Ide ini menawarkan dua manfaat sekaligus, yaitu mengurangi timbunan sampah plastik dan menghasilkan bahan bangunan yang memiliki nilai ekonomi.
Secara sederhana, proses pembuatannya dimulai dengan memilah jenis plastik yang dapat didaur ulang, seperti plastik HDPE, LDPE, maupun PP. Plastik kemudian dibersihkan dari sisa kotoran agar kualitas produk tetap baik.
Setelah itu, plastik dicacah menjadi potongan-potongan kecil sehingga lebih mudah diproses.
Tahap berikutnya adalah proses pelelehan menggunakan suhu tertentu hingga plastik berubah menjadi cairan kental.
Dalam beberapa metode, plastik cair dicampur dengan pasir kering sebagai bahan penguat.
Perbandingan campuran dapat disesuaikan dengan karakteristik paving block yang ingin dihasilkan.
Setelah campuran tercampur merata, bahan dituangkan ke dalam cetakan paving block.
Selanjutnya dilakukan proses pengepresan agar material menjadi padat dan tidak memiliki rongga udara yang berlebihan.
Setelah dingin dan mengeras, paving block siap dilepas dari cetakan, kemudian dilakukan pemeriksaan kualitas sebelum digunakan.
Hasilnya cukup menarik. Paving block berbahan limbah plastik dikenal memiliki daya serap air yang rendah, lebih tahan terhadap kelembapan, serta memiliki bobot yang relatif lebih ringan dibandingkan beberapa jenis paving konvensional.
Selain itu, penggunaan limbah plastik juga membantu mengurangi kebutuhan semen yang proses produksinya menghasilkan emisi karbon cukup besar.
Bukan berarti paving block plastik akan menggantikan seluruh material konstruksi.