Selamat pagi, Cibodas! Rasanya seperti pulang ke rumah kedua setiap kali kami melangkahkan kaki ke sini. Hari ini bukan sekadar liburan biasa-ini adalah kunjungan kami yang kelima ke tempat yang selalu menyimpan cerita hangat tentang keluarga kami. Kali ini, kami tak hanya kembali menikmati pemandangan yang tak pernah bosan dipandang, tapi juga mencoba suasana baru di area perkemahannya, sambil berkeliling menikmati setiap sudut keindahan yang ditawarkan Taman Nasional Cibodas.
Dulu, saat pertama kali kami menginjakkan kaki di sini, rasanya baru kemarin lho. Waktu itu saya baru saja ditugaskan ke Jakarta, dan anak-anak masih sangat kecil. Si sulung masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sementara si bungsu bahkan masih bayi, harus digendong sepanjang jalan. Kunjungan kedua, suasana sudah berubah sedikit-si sulung sudah masuk SMP, si nomor dua masih SD, dan si kecil mulai bisa berlari kecil di sela-sela taman. Setiap kali datang, Cibodas selalu menjadi saksi tumbuh kembang mereka, saksi bagaimana langkah kaki kecil itu perlahan menjadi langkah yang tegap dan mandiri.

Dan hari ini, di kunjungan kelima ini, suasana kami sedikit berbeda. Si sulung tak bisa ikut-sedang asyik berkeliling Bandung bersama istri dan anak-anak mereka, melanjutkan tradisi berkeliling alam yang dulu kami tanamkan bersama. Maka hari ini yang hadir adalah saya, istri tercinta, serta dua putri kami yang kini sudah tumbuh dewasa. Si nomor dua baru saja menyelesaikan studi S1-nya, dan si bungsu yang sedang berkuliah di Universitas Brawijaya Malang kebetulan sedang liburan dan bisa ikut merasakan sejuknya udara pegunungan ini.
Sepanjang jalan kami tertawa sendiri mengingat masa-masa lalu. "Ingat nggak Pa? Dulu Mbak putri pernah tersesat sebentar di dekat kolam ikan?" tanya istri sambil terkekeh. "Ah itu sih masih mending Mah, daripada yang bungsu dulu sampai tertidur pulas di pundak Ayah padahal lagi mendaki jalan setapak," jawab saya, membuat si bungsu tersipu malu sambil tertawa. Kami bercerita tentang betapa dulu kami harus membawa banyak perlengkapan bayi, tas yang penuh dengan susu, popok, dan mainan kecil. Kini tas kami jauh lebih ringan-hanya berisi air minum, camilan, dan tentu saja kamera untuk mengabadikan momen kebersamaan kami yang tak ternilai ini.

Kami berkeliling menyusuri jalan setapak yang dulu pernah kami lewati berkali-kali. Pohon-pohon besar yang dulu terasa begitu tinggi bagi anak-anak kini terasa seolah ikut tumbuh bersama mereka. Udara yang sejuk dan segar langsung menyapa wajah, seolah menyapu bersih segala kelelahan dari hiruk-pikuk kota. Area perkemahan yang baru kami coba rasanya begitu tenang, dikelilingi hamparan hijau yang luas-cocok sekali untuk duduk santai sambil berbincang tanpa gangguan suara kendaraan atau notifikasi gawai. Kami duduk beralaskan alas, menikmati camilan sederhana sambil mengobrol tentang rencana masa depan, tentang kenangan-kenangan lucu yang tak pernah habis diceritakan ulang.
Cibodas tak pernah berubah keindahannya, namun ia selalu menyambut kami dengan suasana yang berbeda setiap kali kami datang. Ia adalah saksi bisu bagaimana waktu berlalu, bagaimana anak-anak kecil kami perlahan menjadi orang dewasa yang mandiri, dan bagaimana ikatan kasih sayang keluarga kami semakin erat terjalin di tengah keindahan alamnya.

Untuk Anda yang sedang mencari tempat untuk melepas penat, merajut kembali kebersamaan dengan keluarga, atau sekadar ingin menghirup udara segar yang murni: Cibodas selalu menanti Anda.
Baik Anda ingin mencoba pengalaman berkemah seru di tengah alam, atau sekadar berjalan santai menikmati sejuknya udara Puncak sambil melihat keindahan taman yang asri-semuanya bisa Anda temukan di sini. Datanglah bersama orang-orang terkasih, buatlah cerita indah Anda sendiri seperti yang selalu kami lakukan. Siapa tahu, tempat ini pun akan menjadi saksi berharga bagi perjalanan keluarga Anda, seperti halnya bagi kami.