Sederhananya, wick system adalah teknik menyalurkan air dari wadah penampung menuju media tanam menggunakan seutas sumbu.
Sumbu tersebut dapat dibuat dari kain flanel, tali katun, kain bekas, atau bahan lain yang mudah menyerap air. Air akan naik secara perlahan melalui proses kapilaritas hingga mencapai akar tanaman sesuai kebutuhan tanaman tersebut.
Menariknya, tanaman hanya akan mengambil air ketika media tanam mulai mengering.
Artinya, air tidak terbuang sia-sia karena mengalir terus-menerus. Inilah yang membuat sistem ini jauh lebih efisien dibandingkan penyiraman manual setiap hari.
Cara membuatnya pun sangat sederhana.
Siapkan botol plastik bekas ukuran 1,5 liter, lalu potong menjadi dua bagian. Bagian bawah digunakan sebagai tempat penampung air, sedangkan bagian atas dibalik sehingga membentuk corong sebagai pot tanaman.
Lubangi tutup botol, kemudian masukkan sumbu melalui lubang tersebut hingga menjuntai ke dalam wadah air. Setelah itu isi media tanam, tambahkan bibit tanaman, lalu isi wadah bawah dengan air bersih.
Dalam beberapa hari, sumbu akan terus mengalirkan air ke media tanam tanpa bantuan pompa maupun listrik. Sangat sederhana tetapi efektif.
Tanaman yang cocok menggunakan sistem ini cukup beragam. Sayuran daun seperti kangkung, bayam, sawi, selada, pakcoy, dan seledri dapat tumbuh dengan baik.
Begitu pula tanaman herbal seperti mint, kemangi, daun bawang, dan oregano. Bahkan beberapa tanaman hias berukuran kecil juga dapat memanfaatkan sistem ini.
Salah satu keunggulan utama wick system adalah hemat air.
Dibandingkan penyiraman biasa yang sering menyebabkan air mengalir keluar pot, wick system hanya menyalurkan air sesuai kebutuhan tanaman. Hal ini sangat membantu terutama pada musim kemarau ketika ketersediaan air mulai berkurang.
Selain itu, sistem ini juga sangat cocok bagi pemula yang baru belajar berkebun.
Tidak diperlukan pompa air, instalasi rumit, maupun biaya mahal. Semua bahan bisa diperoleh dengan mudah bahkan memanfaatkan barang bekas yang ada di rumah.