wadah hingga seluruh bagian terendam larutan.
Wadah kemudian ditutup rapat dan disimpan di tempat yang teduh. Selama proses fermentasi, tutup wadah sebaiknya dibuka sebentar setiap satu atau dua hari sekali untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi.
Proses ini biasanya berlangsung selama dua hingga empat minggu, tergantung kondisi lingkungan dan suhu penyimpanan.
Setelah fermentasi selesai, cairan disaring untuk memisahkan ampas kulit jeruk. Hasil saringan inilah yang menjadi pupuk organik cair "Mbah Keruk".
Sementara ampasnya jangan dibuang karena masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan kompos.
Sebelum diaplikasikan ke tanaman, pupuk organik cair sebaiknya diencerkan terlebih dahulu.
Umumnya, satu bagian pupuk dicampur dengan sekitar sepuluh hingga dua puluh bagian air.
Larutan tersebut dapat disiramkan ke media tanam ataupun disemprotkan ke daun sesuai kebutuhan tanaman.
Penggunaan pupuk organik cair secara rutin membantu memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, memperkuat perakaran, serta mendukung pertumbuhan daun, bunga, dan buah.