Video Pilihan

Menyusuri Lorong Waktu dan Harapan di Museum Tsunami Aceh

7 Juli 2026   05:32 Diperbarui: 7 Juli 2026   05:32 193 27 7


Banda Aceh selalu punya cara sendiri untuk menyentuh hati para pelancong. Di balik keindahan alam dan kelezatan kulinernya, kota ini menyimpan sebuah monument ingatan yang sangat kuat "Museum Tsunami Aceh" berdiri megah di pusat kota Banda Aceh, museum ini bukan sekedar destinasi wisata arsitektur, melainkan sebuah perjalanan emosional yang membawa kita menyelami kesedihan mendalam sekaligus ketangguhan luar biasa masyarakat Aceh.

Setibanya di Area Museum, mata saya tertuju pada kemegahan bangunannya, Dirancang oleh Ridwan Kamil, struktur luar museum ini sangat unik. Dari luar, bentuknya menyerupai kapal penyelamat raksasa dengan dinding melengkung yang dihiasi relief geometris khas Aceh, menyerupai tarian tradisional Saman.

Namun, keindahan sesungguhnya pada museum ini terletak pada konsepnya disebut Rumoh Aceh as Escape Hill- sebuah tempat perlindungan yang memadukan kearifan lokal dengan mitigasi bencana modern.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Langkah pertama saya di Lorong museum langsung disambut oleh atmosfer yang sangat kontras dengan kecerahan dari luar, saya memasuki Lorong sempit, gelap, dan tinggi yang dikenal sebagai Space of Fear (Lorong Tsunami).

Di Lorong ini, air mengalir deras dari dinding-dinding beton yang tinggi, menciptakan suara gemuruh air yang menggema di dalam kegelapan. Suasana ini dirancang untuk merekonstruksi kepanikan dan ketakutan luar biasa yang dirasakan masyarakat saat tsunami menerjang pada 26 Desember 2004 silam. Berjalan di Lorong ini membuat bulu kuduk saya merinding, menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam.

Setelah melewati ketegangan di Lorong air, saya tiba disebuah ruang melingkar yang menjulang tinggi tanpa sekat. Ruangan ini disebut Space of Grief atau yang akrab dikenal sebagai Sumur Doa.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Di sekeliling dinding silinder yang gelap ini, tertulis ribuan nama korban tsunami yang berhasil diindentifikasi. Ketika saya mendongak ke atas, cahaya matahari masuk melalui celah lingkaran di ujung cerobong yang tinggi, di mana terdapat kaligrafi bertuliskan lafaz "ALLAH" Berdiri ditengah ruangan ini sembari mendengar sayup-sayup lantunan  ayat suci dan syalawat menciptakan rasa haru yang luar biasa. Ini adalah tempat yang sempurna utnuk mengheningkan cipta dan mengirimkan doa bagi mereka yang telah tiada.

Perjalanan emosiaonal ini tidak berakhir pada kesedihan. Setelah melewati ruang kenangan yang berisi foto-foto pasca bencana dan artefak yang tersisa saya di tuntun menuju Space of Hope (Jembatan Perdamaian).

"Koleksi: Misbah Moerad"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2