Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

Kompasianer Terpopuler 2024 - 2025 Kompasiana Award Pelestari 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

"Dalang Mbah Kusang" Solusi Sampah Organik Ramah Lingkungan Berkelanjutan

8 Juli 2026   18:50 Diperbarui: 8 Juli 2026   18:50 105 9 1



"Dalang Mbah Kusang" (Daur Ulang Limbah Kulit Pisang): Solusi Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan

Siapa sangka, kulit pisang yang biasanya langsung masuk ke tempat sampah ternyata menyimpan potensi besar untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan. 

Di balik tampilannya yang sederhana, limbah organik ini mengandung berbagai unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman. 

Dari sinilah lahir gagasan "Dalang Mbah Kusang", sebuah inovasi daur ulang limbah kulit pisang menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos sebagai bagian dari gerakan pertanian berkelanjutan.

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil pisang terbesar di dunia.

Hampir setiap hari masyarakat mengonsumsi pisang, baik dalam bentuk buah segar maupun aneka olahan seperti keripik, sale, pisang goreng, bolu, hingga berbagai makanan tradisional. 

Sayangnya, kulit pisang yang jumlahnya cukup banyak sering kali hanya dianggap sebagai limbah.

Padahal, jika dikelola dengan benar, limbah tersebut dapat berubah menjadi sumber nutrisi alami bagi tanaman. 

Inilah konsep ekonomi sirkular yang sederhana tetapi memiliki dampak besar, yaitu mengubah sampah menjadi sumber daya yang kembali bermanfaat.

Data Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) menunjukkan bahwa pada tahun 2026 volume timbulan sampah di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 71 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 39% - 45% masih didominasi oleh sampah organik atau sisa makanan. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi pengelolaan sampah organik masih sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Kulit pisang menjadi salah satu bagian dari limbah organik yang jumlahnya terus bertambah setiap hari.

Bila hanya dibuang ke tempat pembuangan akhir, limbah ini akan mengalami pembusukan dan menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. 

Sebaliknya, apabila difermentasi menjadi pupuk organik cair atau diolah menjadi kompos, manfaatnya justru sangat besar bagi lingkungan maupun sektor pertanian.

Secara alami, kulit pisang mengandung berbagai unsur hara penting seperti magnesium, natrium, sulfur, fosfor sekitar 2,06%, serta kalium dalam jumlah yang cukup tinggi.

Kalium berfungsi memperkuat batang tanaman, membantu pembentukan bunga dan buah, serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit. 

Kandungan fosfor juga berperan penting dalam pertumbuhan akar dan perkembangan jaringan tanaman.

Proses pembuatan pupuk organik cair dari kulit pisang pun relatif mudah dilakukan oleh masyarakat.

Langkah pertama adalah mengumpulkan kulit pisang yang masih segar, kemudian dipotong kecil-kecil agar proses fermentasi berlangsung lebih cepat. 

Setelah itu, masukkan ke dalam wadah tertutup dan tambahkan air bersih, gula merah atau molase sebagai sumber makanan mikroorganisme, serta bioaktivator seperti EM4. 

Seluruh bahan diaduk hingga merata, lalu wadah ditutup rapat.

Fermentasi berlangsung sekitar 10 hingga 14 hari. Selama proses tersebut, wadah sebaiknya dibuka sesekali untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi. 

Setelah aroma berubah menjadi asam manis dan tidak lagi berbau busuk, cairan disaring. Hasil saringan itulah yang menjadi pupuk organik cair. 

Sebelum digunakan, POC cukup diencerkan menggunakan air agar aman bagi tanaman.

Sementara itu, ampas kulit pisang yang tersisa tidak perlu dibuang. Bahan tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai kompos atau dicampurkan ke media tanam sehingga tidak ada limbah yang terbuang percuma. 

Prinsip inilah yang menjadi semangat "Dalang Mbah Kusang", yakni mengolah seluruh bagian limbah agar memiliki nilai guna baru.

Penggunaan pupuk organik cair dari kulit pisang juga memberikan banyak manfaat.

Selain menambah unsur hara tanah, POC membantu meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan menjaga kesuburan tanah secara alami. 

Struktur tanah menjadi lebih gembur, kemampuan menyimpan air meningkat, dan kebutuhan pupuk kimia dapat dikurangi secara bertahap.

Bagi para petani maupun pegiat urban farming, inovasi ini tentu sangat menarik. Biaya produksi menjadi lebih hemat karena bahan bakunya tersedia melimpah di sekitar kita. 

Rumah tangga, pedagang gorengan, penjual jus, hingga industri olahan pisang semuanya menghasilkan kulit pisang yang bisa dimanfaatkan kembali.

Lebih jauh lagi, inovasi ini membuka peluang ekonomi baru.

Kelompok masyarakat dapat memproduksi pupuk organik cair dalam skala kecil sebagai produk bernilai jual. 

Dengan pengemasan yang baik dan edukasi yang tepat, limbah kulit pisang bukan lagi dianggap sampah, melainkan bahan baku usaha ramah lingkungan.

"Dalang Mbah Kusang" juga mengajarkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit ataupun biaya mahal.

Berawal dari kebiasaan sederhana memilah sampah organik di rumah, masyarakat sudah ikut mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat bagi pertanian.

Ke depan, gerakan seperti ini layak dikembangkan di sekolah, komunitas, kelompok tani, maupun lingkungan permukiman. 

Edukasi mengenai pemanfaatan limbah organik perlu terus diperluas agar semakin banyak masyarakat memahami bahwa setiap sampah memiliki potensi apabila dikelola dengan benar.

Pada akhirnya, kulit pisang bukan sekadar sisa makanan.

Di tangan yang kreatif, limbah tersebut dapat menjadi pupuk organik yang menyuburkan tanaman, memperbaiki kualitas tanah, mengurangi pencemaran lingkungan, sekaligus mendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan. 

"Dalang Mbah Kusang" menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, yaitu mengubah limbah menjadi berkah bagi bumi dan generasi masa depan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3