Saya memulai hidup ini dengan menulis puisi dan cerita pendek, kemudian jadi wartawan, jadi pengelola media massa, jadi creative writer untuk biro iklan, jadi konsultan media massa, dan jadi pengelola data center untuk riset berbasis media massa. Saya akan terus bekerja dan berkarya dengan sesungguh hati, sampai helaan nafas terakhir. Karena menurut saya, dengan bekerja, harga diri saya terjaga, saya bisa berbagi dengan orang lain, dan semua itu membuat hidup ini jadi terasa lebih berarti.
Ini partai ke-21 pekan ke-3 Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026. Lapangan rumput sintetis Pancoran Soccer Field, Jakarta Selatan, menjadi saksi bahwa output pembinaan di klub Bina Mutiara dan di klub Mavericks, patut dijadikan inspirasi.
Laga Keras, Minim Pelanggaran

Laga Bina Mutiara lawan Mavericks pada Minggu, 5 Juli 2026 ini, laga yang berkelas. Sejak awal, kedua kesebelasan saling serang, dengan speed tinggi. Berlari menggiring bola, nyaris tanpa jeda. Operan-operan pendek berlangsung dengan efektif.
Dan, gol baru tercipta pada menit ke-48 babak kedua, oleh pemain cadangan Bina Mutiara, Muhammad Alfath Akbar. Kedudukan 1-0 untuk Bina Mutiara itu, bertahan hingga pertandingan 2 kali 35 menit tersebut berakhir.
Meski laga ini berlangsung keras dengan speed tinggi, tapi hanya 1 kali terjadi pelanggaran dengan hadiah 1 kartu kuning. Penerimanya, Akhmal Rezhaky di menit ke-33, pemain dari Mavericks. Stamina pasukan kedua klub ini mengesankan, tak ada yang cedera.
Di balik laga Bina Mutiara lawan Mavericks, tercermin bahwa pembinaan di kedua klub tersebut, patut dijadikan inspirasi oleh Sekolah Sepak Bola (SSB) yang lain. Mavericks, misalnya, mengacu pada filosofi, bermain bola dengan penuh ketekunan dan kerja keras.
Dari cuplikan pertandingan ini, kita bisa mencermati, betapa tinggi daya juang para pemain Mavericks untuk menguasai bola. Mereka sadar, tanpa ketekunan dan kerja keras, tentu tak mungkin bola digiring ke gawang lawan. Tanpa ketekunan dan kerja keras, tentu tak mungkin membangun barisan pertahanan.
Demikian pula halnya dengan Bina Mutiara. Klub ini, misalnya, praktis tiap hari latihan. Para pemain tinggal di asrama yang sama, hingga chemistry antar mereka otomatis terbangun secara alamiah. Mereka latihan di lapangan yang berada di lingkungan asrama.
Melalui cuplikan pertandingan ini, kita bisa mencermati, betapa skill individu, sama kuatnya dengan skill kerja sama antar mereka. Nyaris tak ada operan bola, yang tanpa strategi. Itulah yang membuat para pemain Bina Mutiara berhasil lolos dari kepungan pemain Mavericks.