Walaupun kandungan haranya tidak setinggi pupuk kimia, penggunaan secara berkelanjutan mampu menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang.
Selain manfaat bagi tanaman, inovasi "Mbah Keruk" juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan.
Limbah organik yang semula hanya menjadi sampah kini berubah menjadi produk yang bernilai guna.
Jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir pun dapat berkurang sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan.
Dari sisi ekonomi, pupuk organik cair hasil fermentasi juga memiliki peluang usaha yang cukup menjanjikan.
Dengan modal yang relatif kecil, masyarakat dapat memproduksi POC untuk digunakan sendiri ataupun dipasarkan kepada para pecinta tanaman, kelompok tani, sekolah, maupun komunitas penghijauan.
Semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap pertanian organik menjadi peluang yang patut dimanfaatkan.
Di lingkungan sekolah, program ini juga dapat menjadi media pembelajaran yang menarik.
Siswa tidak hanya belajar tentang pengelolaan sampah, tetapi juga memahami proses fermentasi, daur ulang, ekonomi sirkular, hingga pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Belajar tidak lagi hanya melalui teori, tetapi langsung melalui praktik yang menghasilkan manfaat nyata.
Hal yang paling menarik dari "Mbah Keruk" adalah kesederhanaannya. Tidak memerlukan mesin yang mahal ataupun teknologi yang rumit.
Cukup memanfaatkan limbah yang tersedia setiap hari, kita sudah dapat menghasilkan pupuk yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi banyak tanaman.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga bumi, langkah-langkah kecil seperti ini memiliki arti yang besar.
Setiap kulit jeruk yang berhasil diselamatkan dari tempat sampah berarti satu langkah menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, "Mbah Keruk" mengajarkan bahwa tidak semua limbah harus berakhir sebagai sampah.