Bagi para petani maupun pegiat urban farming, inovasi ini tentu sangat menarik. Biaya produksi menjadi lebih hemat karena bahan bakunya tersedia melimpah di sekitar kita.
Rumah tangga, pedagang gorengan, penjual jus, hingga industri olahan pisang semuanya menghasilkan kulit pisang yang bisa dimanfaatkan kembali.
Lebih jauh lagi, inovasi ini membuka peluang ekonomi baru.
Kelompok masyarakat dapat memproduksi pupuk organik cair dalam skala kecil sebagai produk bernilai jual.
Dengan pengemasan yang baik dan edukasi yang tepat, limbah kulit pisang bukan lagi dianggap sampah, melainkan bahan baku usaha ramah lingkungan.
"Dalang Mbah Kusang" juga mengajarkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit ataupun biaya mahal.
Berawal dari kebiasaan sederhana memilah sampah organik di rumah, masyarakat sudah ikut mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat bagi pertanian.
Ke depan, gerakan seperti ini layak dikembangkan di sekolah, komunitas, kelompok tani, maupun lingkungan permukiman.
Edukasi mengenai pemanfaatan limbah organik perlu terus diperluas agar semakin banyak masyarakat memahami bahwa setiap sampah memiliki potensi apabila dikelola dengan benar.
Pada akhirnya, kulit pisang bukan sekadar sisa makanan.
Di tangan yang kreatif, limbah tersebut dapat menjadi pupuk organik yang menyuburkan tanaman, memperbaiki kualitas tanah, mengurangi pencemaran lingkungan, sekaligus mendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan.
"Dalang Mbah Kusang" menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, yaitu mengubah limbah menjadi berkah bagi bumi dan generasi masa depan.