Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Jangan Bersedih Allah Bersama Orang-Orang Yang Sabar

7 Juli 2026   08:47 Diperbarui: 7 Juli 2026   08:47 232 7 5

Jangan bersedih/dokpri
Jangan bersedih/dokpri

Jangan Bersedih, Allah Bersama Orang-Orang yang Sabar. Inilah Kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia, Menemukan Kekuatan dalam Sabar, Tawakal, dan Menulis.

Inspirasi pagi pada Selasa, 7 Juli 2026, menghadirkan pesan yang sangat menenangkan hati. Firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 40 mengingatkan, "Dan janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar." Ayat tersebut menjadi penawar bagi siapa saja yang sedang menghadapi berbagai persoalan hidup. Dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang terbebas dari ujian. 

Ada yang diuji dengan kesehatan, ekonomi, keluarga, pekerjaan, bahkan ada pula yang diuji dengan perkataan manusia yang menyakitkan hati. Namun, seorang mukmin selalu memiliki tempat kembali, yaitu kepada Allah SWT yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sabar.

https://youtube.com/shorts/QfjBXzG1OfE?si=YnmE_ykt3CWthYec

Pesan itulah yang selalu menguatkan hati Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang lebih dikenal sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia. Selama puluhan tahun mengabdi sebagai guru, Omjay telah mengalami begitu banyak dinamika kehidupan. 

Ada masa ketika hasil kerja kerasnya diapresiasi oleh banyak orang, tetapi tidak sedikit pula saat dirinya mendapatkan kritik, cibiran, bahkan diremehkan. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk kepribadiannya hingga menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih ikhlas dalam menjalani kehidupan.

Omjay menyadari bahwa menjadi seorang guru bukan sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan di depan kelas. Menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru harus siap menerima perubahan, tantangan, bahkan kritik yang terkadang datang dari orang-orang yang tidak memahami perjuangannya. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, banyak guru merasa cemas akan masa depannya. 

Namun Omjay memilih jalan yang berbeda. Ia justru menjadikan perubahan sebagai sahabat yang harus dipelajari, bukan musuh yang harus ditakuti. Sikap tersebut lahir dari keyakinan bahwa setiap kesulitan selalu mengandung kemudahan sebagaimana janji Allah SWT.

Perjalanan menjadi Guru Blogger Indonesia tidak diraih Omjay dalam semalam. Semua dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu menulis setiap hari. Saat sebagian orang menganggap kegiatan menulis hanyalah pekerjaan sampingan yang tidak menghasilkan apa-apa, Omjay tetap istiqamah menulis. 

Omjay menuliskan pengalaman mengajar, kisah inspiratif, refleksi pendidikan, hingga berbagai motivasi untuk guru dan siswa. Banyak orang bertanya mengapa ia begitu tekun menulis. Jawabannya sederhana, karena menulis adalah ibadah yang dapat menyebarkan manfaat kepada banyak orang. Ketika tulisan mampu menginspirasi seseorang untuk menjadi lebih baik, di situlah seorang penulis memperoleh pahala yang terus mengalir.

Dalam perjalanan tersebut, Omjay pernah mengalami masa-masa sulit. Ada tulisan yang tidak dibaca, artikel yang ditolak media, hingga komentar yang meremehkan kualitas tulisannya. Pada awalnya tentu ada rasa sedih sebagai manusia biasa. Namun setiap kali hatinya mulai goyah, ia kembali mengingat firman Allah, "Dan janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." Ayat itu seolah menjadi energi baru yang menghidupkan semangatnya untuk terus berkarya tanpa harus sibuk membalas perkataan orang lain.

Nasihat Imam Syafi'i yang berbunyi, "Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu," juga menjadi pegangan hidup Omjay. Ia memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara. Jabatan, penghargaan, popularitas, bahkan harta tidak akan dibawa ketika seseorang meninggalkan dunia. Yang akan menemani hanyalah amal saleh yang dikerjakan dengan ikhlas. Oleh karena itu, setiap tulisan yang dibuatnya selalu diniatkan sebagai amal jariyah. Ia berharap setiap ilmu yang dibagikan dapat terus memberikan manfaat meskipun suatu hari nanti dirinya telah tiada.

Pandangan tersebut membuat Omjay tidak mudah silau oleh pujian. Ia juga tidak mudah hancur oleh cacian. Pesan Imam Ghazali yang mengatakan, "Jangan biarkan hatimu mendapat kesenangan karena pujian dari orang lain, kamu akan sedih dengan kecaman mereka suatu hari nanti," benar-benar menjadi prinsip hidupnya. Ia belajar bahwa manusia memiliki penilaian yang selalu berubah-ubah. Hari ini seseorang dipuji, esok bisa saja dicela. Hari ini seseorang dianggap hebat, besok mungkin dilupakan. Jika kebahagiaan bergantung pada penilaian manusia, maka hidup akan dipenuhi kegelisahan. Karena itulah Omjay memilih menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

Ada sebuah pengalaman yang sangat membekas dalam perjalanan hidupnya. Ketika mengikuti berbagai pelatihan guru, Omjay bertemu dengan banyak pendidik hebat dari seluruh Indonesia. Mereka memiliki semangat yang luar biasa dalam belajar dan berbagi. Namun tidak semua perjalanan berjalan mulus. Ada kalanya usaha yang dilakukan tidak memperoleh hasil sesuai harapan. Ada program yang gagal, ada kegiatan yang sepi peserta, bahkan ada rencana yang harus dibatalkan. Dalam situasi seperti itu, Omjay selalu mengingatkan dirinya bahwa tugas manusia hanyalah berusaha dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil sepenuhnya menjadi hak Allah SWT.

Kebiasaan bertawakal itulah yang membuat Omjay tetap tenang menghadapi berbagai perubahan kebijakan pendidikan. Kurikulum berubah, sistem penilaian berubah, teknologi berkembang sangat cepat, tetapi prinsip hidupnya tidak pernah berubah. Ia terus belajar, terus menulis, terus berbagi, dan terus mendekatkan diri kepada Allah. Baginya, keberhasilan bukanlah ketika memperoleh penghargaan atau menjadi terkenal, melainkan ketika ilmu yang dimiliki mampu memberi manfaat bagi sesama.

Suatu hari seorang guru muda bertanya kepada Omjay tentang rahasia semangatnya yang tidak pernah padam. Dengan senyum hangat ia menjawab bahwa semangat itu berasal dari keyakinan kepada Allah. Ketika seseorang menyandarkan harapannya kepada manusia, maka ia akan sering kecewa. Namun ketika seseorang menggantungkan harapannya kepada Allah, ia akan selalu memiliki alasan untuk bangkit. Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya yang terus berusaha dan berdoa.

Nasihat yang mengatakan, "Jika ada orang yang menjatuhkanmu, bangkitlah karena Allah. Jangan putus asa hanya karena manusia. Jangan menyerah hanya karena urusan dunia, ingat ada Allah. Dia Maha Segalanya. Mohonlah pertolongan kepada-Nya," benar-benar menjadi cermin perjalanan hidup Omjay. Ia pernah diremehkan, tetapi tetap memilih memperbaiki diri. Ia pernah gagal, tetapi tetap melanjutkan langkah. Ia pernah kecewa, tetapi tidak berhenti berharap kepada Allah. Semua pengalaman itu justru menguatkan mentalnya sebagai seorang pendidik sekaligus penulis.

Bagi Omjay, menulis bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan juga terapi hati. Ketika hati gelisah, ia menuangkannya dalam tulisan. Ketika memperoleh ilmu baru, ia membagikannya melalui artikel. Ketika melihat keberhasilan orang lain, ia menjadikannya inspirasi, bukan alasan untuk iri. Sikap seperti inilah yang membuatnya terus berkembang hingga dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia yang produktif menghasilkan ribuan tulisan.

Firman Allah dalam Surah Ath-Thalaq yang menyatakan, "Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya," telah berkali-kali terbukti dalam perjalanan hidupnya. Banyak kesempatan baik datang tanpa diduga. Undangan menjadi narasumber, kesempatan menerbitkan buku, hingga bertemu dengan banyak tokoh pendidikan hadir sebagai buah dari kesabaran, kerja keras, doa, dan tawakal kepada Allah. Semua itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa rezeki tidak hanya berupa uang, tetapi juga kesehatan, ilmu yang bermanfaat, sahabat yang baik, keluarga yang mendukung, dan kesempatan untuk terus berkarya.

Omjay juga selalu mengajak para guru agar tidak mudah menyerah menghadapi tantangan zaman. Dunia pendidikan akan terus berubah, tetapi nilai keikhlasan, kesabaran, dan ketulusan dalam mengajar tidak akan pernah berubah. Guru yang terus belajar akan selalu menemukan jalan. Guru yang terus berbagi akan selalu dikenang. Guru yang terus mendekat kepada Allah akan memperoleh ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.

Di era kecerdasan buatan saat ini, Omjay mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Yang menentukan kualitas seorang guru tetaplah hati, akhlak, keteladanan, dan keikhlasan. AI dapat membantu membuat materi pembelajaran, tetapi tidak mampu menggantikan kasih sayang seorang guru kepada muridnya. AI dapat membantu menyusun tulisan, tetapi tidak mampu menggantikan ketulusan hati seorang penulis yang ingin memberikan manfaat kepada pembacanya. Oleh sebab itu, setiap guru harus terus meningkatkan kompetensinya sambil menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT.

Menjelang akhir setiap tulisan yang dibuatnya, Omjay selalu mengajak pembaca untuk tidak mudah bersedih menghadapi kehidupan. Kesedihan hanyalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan. Kegagalan hanyalah pelajaran menuju keberhasilan. Kritik hanyalah sarana untuk memperbaiki diri. Selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, berarti masih ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Semoga inspirasi pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa tidak ada alasan untuk putus asa selama Allah masih menjadi tempat bergantung. Jadikan kesabaran sebagai pakaian, tawakal sebagai kekuatan, doa sebagai senjata, dan menebarkan manfaat sebagai tujuan hidup. Ketika hati dipenuhi keyakinan kepada Allah, maka tidak ada satu pun ujian yang terasa terlalu berat. Sebaliknya, setiap cobaan akan menjadi tangga yang mengangkat derajat seorang hamba di sisi-Nya.

Tetaplah melangkah dengan penuh keyakinan. Teruslah menulis, teruslah belajar, teruslah berbagi, dan teruslah menebarkan kebaikan sebagaimana yang telah dicontohkan Omjay, Guru Blogger Indonesia. Selama Allah bersama orang-orang yang sabar, maka tidak ada perjuangan yang sia-sia dan tidak ada air mata yang terbuang percuma. Semua akan berbuah indah pada waktu yang telah Allah tetapkan.

Barakallah fiikum.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri